_
Home / Warta / Indonesia Hari Ini / Pemerintah Perlu Didorong Perhatikan Nasib Pengangkut Sampah & Pemulung
Caleg Irjen Pol. (Purn) Pudji Hartanto Iskandar meninjau lokasi pembungan sampah (foto: Istimewa)

Pemerintah Perlu Didorong Perhatikan Nasib Pengangkut Sampah & Pemulung

JAKARTA – Calon legislatif Irjen Pol. (Purn) Pudji Hartanto Iskandar sadar betul arti pentingnya hidup sehat. Meski berlatar belakang bukan berprofesi sebagai dokter atau ahli kesehatan, jenderal bintang dua ini, merasa perlu memberikan perhatian khusus terhadap kesehatan bagi masyarakat, khususnya mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Caleg dari Partai Nasdem di daerah pemilihan IV Jawa Barat tepatnya di daerah Kabupaten Sukabumi dan Kota Sukabumi. Pudji mengatakan dirinya mempunyai impian agar masyarakat daerah Kota Sukabumi dan Kabupaten Sukabumi mendapatkan jaminan kesehatan.

Menurutnya, hal itu sejalan dengan program pemerintah yang sudah menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakat melalui BPJS dan Kartu Indonesia Sehat (KIS). “Tetapi untuk pencegahan kita melihatnya agak lemah. Salah satu contohnya dari sisi kesehatan,” ujar Pudji ketika berbincang dengan Okezone, Senin (17/12/2018).

Eks Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan menceritakan, ketika dirinya mengunjungi Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) di daerah Sukabumi, disitu dirinya berbincang dengan banyak petugas pengangkut sampah, bahwa mereka tak mendapatkan jaminan kesehatan. Mengingat mereka berkutat dengan sampah yang secara kasatmata kuman dan virus berada.

“Saya pikir perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan secara gratis, dan selama ini saya belum melihat itu. Karena itulah pemulung dan pekerja di tempat sampah di Indonesia perlu perhatian pemerintah, seperti dilakukan pemeriksana kesehatan, mungkin 3 bulan sekali itu,” jelas Pudji.

“Insyallah kalo saya disana (terpilih jadi anggota parlemen) saya akan studi walaupun bukan bidang saya karena sehat itu nomor satu. Berangkat dari situ kalau sudah sehat kesininya pun bisa terjaga baik jasmani maupun rohani,” timpal dia.

Selain memastikan jaminan kesehatan, Pudji juga mendorong pemerintah agar para pekerja mendapat sebuah produktivitas sebuah nilai di TPSA ini, dengan memanfaatkannya seperti menjadikan bahan sampah menjadi pupuk kompos.

Memang, lanjut Pudji, diakui hal tersebut masih cukup berat. Mengingat cara membuat pupuk itu masih dengan cara yang tradisional, tetapi tak ada salahnya jika hal itu tetap dilakukan.

“Tapi karena masih tradisional sehingga waktu prosesnya itu lama sekitar 1 bulan lebih dan ketika dijual gak seberapa. Nah tadi kan harus ada pembuatan bagaimana kalau sampah bisa menjadi pupuk, dan menghasilkan uang,” terang dia.

Dia memberikan contoh negara maju seperti di Jerman, dimana sampah bisa menghasilkan uang bagi yang membuang sampah tersebut, dengan menyediakan alat berteknologi canggih, sehingga cukup sampah plastik dimasukan ke mesin penghancur, langsung keluar uang sebagai gantinya.

Sehingga menurutnya, sesuatu yang baik tidak ada salahnya dijadikan contoh dan ia berharap nantinya produktivitas sampah di Indonesian bisa menghasilkan buah bagi para pekerjanya. “Melihat dari itu produktivitas olahan dari sampah bisa dijadikan suatu nilai. Ini harus disuarakan ke pemerintah,” tandas Pudji.

Check Also

Dolar AS Tekan Rupiah ke Level Rp14.514 per USD

  JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah di pembukaan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.