Breaking News
Home / Warta / Indonesia Hari Ini / Sidang Jessica Mirip Sebuah Drama
Istimewa

Sidang Jessica Mirip Sebuah Drama

JAKARTA, WOL – Professional Hypnotherapist, Kirdi Putra menilai banyak drama-drama yang diperlihatkan Jessica Kumala Wongso terdakwa kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin (27) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Rabu (28/9) lalu.

“Saya melihat sidang Jessica semalam seperti drama untuk menghibur publik, kalau disebut bohong kita menzolimi Jessica,” kata Kirdi, Kamis (29/9) kemarin.

Ia menjelaskan, jika diberikan waktu mengobservasi jalannya sidang Jessica, banyak sekali pola-pola kebetulan yang ditampilkan oleh Jessica dari awal persidangan sampai sekarang. Menurutnya, tidak ada sebuah metode dan perangkat pun yang bisa 100 persen menentukan seseorang berbohong atau bersalah (lie detecting).

“Seperti halnya tidak ada pola bahasa tubuh tertentu yang kemudian bisa menjustifikasi seseorang bersalah atau tidak, jika hanya berdiri sendiri-sendiri,” ujar Senior Consultant dan Researcher of Narapatih.

Kemudian, kata Kirdi, dari bahasa tubuh, cara bicara, ekspresi, semua dilihat dari keselarasan pola yang ditampilkan oleh seseorang yang bisa digunakan untuk observasi kebetulan-kebetulan dan ketidakselarasan antar pola-pola yang ada (termasuk content keterangan yang diberikan Jessica dihadapan pengadilan).

“Beberapa kebetulan itu misalnya, kebetulan Jessica yang memilih tempat di Kafe Olivier, kebetulan Jessica pesan minum dan langsung membayar duluan, kebetulan celana Jessica sobek dan dibuang, kebetulan tas-tas ditaruh di atas meja, kebetulan keluar dari group WA setelah Mirna meninggal, dan lainnya,” jelas dia.

Kirdi menambahkan ada juga pola-pola lain yang ditampilkan semasa penyidikan sampai persidangan, ekspresi yang ditampilkan Jessica relatif (terlihat) datar. Akan tetapi, di beberapa titik justru menampilkan adegan-adegan yang sifatnya emosional (kebetulan ditampilkan di televisi).

“Lalu penggunaan kacamata yang dipakai ketika memberikan keterangan (yang kebetulan hampir tidak pernah dipakai sebelum-belumnya), kemudian meneteskan air mata,” katanya.

Kemudian, Kirdi mengatakan kebetulan-kebetulan yang ditampilkan Jessica memang bukan serta merta menentukan bahwa Jessica bersalah atau tidak bersalah, tapi tentu saja bisa menjadi salah satu petunjuk dalam proses penyidikan.

“Berbagai kebetulan yang berdiri sendiri-sendiri mungkin tidak ada artinya, karena semua orang mengalami kebetulan. Tapi kebetulan-kebetulan yang terkumpul sebagai satu kesatuan, tidak bisa tidak, membuat kita bertanya-tanya, bagaimana bisa sejumlah besar kebetulan terjadi dalam waktu yang bersamaan?” ujarnya.

Maka dari itu, Kirdi melihat sidang yang ditampilkan oleh Jessica ini memberikan pelajaran yang banyak dari segi hukum, dari pencitraan yang dilakukan, dari pembelajaran mengenai proses penyidikan dan peradilan, dan lain-lain.

“Mari kita melihat lebih dari sekedar apa yang terlihat sepotong, tapi pola yang disajikan dari awal kasus ini sampai sekarang. Kira-kira citra apa yang ingin ditampilkan Jessica? Innocent? Victim?” tandasnya.(inilah/data1)

Check Also

Korban Perampokan Pondok Labu Dibunuh saat Mengaji

  JAKARTA – Hunaedi (73) tewas bersimbah darah di rumahnya di kompleks TNI AL RT ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: