Tim Ekonomi Jokowi Tidak Cakap

ISTIMEWA
Iklan

JAKARTA, WOL –  Pertumbuhan ekonomi pada triwulan 2015 hanya sebesar 4,7 persen, angka tersebut tidak sesuai dengan  pertumbuhan yang diasumsikan oleh pemerintah dalam APBN-P 2015  sebesar 5,7 persen. Angka tersebut merupakan pertumbuhan terendah sejak 2009.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai kinerja tim ekonomi Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK)  tidak cakap dan tidak seperti yang diharapkan, mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh di angka 4,7%. “Kecakapan tim ekonomi ini yang menjadi persoalan,” ujar Direktur Indef Enny Sri Hartati di kantor Indef, Jakarta, hari ini.

Menurutnya, tim ekonomi Jokowi selama ini tidak memiliki kalkulasi kebijakan ekonomi yang tepat untuk diterapkan. Hal ini mengakibatkan, kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah justru berdampak negatif bagi masyarakat.

“Ketidakadaan kalkulasi kebijakan ekonomi, ini malah memukul daya beli masyarakat. Kemudian memasang target yang ambisius,” imbuh dia.

Enny mengatakan sayangnya dari beberapa capaian eknomi selama triwulan I 2015 menujukkan perkembangan yang justru memburuk bahkan semakin kontradiktif dari visi Nawa Cita yang diusung oleh Pemerintahan Jokowi – Jusuf Kalla.

iklan

Menurut dia, program pembangunan Kabinet Kerja banyak yang bagus, hanya saja perencanaan yang disusun oleh tim Kabinet Kerja tidak dapat merealisasikan program tersebut.

“Banyak program yang bagus, seperti membangun Indonesia dari pinggiran, tapi ternyata apa yang diharapkan tidak sesuai kenyataan, daerah pinggiran dengan daerah pusat rentangnya semakin lebar,” jelas dia.

Menurut dia harusnya pada triwulan I ini Kabinet Kerja sudah menunjukkan kinerja seperti apa yang telah dijanjikan.

“Harusnya sesuai dengan visi Jokowi yaitu ‘Revolusi Mental’, kata revolusi berarti perubahan yang cepat, jadi seharusnya dalam enam bulan kepemimpinan ini Kabinet Kerja sudah dapat memenuhi janjinya,” kata Enny.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sofyan A. Djalil menampik bahwa situasi perekonomian global memang sedang sulit.

Menurutnya, bila semua orang tidak puas terhadap kinerja tim ekonomi di kabinet kerja itu wajar saja, karena pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,71 persen. Tetapi perlu digarisbawahi semua negara developing countries tumbuh melemah, di kawasan Asia Tenggara yang tumbuh lebih bagus di antara Indonesia hanya Vietnam dan Filipina. Vietnam basisnya kecil sementara Filipina karena besarnya Remitansi.

“Tetapi perlu digarisbawahi, ini baru kuartal I, masih ada 3 kuartal lagi dan kami sebagai tim ekonomi selalu berupaya keras. Dengan adanya percepatan infrastruktur dan anggaran sudah keluar, saya yakin semester kedua akan lebih baik, Implementasi dan realisasi program untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,7 persen akan dimonitor secara ketat, lagipula lambatnya pertumbuhan ekonomi pada kuartal I disebabkan anggaran pemerintah belum bisa terpakai, APBN Perubahan baru diketok pada akhir Januari dan proses administrasi penganggaran baru selesai April, Kita optimis perekonomian Indonesia akan segera membaik,” ujarnya hari ini kepada awak media.

Kritik juga datang dari pengamat dari Indef Ahmad Heri Firdaus. Dia menyarankan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat dengan berhenti mengutak-atik harga BBM, gas, listrik.

“Harga tersebut harus stabil, agar tidak terjadi inflasi yang mengakibatkan rendahnya daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat lambat laun tergerus oleh lonjakan harga dan depresiasi nilai tukar rupiah,” kata pengamat dari INDEF Ahmad Heri Firdaus, hari ini di Jakarta.

Perlambatan konsumsi masyarakat tersebut bermula dari kebijakan di awal pemerintahan yang tidak terkoordinatif dengan baik dalam menjaga komoditas kelompok harga yang diatur pemerintah ditambah dengan nilai tukar yang melemah.

“Harga BBM yang naik turun kemudian dimanfaatkan oleh pelaku ekonomi untuk menjustifikasi setiap kenaikan harga, akibatnya ketika BBM naik harga pasti naik, sementara BBM turun harga tidak turun,” kata Ahmad.

Pada saat yang hampir bersamaan harga gas elpiji dan harga listrik juga ikut naik, menurut dia, pada titik itu konsumsi masyarakat akan menurun sehingga permintaan produksi juga akan berkurang yang selanjutnya terefleksikan dari pertumbuhan ekonomi yang melemah. (wol/antara/indef/data2)

Iklan