Dinkes Medan Harus Tanggap Atasi Penyebaran HIV/AIDS

Ilustrasi

MEDAN, WOL – Pemerintah Kota Medan dinilai kurang peduli terhadap penanganan penyebaran virus Humman Immunodeficiency Virus (HIV) di Kota Medan. Pasalnya pengadaan obat infeksi menular seks, HIV/AIDS yang diajukan Dinas Kesehatan pada tahun 2014 hanya berbiaya Rp195 juta, dengan nomor rekening 1.02.1.02.01.22.90 untuk sekali pembelian.

Menurut anggota Komisi B DPRD Medan, Surianto menjelaskan, bahwa anggaran tersebut tidaklah cukup untuk mengatasi permasalahan ini. Sebab penyakit ini seperti fenomena gunung es. Yang muncul kepermukaan hanyalah nama virus tersebut, tetapi tidak pernah terfikirkan berapa jumlah penderitanya dan pola penyebarannya.

“Anggaran segitu mana bisa digunakan untuk menekan laju pertumbuhan virus HIV di Kota Medan. Satu penderita  AIDS saja membutuhkan biaya Rp1 juta per bulan. Cobalah Dinas Kesehatan memfokuskan pada penanganan penyebaran virus ini, bukan fokus pada pelatihan-pelatihan tenaga medis yang notabene-nya memiliki latar belakang medis,” ungkapnya kepada Waspada Online, Jumat (8/5), menyikapi laju penyebaran virus yang sudah menelan korban 4000-an orang.

Lebih lanjut politisi Gerindra ini menyebutkan, agar Pemerintah Kota Medan menggaet pihak swasta maupun Badan Usaha Milik Negara dalam kegiatan sosialisasi pencegahannya. Sebab kasus ini bukan hanya tanggungjawab Pemerintah melainkan semua elemen.

“Saya akan coba bicarakan informasi ini ditingkat Komisi B, agar bisa diajukan pada P-APBD 2015. Sehingga menjadi perhatian kita bersama. Jangan sampai peningkatan penyebarannya masiv, baru kita semua sadar,” pungkasnya.

Advertisement

Pada berita sebelumnya, Direktur Yayasan Galatea Medan, Badurani Lubis mengungkapkan, menurut data Komisi Penanggulangan AIDS, dari tahun 2006 sampai Desember 2014, sebanyak 4481 orang warga di Kota Medan terinfeksi HIV/AIDS. Hal itu membuktikan bahwa penyakit ini bisa menulari siapa saja, jika seseorang tersebut berprilaku beresiko tinggi.

“Virus ini tidak mengenal status sosial, siapa saja bisa kena. Untuk itulah sebagai pria berprilaku beresiko tinggi, pahami dan mengerti proses penyebaran virus tersebut,” ungkapnya saat memberikan materi pengenalan HIV/AIDS di depan belasan pria berprilaku beresiko tinggi yang digagas LSM H2O di Medan, Kamis (7/5).

Terkait penyebaran virus HIV, sambung Badurani, selain narkoba yang disuntikkan melalui darah, menggunakan jasa Wanita Pekerja Seks juga dapat menulari. Dan berdasarkan data yang diperoleh, pengguna jasa tersebut di dominasi oleh pria ber-istri. Penyebabnya yakni, kurang mandapatkan kepuasan seks dari pasangan mereka atau ingin mendapatkan variasi layanan yang berbeda.

“Dari data Survei Terpadu Biologis dan Prilaku tahun 2007, prevalensi HIV sebesar 0,2% dan tahun 2011 sebesar 1,3%. Tahun 2007 Pria resiko tinggi yang sudah menikah tahun 2011 sebesar 77% dan tahun 2011 sebesar 61%. Sementara yang tidak menggunakan kondom tahun 2007 sebesar 93% dan tahun 2011 sebesar 72%. Dengan kata lain, ada plus dan minusnya sosialisasi penyebaran virus HIV dikalangan masyarakat,” paparnya seraya menyebutkan ada peningkatan pemakaian kondom pada pria beresiko tinggi.

Untuk dipahami, yang harus dilakukan dalam pencegahan infeksi HIV & AIDS pada Lelaki Beresiko Tinggi (LBT) dengan pasangannya yakni, tidak berganti-ganti pasangan seksual, pakai kondom saat berganti pasangan seksual, melakukan tes HIV (VCT) agar bisa mencegah penularan pada istri dan bayi.(wol/muhammad rizki/data1)

Editor: SASTROY BANGUN