Kapan Bangunan Rusak Tertimpa Hercules Direnovasi?

WOL Photo/Ega Ibra
Iklan

MEDAN, WOL – Hampir Seminggu pasca Jatuhnya pesawat Hercules C-130 milik TNI Angkatan Udara yang jatuh di Jalan Jamin Gintings Medan, Selasa (30/6) lalu, hingga kini nasib bangunan yang hancur ditimpa pesawat belum juga diperbaiki.

“Belum ada juga perbaikan terhadap bangunan yang hancur dan rusak akibat tertimpa pesawat hercules tersebut dari pihak yang bertanggung jawab,” ujar Suwondo pengelola Hotel Braspati yang juga hotel tempatnya bekerja mengalami kerusakan.

Suwondo mengatakan, bangunan-bagunan yang hancur tertimpa badan pesawat Hercules tersebut meliputi, Ruko Royal Gardenia, Panti pijat BS Oukup, dan Hotel Braspati serta beberapa rumah warga yang rusak terkena puing-puing pesawat.

“Ditaksir kerugian dari ketiga bangunan yang hancur tersebut mencapai miliaran rupiah. Sebab seluruhnya hancur tertimpa badan pesawat tersebut,” sebutnya, Senin (6/7).

Selain bangunan yang hancur, pesawat juga menghantam tower radio yang ada di gedung Bethany, dan satu unit Toyota Fortuner yang hangus terbakar, diketahui milik pengembang Ruko Royal Gardenia.

iklan

“Hingga saat ini, kami dari warga sekitar belum didatangi pihak TNI- AU untuk membicarakan mengenai ganti rugi. Padahal sudah hampir seminggu pasca jatuhnya pesawat tersebut,” aku Suwondo.

Disinggung mengenai ganti rugi tersebut, Suwondo berharap pihak TNI-AU segera melakukan perbaikan terhadap rumah dan bangunan yang hancur tertimpa badan pesawat dan kena puing-puing pecawan pesawat. “Kami minta kepada pihak TNI-AU untuk segera melakukan perbaikan terhadap rumah kami yang hancur,” pintanya.

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Agus Supriatna mengungkapkan, akan menanggung seluruh biaya ganti rugi kerusakan bangunan yang ada di lokasi kejadian.

“Semua biaya ganti rugi terhadap bangunan dan fasilitas yang hancur karena tertimpa badan pesawat akan dipertanggungjawabkan,” ungkapnya kepada Waspada Online, saat menemui para keluarga korban penumpang pesawat Hercules C-130 di Posko Ante Mortem, Rumah Sakit Adam Malik, Jalan Bunga Low, Simpang Adam Malik, Kecamatan Medan Tuntungan, bersama rombongan, baru-baru ini.

Dikatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan para pemilik rumah serta mobil yang ada di lokasi saat peristiwa terjadi. “Itu jelas tanggung jawab kita, nanti itu ada ganti rugi, akan kita koordinasikan dengan pemilik rumah, termasuk mobil yang tertimpa,” katanya.

Selain pemilik bangunan, nantinya TNI Angkatan Udara juga memberikan bantuan terhadap keluarga prajurit TNI yang gugur dalam peristiwa tersebut.

Marsekal TNI Agus Supriatna mengungkapkan, pihaknya saat ini masih fokus untuk proses identifikasi para jasad korban yang saat ini ditangani oleh tim DVI. “Saat ini kita masih fokus untuk identifikasi korban. Untuk biaya ganti rugi saya sendiri yang akan menangungnya,” pungkasnya KSAU.

Komersialisasi Hercules
Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna mengaku bingung dengan adanya pengakuan keluarga korban jatuhnya pesawat Hercules yang mengatakan kerabatnya membayar untuk bisa naik pesawat Hercules. Dia sudah bertanya langsung pada beberapa pihak terkait pemberitaan ini.

“Saya bingung, saya tanya ke beberapa orang, bayar berapa, dijawab enggak ada,” ujar Agus kepada Metro TV, Rabu (1/7/2015).

Agus menjelaskan, warga sipil boleh menumpang Hercules asal dia adalah keluarga prajurit TNI. Penumpang sipil juga harus mengantongi izin dari keluarganya yang prajurit. “Misalnya si A atau si B keluarga dari sersan C. Baru bisa naik,” papar Agus.

Persoalannya, kata Agus, semua penumpang Hercules A1310 mengantongi izin. Karena tanpa izin petugas tidak akan menerbangkan warga sipil untuk terbang naik Hercules. Agus menduga ada oknum yang mengomersialisasi izin.

“Nah di sini jangan-jangan ada oknum. Kita akan cari oknumnya,” tukasnya.

Sebagaimana dikabarkan, beberapa keluarga penumpang korban jatuhnya pesawat Hercules C-13- di Jalan Jamin Ginting Medan, ada yang mengaku dikenakan biaya keberangkatan.

Sebagaimana yang dialami S. Sihombing,  bahwa keponakannya Ester Yosephine menjadi salah satu penumpang yang menjadi korban. Gadis yang duduk di kelas III SMA Ignatius itu menumpangi Hercules bersama bersama anggota keluarga lainnya, Yunita Sihombing, siswi kelas II SMP.

Kedua keponakannya yang merupakan kaka beradik itu bermaksud akan mengunjungi ayahnya yang bertugas sebagai Babinsa di Kabupaten Natuna. Untuk perjalanan tersebut, keduanya membayar biaya dengan total Rp1.600.000 atau masing-masing senilai Rp800.000.

“Naik pesawat komersil satu jutaan satu orang, mahal. Makanya mereka naik pesawat tersebut,” ujar Sihombing di IGD RSUP H. Adam Malik. (wol/Lvz)

Editor: Agus Utama

Iklan