Home / Warta / Indonesia Hari Ini / Megawati Institute Gelar Diskusi ‘Ngaji Bareng Bung Karno’
WOL Photo

Megawati Institute Gelar Diskusi ‘Ngaji Bareng Bung Karno’

JAKARTA, WOL – Megawati Institute, yang merupakan lembaga independen dalam pengembangan pemikiran dan penelitian persoalan-persoalan kenegaraan dan kebangsaan, menggelar serial diskusi ‘Ngaji Bareng Bung Karno’. Acara ini dilaksanakan di kantor Megawati Institute, gedung Priamanaya, Jalan Proklamasi, Menteng, dalam beberapa sesi dan dalam beberapa hari.

Dalam acara perdana yang disertai dengan buka puasa bersama adalah terkait dengan pemikiran-pemikiran ke-islaman Bung Karno dan pergulatannya dengan Sarikat Islam, Persatuan Islam dan Wahabi. Dalam penjelasannya, Ketua Umum Wanita Sarikat Islam, Valina Sinka Subekti, mengatakan bahwa pikiran-pikiran ke-islaman Bung Karno tidak lepas dari pengaruh HOS Cokromanito. Cokro, merupakan salah seorang inspirator Bung Karno, ketika masih muda.

“Saat di Surabaya, ketika Soekarno kost di Gang Peneleh, Soekarno mendapat pencerahan politik dari Pak Cokro, kemana-mana Soekarno diajak pak Cokro dalam gerakan dan rapat-rapat SI. Di saat yang sama, Soekarno juga mendapat pengajaran dari KH Ahmad Dahlan, yang saat itu sudah beberapa kali ke Surabaya,” katanya, Selasa (6/6).

Valina menjelaskan bahwa sosialisme Islam ala HOS Cokroaminoto bukanlah sosialisme ala Barat. Melainkan benar-benar sosialisme yang berasal dari sumber ajaran Islam itu sendiri. Dalam sosialisme Islam ini lah muncul terma-terma keadilan dan kesetaraan.

“Maka Bung Karno ketika sudah dewasa berjuang mensejahterakan rakyat yang nilai-nilai Ketuhanan,” ungkap Valina, sambil memuji Soekarno sebagai pemikir dan pejuang besar Islam.

Antropolog, Amich Alhumami, menjelaskan persentuhan Soekarno dan Tuan Hassan dari PERSIS. Kata Amich, semangat pembaharuan Islam ala Tuan Hassan bertemu dengan semangat pemikiran Islam progressif Bung Karno. Pemikiran Islam Bung Karno sangat maju sebagaimana tercermin dalam korespondensi antara Tuan Hassan dengan Soekarno dalam ‘Surat-Surat Islam dari Ende’.

“Bung Karno misalnya menentang aristokrasi Islam. Bung Karno juga meminta kepada Tuan Hassan untuk mengirim kitab tafsir babon, yang biasa digunakan oleh para ulama besar, yaitu tafsir al-jauhari. Ini menunjukkan bahwa pikiran keislaman Soekarno sangat mendalam,” kata Amich.

Amich menilai, Soekarno merupakan orang yang sangat cerdas. Sebab Soekarno bisa menyerap beragam macam ilmu. Soekarno, yang seorang Ir (insinyur, red) mampu memahami pemikiran-pemikiran sosiologi Barat dengan sangat baik dan di saat yang sama memahami dengan baik, pikiran-pikiran keislaman.

Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq Mughni, menilai bahwa pikiran Bung Karno ini sangat komplek. Di satu sisi, Bung Karno berpikiran sangat purifikatif seperti Wahabi saat itu, dalam artian ingin memurnikan tauhid, namun purifikasi bung Karno beda dengan tekstualisme ala Wahabi saat itu. Di saat yang sama juga pikiran-pikiran Soekarno sangat rasional.(wol/rls/mrz/data1)

Editor: SASTROY BANGUN

Check Also

Alumni 212 Meminta Umat Tetap Tenang

JAKARTA, WOL – Dewan Pengurus Pusat Persaudaraan Alumni 212 (DPP PA 212) menanggapi polemik puisi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: