Pembubaran Petral Dicurigai Bentuk Mafia Baru

Istimewa
Iklan

JAKARTA, WOL – Pembubaran Petral yang merupakan anak perusahaan Pertamina di Luar Negeri oleh Direktur Pertamina atas perintah Menteri BUMN patut dicurigai adanya agenda besar untuk memindahkan penguasaan import BBM dan crude oil dari group mafia migas yang lama ke group mafia migas berkedok Trisakti dan Nawacita.

Menurut Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu dalama keterangan tertulisnya, hari ini, sangat jelas dan kasat mata kalau ditarik benang merah terkait pembubaran Petral dikomandoi oleh kakak  Menteri BUMN Rini Sumarno yaitu Arie Sumarno yang juga  mantan Dirut Pertamina dan pengagas ISC (Integrated Supply Chain) Pertamina dan juga mantan Direktur Utama (Dirut) Petral dan  mantan  Ketua Kelompok Kerja Energi dan Anti Mafia Minyak dan Gas (Migas oleh Tim Transisi Jokowi-JK).

Ditambah lagi ISC Pertamina dulu pernah dipimpin oleh Sudirman Said yang sekarang menjabat sebagai Menteri ESDM ,Bisa jadi Pembubaran Petral lebih pada pembetukan oligarki mafia Migas baru di ISC nantinya

karena itu, Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu menilai, pembubaran Petral cuma akal-akalan para mafia migas yang ada disekeliling Jokowi yang nanti juga akan lebih merugikan negara dan masyarakat.

“Kalau dari dulu Petral memang sarang   mafia Migas yang telah merugikan negara berarti Ari Sumarno yang pernah memimpin Petral juga diduga terlibat dalam pusaran mafia Migas tersebut,” sebut mereka.

iklan

Ada kabar yang tak sedap bahwa dibubarkannya Petral lebih dilandasi oleh subjektivitas kepentingan para pemain/trader  migas dan brokernya yang ada di pusaran kekuasaan Jokowi yang pada saat pilpres banyak mengelontorkan Dana kampanye bagi Jokowi – JK.

Karena dengan masih dikuasainya Petral oleh para trader-trader dan mafia migas era sebelum Jokowi sangat tidak mungkin para donatur Jokowi yang berbisnis import BBM Dan Crude Bisa masuk dan bersaing untuk menyuplly BBM dan Crude Oil ke Petral.

“Sudah tiga bula Pertamina lewat ISC sudah tidak memesan pasokan import BBM dan Crude Oil dari Petral yang katanya dapat menghemat sebesar 22 juta dollar, artinya membeli BBM atau crude oil  dari Petral ataupun tidak semua bergantung pada Manajemen Pertamina. Dan selama 3 bulan Petral juga melakukan transaksi bisnis dengan perusahaan di luar negeri yang sudah tentu menghasilkan keuntungan ,dimana keuntungannya akan transfaran karena Petral adalah perusahaan yang beroperasi dan berdiri di Singapore yang berbadan hukum Singapore.”

Mereka menyebut, Petral tidak perlu dibubarkan justru Petral bisa dijadikan vehicle bisnis di luar negeri untuk mengembangkan bisnis pertambangan minyak dan trading serta pembelian kilang bilang minyak di luar negeri seperti yang dilakukan Oleh Petronas dan Temasek.

Patut disayangkan Jokowi menyerahkan begitu saja  ke keluarga Besar Sumarno untuk mengelolah dan meyusun tata niaga bahan Bakar minyak yang akan berdampak menimbulkan mafia baru yang akan bermain di ISC Pertamina.

FSP BUMN Bersatu juga mendesak Jokowi untuk menolak pembubaran petral dan segera menangkap para mafia migas yang ada di Petral selama ini.

Selain itu juga dengan status Indonesia yang sudah menjadi Negara importir BBM Dan Crude oil sebaiknya segera mengubah mindset usaha sektor energi nasional dengan membangun refinery di banyak tempat di Indonesia.

FSP BUMN Bersatu juga menghimabau agar FSP Pertamina untuk menolak Pembubaran Petral Karena akan mengurangi pendapatan laba Pertamina, Petral tidak sama dengan bank Indoover milik Bank Indonesia di Belanda yang dibubarkan Karena memang merugi.(wol/data1)

Iklan