Home / Fokus Redaksi / Menanti Rakyat Amerika Punya Presiden Baru
apres AS dari Partai Republik Donald Trump dan Capres AS dari Partai Demokrat Hillary Clinton. (Foto: AP)

Menanti Rakyat Amerika Punya Presiden Baru

agregasi
agregasi

 

BARACK Obama sedang bersiap meninggalkan Ruang Oval. Setelah delapan tahun memimpin Amerika Serikat, presiden kulit hitam pertama di negara adidaya itu tak lama lagi meletakkan jabatannya.

Penggantinya? Publik Amerika-lah yang akan menentukan; apakah calon presiden dari Partai Republik Donald Trump atau calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton. Obama sendiri merupakan kandidat yang diusung Partai Demokrat saat mencalonkan diri pada pemilihan presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) 2009 lalu.

Selasa 8 November, waktu Amerika Serikat, rakyat AS akan berbondong-bondong ke tempat pemungutan suara (TPS) demi menggunakan hak suara mereka. Pemerintah Amerika tidak memberlakukan hari libur nasional meski menggelar pesta demokrasi akbar empat tahunan. Warga tetap bekerja dan beraktivitas seperti biasa dengan kelonggaran untuk memasukkan pilihan mereka dalam pilpres AS 2016.

Sebelum pemungutan suara massif hari ini, telah ada sekira 43 juta warga Amerika memilih presiden baru melalui mekanisme early vote. Sementara itu, warga Negeri Paman Sam di perantauan bisa turut terlibat dalam pilpres AS 2016 dengan mengirim surat suara via pos.

Suara rakyat tersebut akan masuk sebagai popular votes. Namun, pemenang pemungutan suara 8 November tidak serta-merta menjadi presiden AS berikutnya. Pasalnya, tidak seperti Indonesia yang menetapkan sistem pemilihan langsung oleh Rakyat, Amerika Serikat menetapkan sistem electoral vote untuk menentukan pemenang pilpres AS. Suara Dewan Perwakilan pemegang hak electoral vote inilah yang akan menetapkan siapa pengganti Obama setelah dua periode bertahta.

Sejatinya, peta dukungan bagi capres AS dari dua partai besar Republik dan Demokrat telah terpampang jelas. Setiap negara bagian telah menetapkan dukungan electoral votes bagi Trump maupun Hillary dalam Pilpres AS 2016. Misalnya, 20 negara bagian pasti akan mendukung Trump, sedangkan Hillary pasti didukung 17 negara bagian. Sisa 13 negara bagian lainnya merupakan medan pertempuran yang harus dimenangkan Trump dan Hillary jika ingin melenggang ke Gedung Putih.

Meski begitu, seiring kian dekatnya hari pemungutan suara dalam pilpres AS 2016, dinamika politik pun kian terasa cair. Penyelidikan kasus skandal e-mail Hillary yang kembali dibuka Biro Investigasi Federal AS (FBI) menurunkan pamor mantan ibu negara itu. Elektabilitasnya turun di beberapa negara bagian, pemilih pun melirik rivalnya.

Arah dukungan swing states, yaitu negara-negara yang penduduknya tidak menetapkan sikap pada salah satu calon, pun berubah. Ibarat mendapat angin segar, Trump akan meraih kemenangan di Pilpres AS 2016 jika sanggup menarik hati pemilih elektoral di berbagai swing states itu.

Amerika tidak menerapkan masa tenang menjelang pemilu. Tak heran, hingga H-1 pemungutan suara, Trump dan Hillary masih menggelar kampanye demi menguatkan dukungan. Seperti halnya di Indonesia, Trump dan Hillary juga didukung oleh para artis dan public figure. Tentu saja, dengan harapan para penggemar para selebriti itu akan turut memilih kandidat yang sama dengan idolanya.

Hal yang cukup unik adalah, sistem pemilu Amerika memungkinkan warganya mengoreksi pilihan dalam pilpres AS hingga maksimal tiga kali. Artinya, jika seorang pemilih telah menggunakan hak suara namun kemudian berubah pikiran, ia dapat kembali ke TPS dan mengoreksi pilihannya. Sistem koreksi umumnya ini diterapkan di negara-negara bagian yang menggelar early voting.

Tak hanya itu, warga AS juga bisa saling tukar suara untuk memastikan jagoan politiknya menang atau menjegal capres tertentu. Cara ini dilakukan oleh puluhan ribu pemilih, biasanya di swing state di mana satu suara electoral vote amat menentukan kemenangan kandidat dalam pilpres AS.

Setelah pemilihan presiden secara nasional, Dewan Perwakilan AS akan bersidang pada 15 Desember dan menggunakan hak electoral vote mereka. Hasil akhir pilpres AS 2016 baru akan diumumkan pada Januari 2017 diikuti pelantikan presiden terpilih pada bulan yang sama.

Siapa pun pemenangnya, Hillary maupun Trump akan mencatatkan sejarah tersendiri dalam buku demokrasi Amerika. Jika Hillary menang, maka ia akan menjadi perempuan pertama yang memimpin AS. Jika Trump menang, maka ia akan menjadi orang pertama yang berkantor di Gedung Putih tanpa pengalaman politik sebagai gubernur atau anggota kongres.

Check Also

Bebaskan Pastor AS, Trump: “Terima Kasih Erdogan”

ANKARA, Waspada.co.id – Andrew Brunson, seorang pastor yang ditahan di Turki selama dua tahun terakhir, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: