Beranda Fokus Redaksi DPRD Sumut: Presiden Harus Copot KSAU

DPRD Sumut: Presiden Harus Copot KSAU

0
DPRD Sumut: Presiden Harus Copot KSAU
WOL Photo

MEDAN, WOL – DPRD Sumatera Utara meminta pemerintah Republik Indonesia untuk mengkategorikan tragedi jatuhnya pesawat Hercules C-130 milik TNI Angkatan Udara di Medan sebagai tragedi nasional. Hal ini dikarenakan peristiwa tersebut terjadi pada alat negara yang sangat vital.

Anggota Komisi A DPRD Sumatera Utara bidang pemerintahan, Sutrisno Pangaribuan menilai kondisi pertahanan Indonesia masih sangat memprihatinkan terlebih dengan adanya peristiwa yang merenggut 101 nyawa penduduk sipil dan 12 prajurit TNI itu.

“Ada pernyataan bahwa usia pesawat tidak berkaitan dengan keselamatan penumpang. Artinya, meskipun usia pesawat tersebut sudah 51 tahun, tapi kalau perawatannya bagus, maka tidak ada sama sekali. Ini sangat tidak logis. Dari sisi peralatan saja sudah diragukan,” katanya, Kamis (2/7).

Ia juga menyayangkan kondisi ini terjadi pada saat negara sudah memberi kepercayaan dan menaruh harapan terhadap TNI, khususnya TNI AU. Sutrisno mengatakan, naiknya penumpang sipil ke pesawat militer yang diperuntukkan untuk mengangkut logistik pertahanan itu bukan merupakan hal yang baru.

“KSAU (Kepala Staf TNI Angkatan Udara, red) tentu menyadari ada masalah dalam tubuh TNI AU, termasuk pesawat ini. Atas kondisi ini, sebagai prajurit yang gentleman, seharusnya KSAU harus menyatakan mundur. Atau kita akan merekomendasikan Presiden untuk mencopot dari jabatannya,” tegas politisi PDI Perjuangan ini.

Ia juga menyangsikan adanya pendapat yang menyebutkan bahwa pengenaan tarif kepada penumpang pesawat Hercules merupakan upaya peningkatan kesejahteraan para prajurit. Sutrisno justru mempertanyakan bagaimana mekanisme pemungutan biaya serta peruntukan biaya itu.

“Kalau itu dikaitkan dengan kesejahteraan prajurit, tidak ada korelasinya. Kita memang mendukung peningkatan kesejahteraan prajurit, tapi itu bukan cara satu-satunya,” imbuhnya.

Pihaknya juga merekomendasikan penambahan anggaran peremajaan peralatan pertahanan negara kepada pemerintah melalui Komisi I DPR RI. Hal ini dimaksudkan agar peralatan pertahanan tidak lagi menggunakan barang yang sudah melampaui batas umur pakai.

“Oleh karena itu, saya ulangi sekali lagi, TNI AU harus jujur. Kalau memang ada praktik bisnis, mereka harus mengakui kalau ada oknum-oknum yang menjalankan ini secara sistematis,” tegas Sutrisno.

Komersialisasi Pesawat TNI

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna mengaku bingung dengan adanya pengakuan keluarga korban jatuhnya pesawat Hercules yang mengatakan kerabatnya membayar untuk bisa naik pesawat Hercules. Dia sudah bertanya langsung pada beberapa pihak terkait pemberitaan ini.

“Saya bingung, saya tanya ke beberapa orang, bayar berapa, dijawab enggak ada,” ujar Agus kepada awak media, Rabu (1/7).

Agus menjelaskan, warga sipil boleh menumpang Hercules asal dia adalah keluarga prajurit TNI. Penumpang sipil juga harus mengantongi izin dari keluarganya yang prajurit. “Misalnya si A atau si B keluarga dari sersan C. Baru bisa naik,” papar Agus.

Persoalannya, kata Agus, semua penumpang Hercules A1310 mengantongi izin. Karena tanpa izin petugas tidak akan menerbangkan warga sipil untuk terbang naik Hercules. Agus menduga ada oknum yang mengomersialisasi izin.

“Nah di sini jangan-jangan ada oknum. Kita akan cari oknumnya,” tukasnya.

Sebagaimana dikabarkan, beberapa keluarga penumpang korban jatuhnya pesawat Hercules C-13- di Jalan Jamin Ginting Medan, ada yang mengaku dikenakan biaya keberangkatan.

Sebagaimana yang dialami S. Sihombing,  bahwa keponakannya Ester Yosephine menjadi salah satu penumpang yang menjadi korban. Gadis yang duduk di kelas III SMA Ignatius itu menumpangi Hercules bersama bersama anggota keluarga lainnya, Yunita Sihombing, siswi kelas II SMP.

Kedua keponakannya yang merupakan kaka beradik itu bermaksud akan mengunjungi ayahnya yang bertugas sebagai Babinsa di Kabupaten Natuna. Untuk perjalanan tersebut, keduanya membayar biaya dengan total Rp1.600.000 atau masing-masing senilai Rp800.000.

“Naik pesawat komersil satu jutaan satu orang, mahal. Makanya mereka naik pesawat tersebut,” ujar Sihombing di IGD RSUP H. Adam Malik.

Sedikit berbeda dengan A. Sihombing. Dia mengaku dikenakan biaya hingga Rp900.000 untuk keberangkatan anggota keluarganya ke Natuna. A Sihombing memastikan keponakanya yang bernama Risma Purba menjadi salah satu penumpang pesawat Hercules C-130 yang jatuh di Jalan Jamin Ginting Km 10, Selasa (30/6) sekira pukul 11.30 Wib.

Pesawat Hercules C-130 A1310 milik TNI AU yang membawa 122 penumpang jatuh di Jalan Letjen Jamin Ginting, Padang Bulan, Medan, Sumatera Utara, Selasa 30 Juni. Pesawat buatan 1964 itu jatuh sekitar pukul 11.48 WIB atau dua menit setelah lepas landas dari Pangkalan Udara Soewondo, Kota Medan. (wol/ags/data1)

Penulis: CAESSARIA INDRA DIPUTRI
Editor: SASTROY BANGUN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here