Pertamina Harus Transparan Soal BBM baru Pertalite

ISTIMEWA

JAKARTA, WOL – Pertamina harus menjelaskan kepada publik model investasi terhadap rencana peluncuran produk baru bahan bakar  minyak (BBM) pada Mei 2015 nanti. Pertamina juga dihimbau berhati-hati mengambil langkah bisnis di hilir migas.

“Sebaiknya sebelum menjual produk baru ke pasar, Pertamina harus bisa menjelaskan model investasinya. Selain harus memberikan benefit, model investasinya juga harus dipastikan tidak mengganggu investasi Pertamina yang lain seperti pada bensin ron 88. Pertamina harus berhati-hati dalam memutuskan setiap aksi bisnis di hilir,” ujar Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Heri Gunawan dalam keterangan tertulis.

Seperti diketahui, Pertamina berencana meluncurkan produk BBM baru dengan kualitas di atas premium, tapi di bawah pertamax dinamai pertalite. Produk yang diklaim ramah lingkungan ini rencananya akan dijual di kawasan pulau Jawa, Madura, dan Bali. Sementara ini, penjualannya memang masih terbatas.  Peluncuran produk ini untuk menjawab rencana penghapusan premium dari pasar.

Dia berharap, kajian bisnis di sektor migas harus betul-betul feasible dan matang. Pasalnya, Pertamina baru saja mengalami kerugian sebesar 212 juta USD (sekitar Rp2,75 triliun) pada Januari-Februari tahun ini. Ketika itu, harga minyak sedang mengalami tren penurunan tajam, sehingga nilai bahan baku yang diolah dan produk yang diimpor selalu lebih tinggi daripada harga jual.

“Pertamina harus menjelaskan tentang teknis penentuan harga BBM baru tersebut, karena saya kira saat ini Direksi Pertamina sebagai pelaksana penyaluran BBM masih belum jelas kewenangannya dalam menentukan harga BBM. Jika benar BBM baru hanya mengandung kadar oktan yang lebih rendah , maka mestinya bisa dijual dengan harga yang lebih murah daripada harga jual RON 97 milik Malaysia sebesar Rp7.800/liter,” papar Heri.

Advertisement

Menurut Heri, penentuan harga harus memperhitungkan aspek kepantasan kualitas. Bila harganya diputuskan jauh lebih tinggi, itu patut dipertanyakan. Selain itu, Pertamina juga harus lebih dulu menjelaskan skema dan target pasar untuk produk BBM baru tersebut. “Saya mengapresiasi langkah-langkah Pertamina dalam melakukan diversifikasi produk. Namun, hal itu jangan sampai mengabaikan perbaikan sektor hulu yang menjadi faktor kunci permasalahan energi di Indonesia,” harap Heri.

Data terkini, lanjut Heri,produksi minyak nasional hanya 800-850 ribu barel per hari. Sedangkan, konsumsinya sudah mencapai 1,4 juta barel per hari. Dengan produksi yang rendah itu, niscaya impor BBM akan mencapai Rp1,7 triliun per hari. “Dalam APBN-P 2015, asumsi lifting minyak hanya 825 ribu barel per hari. Ini akan berimplikasi pada penurunan laba di sektor hulu yang menjadi penyebab kerugian Pertamina hingga Rp2,75 triliun itu.(wol/data1)