Breaking News
Home / Warta / Indonesia Hari Ini / Oh, Ternyata Begini Trik MA agar Kinerjanya Tidak Memble
Istimewa
Istimewa

Oh, Ternyata Begini Trik MA agar Kinerjanya Tidak Memble

agregasi
agregasi

 

BANDUNG – Mahkamah Agung (MA) melakukan banyak upaya dalam beberapa tahun terakhir. Tujuan besarnya, MA ingin agar kinerjanya berjalan baik. Sehingga stigma dunia peradilan Indonesia yang oleh sebagian orang dinilai sebagai tempat ketidakadilan terkikis.

Ketua Kamar Pembinaan dan Wakil Koordinator Tim Pembaruan Mahkamah Agung (MA) Takdir Rahmadi mengatakan MA sudah memiliki cetak biru yang memperbaharui cetak biru sebelumnya yang berlaku pada 2003-2008. Cetak biru yang baru yang dipakai saat ini adalah untuk 2010-2035.

“Ini semacam GHBN kalau zaman dulu, dibuat dengan melibatkan elemen-elemen civil society, mengundang unsur-unsur masyarakat, dari pers, perguruan tinggi. Jadi, bukan sebuah cetak biru yang dibuat secara sepihak,” kata Takdir dalam Lokakarya Bersama Media, MA, dan EU-UNDP Sustain, di eL Royal Hotel, Kota Bandung, Rabu (23/8/2017) malam.

Melalui cetak biru itu, MA memiliki pijakan untuk melakukan pembaruan. Salah satunya dari sisi manajemen perkara, MA maupun lembaga peradilan di bawahnya saat ini berusaha agar bisa menyelesaikan perkara dengan cepat.

“Sebab, seperti ada adagium kalau proses peradilan berjalan lama,” katanya.

Untuk akses peradilan, MA menurutnya, juga melakukan perbaikan. Kapasitas sumber daya manusia (SDM) MA dan lembaga peradilan di bawahnya juga ditingkatkan dengan memberikan pelatihan kepada elemen di dalamnya.

“Kita ada dua pusat pelatihan. Satu, pelatihan untuk kepemimpinan peradilan. Kemudian (kedua), pelatihan teknis hukum, mulai dari pelatihan calon hakim sampai pelatihan berkelanjutan karena hukum itu berkembang,” jelas Takdir.

Langkah lain yang dilakukan adalah dengan meningkatkan pengawasan terhadap keluarga besar MA dan lembaga peradilan di bawahnya melalui badan pengawasan. “Ini untuk memastikan norma-norma etik pedoman perilaku dipatuhi,” ucapnya.

Takdir mengatakan, MA juga melakukan perbaikan organisasi secara keseluruhan. Restrukturisasi menurutnya sudah dilakukan dan terus berjalan. Hal itu berbeda dengan MA beberapa tahun lalu.

“Restrukturisasi ini hal baru. Dulu MA itu adalah hanya mengurus teknis hukum. Sekarang juga mengurusi SDM, (sampai) keuangan,” tuturnya.

Langkah lainnya, MA dan lembaga peradilan di bawahnya sudah mulai memaksimalkan penggunaan teknologi informasi. Penggunaan kertas dalam pekerjaan sudah dikurangi dengan beralih menggunakan komputerisasi.

“Di samping itu, ada surat edaran dari MA yang memberikan batasan penyelesaian sebuah perkara (maksimal lima bulan). Kalau lewat dari batasan tersebut akan mendapatkan perhatian, teguran, peringatan dari Ketua MA,” tegasnya.

Menurutnya, hasil positif sudah mulai terlihat. Pada 2016 misalnya, jumlah tunggakan perkara di MA kurang dari 3 ribu perkara. Padahal, beberapa tahun lalu jumlah tunggakan perkara bisa lebih dari 8 ribu. Ia pun berharap kinerja MA dan lembaga peradilan di bawahnya ke depan semakin meningkat.

“Mudah-mudahan masalah yang dihadapi peradilan di Indonesia terselesaikan, bagaimana menyelesaikan perkara dengan cepat, bagaimana menghasilkan putusan adil atau konsisten, termasuk jangka waktu perkara,” ujarnya.

Check Also

Juru Bicara MA, Suhadi datangi Gedung KPK (foto: Badrie/Okezone)

Ketua PT Manado Kena OTT KPK, MA: Kami Sangat Kecewa!

  JAKARTA – Juru Bicara Mahkamah Agung (MA) Suhadi menyambangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.