Breaking News
Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Pengamat: Harga Cabai Pedas
WOL Photo/Eko kurniawan
WOL Photo/Eko kurniawan

Pengamat: Harga Cabai Pedas

MEDAN, WOL – Harga cabai kian pedas. Sejak kemarin dan hari ini di sejumlah pedagang pasar tradisional cabai merah dibandrol diatas Rp50 ribu/Kg. Saat ini pedagang ada yang menjual di kisaran harga Rp52 ribu/Kg.

Kenaikan harga cabai ini sangat membebani konsumen. Sinyal kenaikan harga cabai sudah terlihat 2 minggu setelah perayaan Idul Adha kemarin.

“Dimana saat transaksi belanja normal, harga cabai mulai merangkak naik. Tanpa ada konsumsi yang mengalami kenaikan karena tidak ada perayaan keagamaan atau hari besar lain. Kenaikan harga cabai semestinya sudah harus diwaspadai jauh-jauh hari,” tutur Ekonom Sumut, Gunawan Benjamin, Jumat (6/10).

Karena tanaman cabai memiliki usia yang sangat pendek. Jika serentak ditanam, maka harga cabai bisa turun tajam dan di saat tanamannya tidak produktif lagi. Harga cabai mengalami kenaikan yang signifikan. Sebenarnya sejak awal saya sudah mengkwatirkan bahwa ada kemungkinan pola pergerakan harga cabai yang mirip di tahun 2016.

“Jika pola tanam sama, pola konsumsi sama dan tidak ada pola kebijakan yang sifatnya antisipatif, maka cabai akan mengulang kenaikan yang serupa dalam kurun waktu yang sama. Kalau dikaitkan dengan ulah spekulan, saya pikir cabai bukanlah komoditas yang gampang dispekulasikan. Karena karakternya itu cepat busuk. Kecuali spekulan dilengkapi dengan bantuan teknologi seperti cold storage atau ice box,” jelasnya.

Sebaiknya pemerintah khususnya pemerintah daerah sejak dini melakukan investasi untuk mencegah pola kenaikan serupa pada harga cabai di masa yang akan datang, jangan dibiarkan berulang.

“Terkait dengan laju inflasi. Saya memperkirakan jika harga cabai bertahan di level sekarang hingga pekan ketiga di bulan ini. Inflasi di Sumut bakal melonjak lagi. Meski demikian saya tetap optimis BI tetap bisa mengendalikan inflasi sesuai dengan targetnya. Kalaupun nanti cabai masih menyumbang inflasi besar, laju tekanan inflasi di wilayah ini masih bisa ditekan di bawah 5 persen, karena secara Year To Date inflasi Sumut masih sebesar 1.86%,” tukasnya.

Tapi bukan seperti itu juga yang kita harapkan. Artinya jangan keberhasilan infasi dijadikan patokan untuk mengukur pola kenaikan harga di masyarakat. Tetapi lakukan pendekatan secara detail untuk masing-masing komoditas. Seperti mengatur agar komoditas tertentu harganya tetap bertahan dalam rentang yang idealkan. Bukan dibiarkan seperti ini sesuai dengan mekanisme pasar sepenuhnya.

“Petani akan dirugikan saat harga cabai turun, dan konsumen akan dirugikan saat harganya naik. Daya beli petani khususnya untuk subsector holtikultura berpeluang membaik di bulan ini. Kita lihat saja nanti NTP (nilai tukar petani). Dan konsumen pasti tertekan dengan kenaikan harga. Sudah barang pasti baik petani dan konsumen sama-sama menginginkan harga stabil dalam rentang yang ideal. Bukan naik turun dengan sangat tajam seperti yang terjadi belakangan ini,” pungkasnya. (wol/eko)

Editor: SASTROY BANGUN

Check Also

WOL Ilustrasi

Poldasu Ciduk Perwira Pangkat AKP Terlibat Peredaran Narkoba

MEDAN, WOL – Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut kembali meringkus anggota polisi berpangkat AKP terlibat ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.