Home / Warta / Indonesia Hari Ini / Punya Kualitas, Peneliti Indonesia Jangan Sekadar Mengekor Asing
Bayi Orang Utan (Foto: Dailymail)

Punya Kualitas, Peneliti Indonesia Jangan Sekadar Mengekor Asing

JAKARTA, Waspada.co.id -Peneliti-peneliti Indonesia memiliki kualitas yang tak kalah dibanding peneliti asing. Mereka diminta tidak minder dan tidak sekadar mengekor agenda peneliti asing yang tak jarang punya misi tersembunyi untuk menghambat kepentingan nasional.

Di sisi lain, bangsa Indonesia diserukan memperbaiki mental untuk tidak selalu menganggap studi peneliti asing lebih baik dibandingkan peneliti Tanah Air.

Kepala Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI KLHK),Agus Justianto, menuturkan ini memang salah satu masalah mental bangsa ini yang selalu menganggap bahwa kajian peneliti asing lebih bermutu. Seharusnya tidak seperti itu.

“Secara umum kualitas SDM Indonesia tidaklah kalah dengan negara maju. Terbukti sejumlah penghargaan bergengsi di bidang ilmu pengetahuan sering dimenangkan perwakilan Indonesia. Hal yang sama juga berlaku untuk peneliti Indonesia,” tuturnya kepada Wartawan, Senin (11/2).

Banyak yang memiliki kemampuan luar biasa dan menghasilkan berbagai inovasi yang membanggakan Saat ini BLI KLHK memiliki 487 peneliti dengan jumlah profesor riset sebanyak 10 orang. Mayoritas peneliti BLI KLHK adalah lulusan S2 dan S3. Tahun ini BLI KLHK, kata Agus, berharap bisa melantik kembali minimal 2 profesor riset.

Soal rendahnya penghormatan kepada peneliti Indonesia, Agus memberi gambaran pada kasus penemuan spesies Orangutan tapanuli, di Sumatera Utara. Orangutan itu sejatinya sudah lama diteliti oleh peneliti BLI KLHK, Dr Wanda Kuswanda. Namun ironisnya, dalam publikasi oleh peneliti asing terkait spesies orangutan, nama Kuswanda justru tidak dicantumkan.

“Padahal, Dr Kuswada-lah yang sejak awal meneliti Orangutan tapanuli. Ke depan, kode etik publikasi ilmiah termasuk intellectual property right menjadi perhatian saya,” kata Agus.

Meskipun merupakan peneliti BLI sejak awal meriset tentang Orangutan tapanuli, justru dinafikan keilmuannya. Walhi Sumatera Utara misalnya, memilih menggunakan peneliti asing sebagai saksi ahli berkait Orangutan tapanuli dalam sidang Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan. Serge Which yang berkewarganegaraan Belanda, merupakan pengajar pada Liverpool John Moores University, Inggris, diajukan sebagai saksi terkait orangutan untuk menggagalkan Amdal Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru yang diterbitkan Gubernur Sumut.

Peneliti asing itu bahkan sempat mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo dan mengajari cara membangun infrastruktur di kawasan hutan. Dalam sidang tersebut, Walhi Sumut malah menggunakan peneliti Universitas Sumatera Utara (USU) yang mendalami bidang hutan bakau dalam kasus yang berkait dengan lansekap dataran tinggi di Batangtoru, Tapanuli Selatan.

Terkait intervensi pihak asing, pengajar di Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Ricky Avenzora menyatakan, pihak asing kerap terlibat dalam govermental terrorism atas pengelolaan sumber daya hutan. Keterlibatan itu dilancarkan melalui banyak pintu dengan tujuan untuk melakukan penjajahan ekonomi secara masif.

“Atas isu lingkungan, mereka gunakan tangan dan mulut LSM-lingkungan yang lapar dan berjiwa oportunis serta hipokrit,” katanya.

“Pihak asing tidak saja melindungi produk dagang mereka dengan melakukan black campaign atas produk-produk bangsa kita, melainkan juga bermotivasi kuat untuk mehancurkan proses produksi nasional agar kemudian bisa mereka akuisisi dengan harga murah,” pungkasnya.(wol/eko/data1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: