Tak Sesuai Euro 2, Pertalite Permainan Mafia

ISTIMEWA

JAKARTA, WOL – Komisi Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menilai rencana peluncuran produk Bahan Bakar Minyak (BBM) bernama Perlalite merupakan akal-akalan pemerintah dan PT Pertamina (Persero). Produk BBM baru itu belum sesuai rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas yang ingin menghilangkan pemburu rente atau mafia migas dalam pengadaan bahan bakar.

“Permainan mafia migas dugaan kami seperti itu. Karena ini kan instrumen sudah jelas sama saja dalam pengadaan BBM RON 88,” jelas Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Safrudin di Jakarta, hari ini.

Ia menjelaskan bahwa peluncuran produk BBM Pertalite terlalu dipaksakan. Menurut dia, karena BBM dengan oktan 90 tak sesuai dengan standar euro 2 dan  Pertamina dinilai tidak melaksanakan rekomendasi utama yang secara bertahap menghilangkan BBM RON 88 atau dikenal dengan nama Premium.

“Ini kenapa diputar-putar sedemikian rupa, jelas-jelas RON 90 tidak dibutuhkan dengan regulasi kita. Regulasi kita kan sudah jelas sudah masuk standar euro 2. Ini terlalu dipaksakan,” ujar dia.

Ia menambahkan, seharusnya produk yang diluncurkan beroktan RON 91 atau kurang 1 oktan dari produk Pertamax. Dengan demikian peluncuran produk itu telah sesuai dengan standar BBM euro 2. Meski belum memberi gambaran secara gamblang mengenai harga RON 91, namun dia memastikan banderolnya mendekati Premium.

Advertisement

“Kalau kami lihat dipastikan nanti harga Pertalite ini mahal. Padahal mungkin dengan memproduksi RON 91 itu menurut kajian kami bisa murah sekali,” kata dia.

Ia melanjutkan, produk BBM dengan kadar oktan 90 tidak dijual di pasar global. Sebab, produk itu memang tak sesuai regulasi seluruh negara di dunia lantaran belum mengadopsi advance teknologi atau standar euro 2.

“Jadi dalam koteks ini ada dugaan memang ada permainan-permainan yang menyebabkan hadirnya bensin RON 90 yang notabene tiadak ada dipasar internaisonal dan juga tidak diatur di negara manapun yang sudah mengadopsi tenokogi kendaraan advance teknologi,” kata dia.(inilah/data1)