_
Home / Warta / Mancanegara / Pemerintah Thailand Sangkal Tahan Aktivis Penghina Keluarga Kerajaan
foto: Wakil PM Thailand, Prawit Wongsuwan. (Reuters)

Pemerintah Thailand Sangkal Tahan Aktivis Penghina Keluarga Kerajaan

BANGKOK, Waspada.co.id – Wakil Perdana Menteri Thailand, Prawit Wongsuwan, menyangkal bahwa tiga aktivis Thailand yang dituduh menghina keluarga kerajaan ditahan di Thailand.

Mereka adalah Chucheep Chiwasut, seorang yang menyiarkan komentar politik terhadap Thailand terkait masalah pengasingan, serta rekannya yakni Siam Theerawut dan Kritsana Thapthai.

Ketiga orang ini dilaporkan telah diserahkan ke pihak berwenang Thailand oleh Vietnam pada Rabu (8/5). Namun, kabar mereka tak diketahui sampai saat ini. Aliansi Thailand untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS melaporkan bahwa Chucheep, yang lebih dikenal Paman Sanam Luang, telah dipulangkan kembali ke Thailand.

“Vietnam tidak memberikan informasi perihal pemulangan para aktivis tersebut. Kami belum menerima permintaan apa pun. Jika memang ada, hal itu akan diinformasikan melalui kementerian luar negeri dan polisi,” ujar Prawit.

Prawit membantah jika mereka (para aktivis) berada di tahanan Thailand pada Jumat lalu. Puluhan pembangkang, akademisi, dan aktivis pro-demokrasi sudah diasingkan sejak junta merebut kekuasaan dalam kudeta di 2014 lalu.

Kebanyakan orang melarikan diri ke Laos dan Kamboja untuk menghindair tuduhan dan hukuman penjara. Namun tiga orang aktivis ini pindah dari Laos karena ada tiga orang aktivis lainnya hilang saat mencari perlindungan di sana.

Akhir Desember lalu, dua orang aktivis ditemukan di Sungai Mekong dengan beton di dalam perutnya. Pemerintah membantah bertanggung jawab.

Kabar aktivis hilang ini mencuat beberapa bulan setelah dua orang pengkritik militer dan keluarga kerajaan yang diasingkan dinyatakan tewas. Kejadian ini pun menarik perhatian sejumlah pihak.

Brad Adams selaku Direktur Human Rights Watch Asia mengatakan, “Pemaksaan Vietnam untuk mengembalikan tiga aktivis Thailand seharusnya menjadi peringatan bagi komunitas internasional.”

Amnesty Internasional juga melaporkan bahwa Chuhceep telah lama menghadapi tuduhan dari pasal lese majeste atau penghinaan terhadap kerajaan. Sementara itu, Siam dan Kritsana berada dalam penyelidikan polisi atas pasal lese majeste.

Menurut pasal 112 hukum kriminal Thailand, siapapun yang menghina raja, ratu, atau pewaris takhta, akan dihukum 15 tahun penjara.

Kelompok pemerhati HAM menuduh militer yang berkuasa telah memberlakukan hukum lese majeste secara sewenang-wenang sejak kudeta militer tahun 2014 sebagai cara untuk membungkam kritik.

Bulan Januari lalu, jasad dua aktivis lain yang diasingkan karena mengkritik militer dan keluarga kerajaan, Chatcharn Buppawan dan Kraidej Luelert, ditemukan di Sungai Mekong. Tubuh mereka ditemukan telah diisi dengan beton yang membuatnya dapat tenggelam.

Namun, pihak militer Thailand sendiri mengaku tidak menerima informasi terkait jasad aktivis tersebut.

Selain itu, seorang aktivis yang juga bertugas mengoperasikan stasiun radio pengkritik junta dan kerajaan, yakni Surachai Danwattananusorn, dikabarkan menghilang pada bulan Desember. Hingga kini keberadaannya belum diketahui. (cnn/data1)

Check Also

Tiba di Bangkok, Presiden Jokowi dan Ibu Negara Disambut Deputi PM Thailand

  JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) beserta Ibu Negara, Iriana Joko Widodo dan rombongan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.