Breaking News
_
Home / Warta / Mancanegara / Trump Ancam Kembali Naikkan Tarif Impor Barang dari China
Presiden Donald Trump (AP Photo)

Trump Ancam Kembali Naikkan Tarif Impor Barang dari China

WASHINGTON, Waspada.co.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan ancaman dengan menaikkan tarif barang impor asal China senilai 200 miliar dolar AS. Hal itu membuat pasar keuangan goyah pada Senin (6/5).

Trump menyampaikan ancaman kenaikan tarif tersebut dalam akun Twitternya. Pengumuman Trump itu muncul ketika delegasi China dijadwalkan melanjutkan pembicaraan di Washington pada Rabu (8/5) mendatang untuk menyelesaikan perang dagang. Dalam cuitannya, Trump mengatakan akan menaikkan pajak impor produk-produk China senilai 200 miliar dolar AS dari 10 persen menjadi 25 persen.

The Wall Street Journal mengutip seorang sumber melaporkan, pemerintah China sedang mempertimbangkan untuk membatalkan jadwal pembicaraan di Washington pada pekan ini. Beijing sebelumnya menanggapi ancaman AS dengan menyatakan bahwa, negosiasi tidak akan dilakukan jika ada tekanan.

Trump telah dua kali meminta tengat waktu yakni pada Januari dan Maret, untuk menaikkan tarif dalam upaya penyelesaian negosiasi. Namun pada pekan ini, Trump mengatakan bahwa dirinya sudah kehilangan kesabaran.

“Kesepakatan Perdagangan dengan China berlanjut, tetapi terlalu lambat, karena mereka berusaha untuk menegosiasikan kembali. Tidak!,” ujar Trump dalam Twitter-nya.

Dalam cuitannya, Trump juga mengancam akan menaikkan lagi tarif impor China senilai 325 miliar dolar AS setiap tahun. Wakil Presiden Dewan Bisnis AS-China, Jake Parker mengatakan, secara politis ancaman Trump tersebut akan menghambat kemajuan pembicaraan dengan China. Jika Trump selangkah lebih maju dalam negosiasi, maka perusahaan-perusahaan di China akan melakukan pembalasan.

Satu bulan yang lalu, Trump memperkirakan sesuatu yang monumental akan dicapai dalam beberapa pekan ke depan. Tetapi pekan ini, Menteri Keuangan Steven Mnuchin tampaknya menunjukkan bahwa Washington akan mengambil tindakan jika tidak mendapatkan kesepakatan yang diinginkan.

Kesepakatan substantif akan mengharuskan China untuk memikirkan kembali cara mengejar ambisi ekonominya. China harus mengurangi subsidi untuk perusahaan-perusahaannya, serta mengurangi tekanan bagi perusahaan asing untuk berbagi rahasia dagang dan memberi mereka lebih banyak akses ke pasar China.

Rekan senior di Dewan Chicago Urusan Global dan ekonom Gedung Putih di bawah Presiden George W. Bush, Philip Levy mengatakan, negosiasi antara AS dan China terlalu rumit untuk taktik Trump yang selalu memiliki tekanan tinggi. “Presiden memperlakukan ini seperti kita tawar menawar harga mobil bekas,” ujarnya.

China dan AS merupakan dua kekuatan ekonomi besar dunia. China ingin menjadi negara adidaya teknologi. Di sisi lain, AS menuduh China menggunakan taktik cybertheft dan memaksa perusahaan asing untuk menyerahkan teknologinya. Ini merupakan upaya untuk membangun perusahaan China sebagai pemimpin dunia dalam kemajuan teknologi, seperti robot dan kendaraan listrik.

Pertarungan antara dua ekonomi terbesar di dunia itu meningkatkan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi global. Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia telah menurunkan perkiraan mereka untuk pertumbuhan ekonomi dunia. IMF dan Bank Dunia menyatakan, kebuntuan negosiasi AS-China dapat menciptakan ketidakpastian bagi perusahaan yang akan mencoba memutuskan untuk membeli persediaan, membangun pabrik, dan melakukan investasi. (AP/data2)

Check Also

Huawei Disebut Merencanakan PHK Besar-besaran

NEW YORK, Waspada.co.id – Huawei Technologies Co Ltd disebut sedang merencanakan PHK besar-besaran di Amerika ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: