Perwira TNI-AU Penganiaya Jurnalis Peliput Hercules Harus Diproses

WOL Photo

MEDAN, WOL – Kekerasan terhadap wartawan kembali berulang, dan lagi-lagi dilakukan oleh institusi militer. Yoga Syahputra Simorangkir, Wartawan TV One diusir dan ditendang disertai pemukulan oleh seorang perwira TNI AU berpangkat Mayor.

Kejadian ini berawal ketika Yoga Syahputra Simorangkir dan beberapa wartawan lainnya mengambil gambar pesawat Hercules yang terbakar dan porak porandanya beberapa gedung  pada peristiwa jatuhnya pesawat Hercules C-130 nomor A-1310 di Jalan Djamin Ginting, Padang Bulan, Selasa (30/6).

Pengambilan gambar dilakukan diluar batas police line, dan salah seorang Perwira TNI AU bernama Mayor Andi melarang mengambil gambar. Namun karena diluar police line wartawan tidak menghiraukan larangan, lalu Yoga yang sedang meliput bertanya “Kami kan meliput di luar police line, kenapa Bapak (Andi) larang kami?”.

Mendengar pertayaan Yoga tersebut, Mayor Andi marah dan menendang perut dan paha Yoga, hingga terjadi cek-cok mulut antara awak media dengan Mayor Andi.

Direktur LBH Pers Padang Roni Saputra, SH dalam keterangan tertulisnya mengatakan, tindakan Mayor Andi, tidak dapat ditolelir, karena Yoga Syahputra dan awak media lainnya melakukan peliputan kejadian dan proses peliputanpun dilakukan pada batas aman, yaitu di luar police line.

Advertisement

“Sehingga tidak ada alasan untuk melakukan pelarangan liputan. Selain itu tindakan menendang wartawan jelas merupakan tindak pidana yang harus diproses melalui jalur hukum, apalagi tindakan tersebut dilakukan oleh seorang perwira TNI AU, tentu ini adalah tindakan yang cukup memalukan institusi,” sebutnya.

Dikatakan, sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi manusia, terhadap pers tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran, bahkan pemerintah melalui UU No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers memberikan hak untuk mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

Sesuai dengan Pasal 18 ayat (1) UU Pers, bahwa “setiap perbuatan melawan hukum dan dengan sengaja melakukan perbuatan yang berakibat menghambat atau menghalang-halangi pelaksanaan ketentuan pekerjaan jurnalistik dipidana dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500 Juta”. Selain itu, tindakan Mayor Andi menendang perut dan paha Yoga, juga dapat dikategorikan sebagai tindakan penganiayaan, sebagaimana diatur dalam Pasal 351 KUHP.

Tindakan emosional dan sewenang-wenang sebagaimana diperlihatkan oleh Mayor Andi terhadap wartawan yang melakukan tugas-tugas jurnalistik tidak dapat dibiarkan, dan harus diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Untuk itu, LBH Pers Padang mendesak mendesak POM AU melakukan pemeriksaan dengan segera dan tanpa memberikan hak istimewa terhadap Mayor Andi yang diduga telah melakukan  tindak pidana pengusiran dan penganiayaan terhadap Yoga Syahputa (Wartawan TV One).

Mendesak POM AU untuk tidak saja menggunakan Pasal 351 KUHP untuk menjerat perbuatan Mayor Andi, tetapi juga menggunakan Pasal 18 ayat (1) UU Pers, sebagai lex specialis atas kasus-kasus pers.

Mendesak Panglima TNI untuk melakukan melakukan pengawasan terhadap proses hukum terkait dengan tindakan sewenang-wenang yang diduga dilakukan oleh Mayor Andi.

Proses hukum atas kasus pengusiran dan tindakan penganiayaan yang diduga dilakukan oleh Mayor Andi harus dilakukan secara terbuka.

Yoga sendiri kepada media di Medan mangatakan, saat pengambilan gambar sesaat terjadinya kecelakaan pesawat Hercules tersebut, awak media melakukan gambar dari area publik dan tidak di area militer.

Diakuinya, kasus ini akan dilaporkan ke KSAU dan Dewan Pers.

Berdasarkan catatan LBH Pers, peristiwa yang serupa juga pernah terjadi di Pekan baru, Didik Herwanto (Fotografer Riau Pos) yang mengambil gambar Pesawat Tempur Hawk 200 yang jatuh dipukul dan dianiaya oleh  oknum perwira TNI AU. (wol)