Perambah Hutan Mangrove di Langkat Masih Marak

Istimewa
Iklan

STABAT, SUMUT, WOL – Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, meminta Kepolisian Resor setempat, segera menertibkan perambahan hutan mangrove (bakau), yang beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit, agar mangrove tidak semakin punah.

“Kami minta aparat kepolisian segera menertibkan perambahan hutan mangrove,” kata Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia Kabupaten Langkat Heri Widiyanto, di Stabat, hari ini.

Heri Widiyanto menjelaskan bahwa kondisi hutan mengrove sekarang ini benar-benar sangat memprihatinkan, akibat perambahan yang terus terjadi di beberapa empat seperti Secanggang, Tanjungpura, Gebang, Sei Lepan, Besitang, Pangkalan Susu, Pematang Jaya, Babalan.

Diperkirakan dari luas hutan mangrove yang ada sekarang ini 32.000 hektare, hampir 20.000 hektare sudah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit, katanya.

“Kondisi ini tidak bisa dibiarkan, akibatnya terhadap nelayan tradisional maupun masyarakat pesisir pantai yang sekarang was-was dengan kondisi tersebut, akibat pencarian ikan mereka semakin sulit,” sambungnya.

iklan

Ketua KNPI itu meminta selain polisi, Kementerian Perikanan dan Kelautan, ataupun Kementerian Kehutanan harus segera turun tangan untuk mengatasi kehancuran dan kepunahan hutan mangrove ini.

“Kalau kita telusuri garis pantai Kabupaten Langkat sepanjang 100 kilometer dari Secanggang hingga Pematang Jaya, maka nampak jelas kerusakan itu,” ungkapnya.

Secara terpisah Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Secanggang Sahmuzar mengungkapkan bahwa beralih fungsinya hutan mangrove tersebut tidak terlepas dari institusi yang paling bawah seperti kepala desa, kepala wilayah kecamatan, kepala dinas Kehutanan dan Perkebunan, yang tidak tanggap dan peduli.

“Kenapa hutan mangrove dibiarkan bebas diperjualbelikan di lapangan, akibatnya kini hutan tersebut terus semakin punah,” katanya.

Harusnya ada ketegasan tidak membiarkan alih fungsi terjadi di lapangan, namun yang terlihat tidak ada tindakan nyata untuk itu.

Demikian juga yang terjadi di Kecamatan Babalan dipastikan ratusan hektare hutan mangrove beralih menjadi tambak udang, dan perkebunan kelapa sawit.

“Tidak hanya itu saja, kayu bakaupun kini diambil dan diolah menjadi arang oleh oknum tertentu,” katanya.

Ini jelas sangat merusak ekosistim hutan mangrove, sehingga nelayan tradisionalpun kini semakin susah mendapatkan ikan, udang, kepiting dan kerang.

“Habitat perpijahnya satwa laut seperti ikan, udang, kepiting dan kerang, kini semakin tidak ada lagi, karena berubah fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit dan pertambakan,” tegasnya.

Mereka meminta agar aparat berwajib, baik itu Polri, TNI, Kehutanan, dan berbagai elemen masyarakat yang peduli terhadap kelestarian hutan mangrove harus saling bahu membahu untuk segera menyelamatkannya dari kepunahan dan kehancuran. (antara/data2)

Iklan