Masalah SDM Jadi Kendala Pariwisata Hadapi MEA

KONVENSI MICE: Ketua PHRI Sumut Denny S Wardhana, Ketua INCCA Sumut Didit Mahadi Kadar, Ketua Asperapi Sumut Sofyan Nasution dan pengamat ekonomi USU Wahyu Ario Pratomo dalam konvensi MICE Industry overview 2015 di Politeknik Neger Medan menyatakan kendala SDM tantangan menghadapi MEA 2015.

MEDAN, WOL – Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir 2015, sektor pariwisata diketahui terkendala minimnya kualitas sumber daya manusia (SDM).

Hal itu terungkap dari pernyataan yang disampaikan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumut Denny S Wardhana, Ketua INCCA (Indonesia Congress and Convetion Association), Ketua Asosiasi Pameran dan Industri Sofyan Nasution serta pengamat ekonomi dari FE USU Dr. Wahyu Ario Pratomo dalam MICE Industry Overview 2015 yang digelar di gedung Z Politeknik Negeri Medan, Kamis (4/6).

Menurut Denny, saat ini sektor perhotelan misalnya menghadapi proses sertifikasi bertahap. “Sebelumnya dari Kementerian Pariwisata sudah mengungkap kalau Sumut akan mendapatkan jatah 1.000 orang tahun ini,” jelasnya.

Tapi persoalannya tidak mungkin semua pekerja di Sumut bisa dipacu mendapatkan sertifikasi tahun ini, kata Denny di konvensi yang dihadiri para mahasiswa dan dosen Politeknik Negeri dari beberapa kota di Indonesia tersebut.

“Kalau proses sertifikasi tidak dipercepat kita khawatir bahwa para pekerja asing yang akan menggantikan tenaga kerja kita,” kata Denny. Hal senada disampaikan Didit Mahadi Kadar. “Masalah SDM ini tetap akan jadi persoalan dalam industri Meeting Incentive Convention and Exhibition (MICE),” katanya.

Advertisement

“Misalnya kalau kita ingin menggelar event internasional di Medan. Tentu kita harus tenaga ahli yang sudah bersertifikasi. Kalau kualitas SDM kita tidak bersertifikasi atau levelnya tidak sama dengan standar internasional, proposal kita akan ditolak,” tuturnya.

Saat bidding internasional syarat utama adalah tenaga ahli dan alasan-alasan kenapa event itu harus dilakukan di Medan, misalnya, kata dia. “Ke depan kita berharap ada tenaga-tenaga ahli yang terus berkembang dan dibina sehingga persaingan ke depan bisa kita hadapi,” ujarnya.

Sementara Sofyan Nasution mengatakan dari sisi exhibition tenaga kerja bersertifikasi juga masih sulit dicari. “Kalau saya punya event, saat ini saya pasti cari orang yang bersertifikat. Tidak mudah lho mencari orang yang bisa bekerja di pameran dan bersertifikat. Industri MICE ini butuh tenaga-tenaga ahli. Butuh SDM berkualitas,” ujarnya.

Dia menyarankan agar perguruan tinggi dan akademi yang membina siswa untuk industri MICE melengkapinya dengan sertifikasi. “Silakan melamar pekerjaan di industri MICE kalau sudah punya sertifikat,” ungkapnya.

Pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi USU Wahyu Ario Pratomo menyatakan bahwa ke depan sektor industri masih memegang peranan penting terhadap GDP (gross domestic product).

Di dunia, saat ini kata dia, AS menjadi negara tujuan utama wisatawan. Negara ini sangat menarik orang asing karena banyak tempat untuk dikunjungi. “Paling tidak perlahan-lahan Indonesia harus meniru Amerika ini dari sisi pariwisata. Kita sekarang ada di nomor 17 sebagai tujuan wisata.”

Menurut dia, ada negara yang sektor pariwisata berkontribusi sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia sumbangan sektor pariwisata ini baru sekitar 9 persen. “Kalau soal daya saing pariwisata Indonesia terus membaik. Kita nomor empat di ASEAN yang diukur dari lingkungan, kebijakan pariwisata, infrastruktur serta alam dan budaya.” (wol/ags/data1)