Samad: Ini Bagian dari Kriminalisasi

WOL Photo/Ega Ibra

JAKARTA, WOL – Ketua non-aktif KPK Abraham Samad memenuhi panggilan Bareskrim Polri. Samad yang mengenakan kemeja hitam bermotif garis putih ini tiba sekira pukul 10.28 WIB.

Samad mengaku tak mengerti maksud pemanggilan ini. “Saya menganggap ini adalah sebuah rekayasa, saya menganggap kasus yang menimpa saya ini adalah bagian dari kriminalisasi,” kata Samad ketika tiba di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (24/6).

Meski begitu, Samad yang didampingi pengacaranya Saor Siagian dan Bahrain ini tak mau menjadi warga negara yang ingkar. Ia hanya ingin mematuhi hukum yang berlaku di negeri ini.

“Yaitu harus patuh dengan panggilan ini, sehingga hari ini saya datang di panggilan tersebut,” tegas Samad.

Pria yang diperiksa penyidik terkait kasus ‘Rumah Kaca’ ini menilai apa yang dimuat dalam surat panggilan sama sekali tak berdasar. Hal yang dipersangkakan kepada dirinya dinilai tak memiliki dasar hukum. Samad disangka menyalahgunakan wewenang sebagai Ketua KPK.

Advertisement

Sebelumnya, Pengacara Samad, Saor Situmorang mengatakan, kliennya dipanggil guna diperiksa sebagai tersangka dalam kasus penyalahgunaan kekuasaan atas laporan Direktur Eksekutif KPK Watch Indonesia, M Yusuf Sahide, Kamis 22 Januari silam ke Mabes Polri.

Berdasarkan laporan dalam surat pengaduan bernomor LP/75/I/2015/Bareskrim yang dilayangkan pada Jumat 22 Januari 2015, Yusuf menyebut Abraham Samad menjanjikan kemudahan perkara hukum yang tengah disidik KPK berkaitan dengan Emir Moeis, politikus PDI Perjuangan.

Laporan ini berbekal dua saksi, yakni Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan pengacaranya, serta tulisan berjudul ‘Rumah Kaca Abraham Samad’ di sebuah blog. Hasto Kristiyanto mengaku sudah bertemu Samad sebanyak enam kali. Di pertemuan awal, Hasto mengaku kaget.

Itu karena Samad mengatakan berkat dirinya, hukuman seorang kader PDI Perjuangan yang terjerat kasus korupsi relatif ringan. Diduga yang dimaksud Samad adalah Emir Moeis yang divonis tiga tahun penjara.

“Ada saksi hidup yang menyertai saya. (Mendengar pernyataan Samad itu) ada kekagetan dalam diri saya,” kata Hasto kepada Metro TV, Kamis 22 Januari lalu. (metrotvnews/data2)