Home / Warta / Teknologi / Toko Online Perlahan Gerus Konter Ponsel
Ilustrasi

Toko Online Perlahan Gerus Konter Ponsel

WOL – Pertumbuhan bisnis online lima tahun terakhir menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Perlahan tapi pasti, toko online berhasil menyita perhatian pasar Tanah Air. Tingginya pengakses internet melalui smartphone serta tumbuhnya kepercayaan masyarakat untuk bertransaksi via toko virtual menjadi faktor penentu kemajuan tersebut.

Keadaan itu tentu berbeda dari 10 tahun lalu. Contohnya, ketika orang hendak membeli ponsel, tempat yang menjadi pusat perhatian adalah konter handphone seperti di Roxy Mas, Mal Ambassador, dan ITC.

Kini dengan pesatnya pertumbuhan transaksi online, sejumlah konter handphone di Jakarta mulai merasakan dampaknya. Bahkan, ada yang mulai redup, namun tidak sedikit yang harus gulung tikar.

Salah satunya, Zaenal Seluler. Pemilik toko ponsel di Mal Ambasador ini harus gulung tikar di awal 2015. Toko yang dirintisnya sejak 2009 bersama sang adik terpaksa tutup lantaran kehabisan modal akibat sepi pembeli. Sekarang, tokonya hanya melayani pelanggan yang ingin servis ponsel rusak.

Entah apa yang membuat toko yang telah menghidupinya selama enam tahun itu harus kandas. Ia tidak menyalahkan banyaknya persaingan, dan juga karena maraknya bisnis jual-beli online di Indonesia ini.

Tetapi tidak dimungkiri, banyak pelanggannya lari atau beralih ke toko online. “Saya tidak mungkiri, teknologi sekarang pesat, jual-beli online perlahan mengikis bisnis ini (fisik),” ungkap Zaenal.

Padahal, kata Zaenal, sejak 2009 pendapatan dari hasil berjualan handphone cukup besar, apalagi ponsel bekas yang untungnya bisa dua kali lipat. “Sekarang sepi, kebanyakan yang datang hanya lihat-lihat dan cek harga. Sakarang yang ramai justru toko aksesori, termasuk jasa servis handphone,” tuturnya.

Kami pun merasakan atmosfer berbeda ketika lima sampai tujuh tahun lalu saat berkunjung ke mal-mal. Sekarang penjaga toko lebih banyak termenung, membaca koran, bercengkerama sesama pedagang atau asik dengan ponselnya sendiri. Tidak banyak aktivitas jual-beli di sana.

Roxy Mas Tetap Idola
Berbeda dengan Mal Ambasador, Lala Sopalau selaku Divisi Staff Customer Relation Tenant di Roxy Mas, Jakarta (pengelola gedung Roxy Mas), menyadari pertumbuhan bisnis online pesat, tetapi bukan berarti offline akan ditinggal pelanggan. Kepercayaan menjadi alasan utama pembeli untuk datang langsung ke toko tradisional.

“Orang terkadang lebih nyaman langsung lihat fisik, berbeda dengan online yang harus bersitegang ketika produk yang dijual dengan yang diantar tidak sama,” jelas Lala.

Meski demikian, pesatnya pengguna website saat ini menjadi celah pertumbuhan bisnis online Tanah Air. Lani Rahayu, Marketing Communication Manager blibli.com, mengungkapkan kepercayaan pembeli adalah hal yang paling dijaga dan tugas perusahaan untuk membangun hal itu.

”Contohnya, meyajikan foto semirip mungkin dengan produk aslinya, serta adanya program return solutions (solusi pengembalian) jika memang produk yang dibeli tidak sesuai gambar. Jadi, informasi awal ke pelanggan itu sangatlah penting,” jelasnya.

Inovasi Harga Mati
Agar banyak dikunjungi dan selalu menjadi yang terdepan dalam bisnis online, inovasi diungkapkan sebagai harga mati perusahaan.

”Jika tidak ada inovasi, seperti halnya pembaruan produk setiap harinya, serta tampilan website yang cantik dan mudah diakses pasti situs tersebut akan ditinggalkan konsumen,” jelas Lani Rahayu.

Pada akhirnya, baik bisnis online maupun offline, kuncinya adalah inovasi dan kreasi. Terkadang modal juga penting, sebab tanpa modal akan sulit bersaing dengan pemain besar.

Bisnis Online 2016 Capai Rp295 T
Pada 2013, nilai pasar e-commerce di Indonesia mencapai USD8 miliar atau setara dengan Rp94,5 triliun. Namun, perkembangan pasar yang sangat pesat akan menaikkan pangsa bisnis ini pada 2016 menjadi Rp295 triliun atau USD25 miliar.

Co-Founder and CFO Bukalapak.com, Fajrin Rasyid, menjelaskan bahwa riset yang diprakarsai oleh Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA), Google Indonesia, dan TNS (Taylor Nelson Sofres) menyebutkan prediksi Rp295 triliun itu.

Potensi ini dibarengi jumlah pengguna internet yang mencapai angka 82 juta orang atau sekira 30 persen dari total penduduk Indonesia. Ini membuat pasar e-commerce menjadi tambang emas yang sangat menggoda bagi sebagian orang yang bisa melihat potensi ke depannya.

Indonesia sebagai pasar yang potensial memang tidak bisa dielakkan lagi. Fajrin mengatakan, orang-orang dari luar Indonesia akan berduyun-duyun datang ke Indonesia. Tujuannya hanya satu yakni menguasai pasar Indonesia. Sehingga, mau tidak mau para pelaku bisnis di Indonesia harus berbenah agar mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.(okz/data1)

Check Also

Pro Kontra Perubahan Nama Istora Senayan Jadi Blibli Arena

JAKARTA, Waspada.co.id – Perubahan nama Istora Senayan menjadi Blibli Arena menimbulkan pro kontra, khususnya di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: