Breaking News
Home / Warta / Politik / Sakit Jiwa, Penyerang Ulama di Jawa Barat Bisa Diproses Hukum
Adrianus Meliala (Foto: Badriyanto/Okezone)
Adrianus Meliala (Foto: Badriyanto/Okezone)

Sakit Jiwa, Penyerang Ulama di Jawa Barat Bisa Diproses Hukum

agregasi
agregasi

 

JAKARTA – Tak kurang dari sepekan dua orang ulama mendapat penganiayaan oleh orang yang diduga tidak waras atau sakit jiwa di Jawa Barat. Akibatnya dua orang ulama meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Kedua peristiwa tersebut dinilai sejumlah pihak janggal pasalnya keduanya merupakan ulama dan diserang pada waktu subuh oleh orang yang diduga sakit jiwa.

Menanggapi meninggalnya dua orang ulama tersebut Kriminolog UI Adrianus Meliala menilai, dalam sakit kejiwaan ada variasi-variasi tertentu sehingga pelaku dapat di hukum atau tidak.

“Kalau polisi mengatakan sakit jiwa selalu timbul kontroversi karena Pasal 44 KUHP tentang sakit jiwa itu terlalu umum padahal variasi-variasi sakit jiwa itu banyak sekali,” kata Adrianus saat dikonfirmasi Okezone, Sabtu, (03/02/2018).

Sebab menurutnya, yang menjadi masalah dalam hal ini adalah poin hukum yang tidak mampu untuk pertanggung jawab secara hukum. Karena tidak semua bisa dikatakan sakit jiwa lolos dari jerat hukum.

“Jadi ada kemungkinan dia sadar bertanggung jawab secara hukum, ada sadar tapi tidak bertanggung jawab secara hukum, ada tidak sadar tidak bertanggung jawab secara hukum dan ada tidak sadar tapi bertanggung jawab secara hukum itu variasinya,” kata Dia.

Untuk itu untuk menghindari perdebatan biasanya polisi meminta psikiater untuk melakukan pemeriksaan terhadap pelaku untuk mendapatkan suatu jawaban yang pasti.

“Biasanya polisi meminta psikiater melakukan pemeriksaan, biasanya yang bersngkutan di kurung tiga hari diruangan dan diamati secara penuh,” ungkapnya.

Menurutnya polisi tidak boleh melihat ini dari suatu hal yanh lain kecuali dari TKP dan melakukan penyelidikan terhadap korban dan pelaku. Itu katanya melanjutkan nanti jadi pinjakan apakah pelaku benar sakit jiwa atau tidak.

“Polisi tentu enggak boleh berasumsi dia harus berangkat dari TKP, melihat hubungan antara pelaku dan korban dan mediator yang menghubungkan dengan korban. Misalnya pelaku menggunakan pisau dan terjadi di TKP hanya itu jadi enggak boleh dikaitkan dengan yang lain,” tukasnya.

Check Also

Istimewa

Motif Dendam, Sopir Nekat Bunuh Satu Keluarga di Aceh

BANDA ACEH, WOL – Kepolisian Daerah Aceh melalui jajarannya, Polresta Banda Aceh menggelar konferensi pers ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.