Home / Warta / Mancanegara / Wapres Pence “AS Tak Akan Menyerah Lawan China”
Wakil Presiden AS Mike Pence (Andrew Harnik/POOL Via REUTERS)

Wapres Pence “AS Tak Akan Menyerah Lawan China”

WASHINGTON, Waspada.co.id – Merujuk pada istilah yang digunakan pemerintahan presiden AS George W. Bush, China perlu menjadi “pemangku kepentingan bertanggung jawab”. Di era Barack Obama China memiliki kepentingan untuk menerapkan “ketertiban berdasarkan aturan internasional.”

Sekarang pesan Presiden Donald Trump untuk Beijing adalah keras. Trump dan Wakil Presiden Mike Pence bertekad, “tidak akan menyerah.”

Pada Kamis (4/10) Pence menyampaikan pidato paling keras dari seorang pejabat senior Amerika Serikat sejak kedua negara memperbaiki hubungan empat dekade lalu.

Pence menyebut China sebagai negara penyerang secara militer, pencuri teknologi AS yang agresif, dan mengganggu pemilihan AS, satu tuduhan yang kontroversial.

Meski demikian, kunjungan Menlu Mike Pompeo pada Senin (8/10) ke negara itu mengisyaratkan bahwa AS tampaknya masih memerlukan China. Pompeo mendatangi China setelah melakukan perundingan dengan Korea Utara yang tergantung pada Beijing dari sisi diplomasi dan ekonomi.

Pompeo mengatakan bahwa China “berkeinginan untuk mendukung upaya kami” dalam masalah Korea Utara meski ada ketegangan dengan AS.

Dalam pidatonya Pence mengatakan AS masih berharap hubungan dengan China akan membaik meski dia menyajikan gambaran yang cukup kelam.

Dia mengatakan Amerika Serikat akan terus meningkatkan anggaran militer untuk melawan peningkatan anggaran militer China. Pence juga mengulangi ancaman menggandakan tarif atas barang China dari US$250 juta yang sudah diterapkan.

“Saya berpendapat hal ini merupakan perubahan besar dari pendekatan bipartisan pada China yang diterapkan dalam beberapa dekade terakhir,” ujar Jamie Fly, mantan pejabat pemerintahan Presiden George W. Bush.

Pidato Pence “tidak sepenuhnya membuang kerja sama di sejumlah isu seperti Korea Utara, tetapi pidato itu lebih menjelaskan penilaian AS terhadap niat dan tujuan China untuk mengganti peran AS dan mengurangi kedigdayaan AS,” ujarnya.

Sementara Trump dan Pence adalah tokoh-tokoh yang menyebabkan polarisasi, pandangan keras terhadap China di panggung politik AS semakin menyebar luas. Tidak banyak anggota Kongres dari Partai Demokrat yang mengajukan keberatan ketika Gedung Putih mengumumkan Strategi Keamanan Nasional yang menyebut China sebagai pesaing.

Pandangan mantan presiden Bill Clinton ketika dia menyambut China ke dalam tata perdagangan global bahwa kemakmuran akan memicu reformasi terbukti gagal total. Presiden Xi Jinping semakin keras dalam menghadapi pembangkang dalam negeri sementara kebebasan beragama sangat dikendalikan.

Para pemimpin bisnis AS yang sejak lama meminta hubungan lebih erat dengan China demi pasar besar negara itu kini semakin menjauh. Dunia bisnis negara itu mengeluhkan kegiatan mata-mata industri yang dibantah keras oleh Beijing.

Survey yang dilakukan oleh Pew Research Center Agustus lalu menemukan bahwa warga Amerika yang memandang positif China turun hingga 38 persen.

Mantan perdana menteri Australia Kevin Rudd yang juga pakar masalah China dan kini ketua Asia Society di New York baru-baru ini mengatakan bahwa “langkah berhubungan” yang selama beberapa dekade menjadi dasar hubungan bagi Washington dan Beijing, “kini sudah mati secara resmi dan efektif”.

“Akibatnya kita akan melihat konfrontasi strategi jangka menengah karena kedua kubu berlomba untuk mendapatkan pengaruh dan kini semakin terlihat keduanya berada dalam posisi seimbang,” ujarnya. (cnn)

Check Also

China Kecewa, Intelejen Selandia Baru Larang Jaringan 5G Produknya

WELLINGTON,Waspada.co.id – Dinas intelijen internasional Selandia Baru menghentikan rencana perusahaan telekomunikasi negara itu, Spark, untuk ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: