Home / Fokus Redaksi / Suluh Kebangsaan Sebagai Gerakan Pemersatu Kebhinekaan
WOL Photo

Suluh Kebangsaan Sebagai Gerakan Pemersatu Kebhinekaan

MEDAN, Waspada.co.id – Pencetus Gerakan Suluh Kebangsaan Prof Dr Mahfud MD SH SU menggelar Sarasehan Kebangsaan di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Medan Sumatera Utara. Gerakan ini berangkat dari semakin maraknya isu perpecahan di tengah-tengah masyarakat dalam hidup bernegara.

Demikian pula dikatakan Mantan Ketua MK itu saat menggelar Sarasehan Kebangsaan yang dimotori Gerakan Suluh Kebangsaan bersama beberapa tokoh nasional. “Ada gejala perpecahan, isu politik identitas dan SARA yang terjadi dalam kehidupan berneagara. Isu tersebut bertendensi memecah-belah bangsa, di mana seseorang tak lagi saling menegur bahkan saling bermusuhan hanya karena perbedaan pilihan politik,” kata Mahfud, di Medan, Sabtu (9/2).

WOL Photo

Kata Mahfud, Suluh Kebangsaan tersebut bukan merupakan kampanye politik. “Tetapi kampanye kebangsaan yang menyatukan kebhinekaan kita. Karena kita khawatir, isu hoax yang semakin marak akhir-akhir ini berpotensi memecah-belah masyarakat dalam berbangsa dan bernegara,” katanya lagi.

“Gerakan Suluh Kebangsaan ini adalah salah satu cara agar setelah pemilu nantinya tetap bersatu. Kita tahu bahwa, demokrasi di Indonesia dikenal dengan istilah Demokrasi Permusyawaratan, berbeda dengan demokrasi di negara lain. Semua hal kita putuskan dengan bermusyawarah sebagai makna demokrasi,” ungkap Pakar Hukum Tata Negara itu.

Mahfud menyinggung saat zaman Orde Baru berkuasa, hasil pemilihan umum sudah ditentukan sebelumnya. “Sekarang, penyelenggara pemilu itu KPU, yang bukan bagian dari pemerintah. KPU juga diawasi oleh Bawaslu dan DKPP. Ada MK yang akan menyelesaikan sengketa pemilu,” ujarnya.

“Sesuai dengan tema hari ini, kita mengajak seluruh elemen bangsa merawat kebhinekaan untuk mengokohkan rasa kebangsaan. Sepanjang pelaksanaan pemilu di Indonesia, baik pada saat Orde Baru hingga Pemilu 2014 lalu tidak ada politk identitas,” jelas Mahfud.

“Ketika pertarungan antara Jokowo-Jusuf Kalla melawan Prabowo-Hatta, tensi politk sangat panas, tetapi saat itu tidak membawa politik identitas. Saat itu, yang suka pada populisme mendukung Jokowi dan yang suka pada strukturalistik mendukung Prabowo,” kata Mahfud.

Mahfud mengimbau kepada semua kalangan untuk menghindari politik identitas. Dia mengaku banyak orang mengeluh soal pemilu yang sudah menyentuh pada persoalan idiologis, bahkan sangat membahayakan karena menyangut soal SARA. “Ini menyangkut soal emosi massa yang tidak banyak paham apa yang sesungguhnya, apa yang dibutuhkan oleh bangsa ini,” tandasnya.

Dalam agenda Gerakan Sulung Kebangsaan yang dikemas dalam Sarasehan Kebangsaan ini, juga menghadirkan beberapa tokoh nasional dan daerah yang merupakan perwakilan dari Organisasi Keagamaan, di antaranya dari Pengurus Pusat Muhammadiyah Dr H. Abdul Mu’ti M.Ed.

Selain itu, acara tersebut juga dihadiri tokoh Alwasliyah Sumut, Prof Dr Saiful Akhyar Lubis MA dan Tokoh Pendidikan Sumut Prof Hj Sri Sulistyawati SH MSi PhD serta tokoh-tokoh lintas agama, Ormas Sumut, kalangan Budayawan dan Akademisi serta pejabat daerah.

Sementara hadir juga Gubernur Sumatera Utara diwakili Asisten Pemerintahan Setda Pemprovsu, Jumsadi Damanik. (wol/data2)

Editor: Agus Utama

Check Also

Sambut Tahun Baru 2019, Mahfud MD: Beranilah Menjadi Orang Mushlih, Tak Sekadar Shalih

JAKARTA – Pakar hukum tata negara, Mahfud MD berharap tahun 2019 membawa kebaikan bagi bangsa ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: