Home / Warta / Indonesia Hari Ini / Pemberi Gratifikasi hingga Staf Eni Saragih Bersaksi di Sidang PLTU Riau-1
pengadilan (Reuters)

Pemberi Gratifikasi hingga Staf Eni Saragih Bersaksi di Sidang PLTU Riau-1

JAKARTA – Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta mengagendakan sidang lanjutan perkara dugaan suap kesepakatan kontrak kerjasama proyek pembangunan PLTU Riau-1, untuk terdakwa Eni Maulani Saragih. Sidang kali ini masih pemeriksaan terhadap sejumlah saksi.

Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) rencananya akan menghadirkan lima saksi untuk terdakwa Eni. Mereka adalah dua pengusaha minyak dan gas pemberi gratifikasi untuk Eni, Direktur PT Smelting, Prihadi Santoso dan Pemilik PT Borneo Lumbung ‎Energi dan Metal, Samin Tan. Kemudian, tiga saksi lainnya yakni Staf Eni Sarag‎ih, Tahta Maharaya, Indra.

“Saksi stafnya Eni yakni, Tahta, Indra, dan Neni. Serta Prihadi dan Samin Tan. Kayanya mereka berlima yang jadi saksi,” kata Kuasa Hukum Eni Saragih, Rudi Alfonso kepada Okezone, Rabu (26/12/2018).

Sebelumnya, Eni Saragih didakwa menerima gratifikasi berupa uang sebesar Rp5.600.000.000 dan SGD40.000 dari beberapa direktur dan pemilik perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas (migas).

Suap

Dalam surat dakwaan, gratifikasi yang diterima Eni berasal dari Direktur PT Smelting, Prihadi Santoso senilai Rp250 juta. Uang sebesar Rp250 juta tersebut diberikan Prihadi dengan tujuan agar Eni bisa memfasilitasi PT Smelting dengan pihak Kementerian Lingkungan Hidup.

Prihadi meminta bantuan eni untuk bertemu dengan Kementeriaan Lingkungan Hidup agar PT Smelting dapat melakukan impor limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) yaitu limbag tenaga yang akan diolah menjadi cover slag.

Permohonan tersebut ditindaklanjuti Eni dengan mempertemukan Prihadi ‎ke Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (Dirjen PSLB3), Rosa Vivien Ratnawati. Setelah adanya pertemuan itu, Prihadi kemudian mentransfer uang Rp250 juta kepada orang kepercayaan Eni.

Penerimaan gratifikasi Eni yang kedua berasal dari Direktur PT One Connect Indonesia (OCI), Herwin Tanuwidjaja sejumlah Rp100 juta dan SGD40 ribu. Uang yang diberikan Herwin kepada Eni tersebut satu perkara dengan Prihadi yakni, terkait pengurusan impor limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) yaitu limbag tenaga yang akan diolah menjadi cover slag.

Penerimaan ketiga Eni berasal dari Pemilik PT Borneo Lumbung ‎Energi dan Metal, Samin Tan sebesar Rp5 miliar. Uang tersebut diduga untuk mengurus permasalahan pemutusan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B) generasi 3 di Kalimantan tengah antara PT AKT dengan Kementeriaan ESDM.

Terakhir, Eni menerima uang dari Presiden Direktur (Presdir) PT ISARGAS, Iswan Ibrahim senilai Rp250 juta. Eni meminta uang kepada Iswan ‎untuk keperluan suaminya maju di Pilkada Temanggung. Iswan kemudian memberikan kepada Eni sebesar Rp250 ‎juta.

Selain gratifikasi, Eni Maulani Saragih juga didakwa menerima suap sebesar Rp4.750.000.000 secara bertahap dari pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited, Johannes Budisutrisno Kotjo. Uang tersebut diduga berkaitan dengan proyek pembangunan mulut tambang PLTU Riau-1.

Uang itu sengaja diberikan Kotjo kepada Eni untuk mendapatkan proyek Independent Power Produce (IPP) PLTU mulut tambang Riau-1 antara PT pembangkitan Jawa-Bali Investasi (PJBI) dengan Blackgold Natural Resources Limited dan China Huadian Engineering Company Limited (CHEC).

Check Also

Marak OTT di 2018, KPK Bakal Fokus Pencegahan di 2019

  JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) era Agus Rahardjo Cs mencatatkan rekor terbanyak dalam ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: