_
Home / Warta / Indonesia Hari Ini / Lirih Veteran: Kami Hanya Diingat Setahun Sekali, Sangat Tidak Adil
Pertrus Dimoe berharap Indonesia tetap utuh (Foto: Adi Rianghepat/Okezone)

Lirih Veteran: Kami Hanya Diingat Setahun Sekali, Sangat Tidak Adil

agregasi

 

KUPANG – Usianya sudah tak muda lagi. 15 Mei 2019 silam, veteran Petrus Dimoe berumur 82. Namun fisiknya masih tampak kekar dan masih bersemangat. Hal itu terlihat dari semangatnya berkisah tentang perjalanan perjuangannya, saat ditemui di kediamannya yang berlokasi di Perumahan Lopo Indah Permai Blok C No 80 Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bersama istrinya Adna Marlia Dimoe-Sahaka, tentara yang pernah menjadi pasukan penumpas Gerakan Operasi Militer Empat (GOM IV) Pemberantasan Gerakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan pada 1959-1960, GOM IV pemberantasan Gerakan Kahar Muzakar di Sulawesi Tenggara 1965-1966 dan GOM III serta Pemberantasan Pemberontakan Semoukil (Republik Maluku Selatan) pada 1961-1962 itu menghabiskan sisa hidupnya berdua.

“Anak-anak sudah berkeluarga dan semuanya mendiami rumahnya masing-masing. Di rumah yang berukuran 36×10 meter inilah saya dan istri saya meniti hari-hari senja kami berdua,” tutur prajurit TNI AD yang memulai kariernya pada tahun 1958 dan pensiun pada 1986 dengan pangkat Sersan Mayor di jabatan Kepala Pos Militer (Kaposmil Kodim 1618 TTU) Imindam IX Udayana.

Ayah 8 anak itu enggan banyak bicara saat disinggung soal kesejahteraan yang diperolehnya di senja kala sisa hidupnya itu. Entah karena kepasrahannya terhap kebijakan negara atau hal lainnya. Namun yang pasti dia mengaku butuh perhatian serius pemerintah untuk seluruh veteran di negeri ini.

Dia menyampaikan masih ada sejumlah veteran yang di masa tuanya hidup dalam kondisi tak beruntung, memprihatinkan dan tak menentu. Imbal jasa yang diperoleh di masa tua para veteran masih jauh dari pengorbanan yang sudah diberikan demi merah putih dan Tanah Air Indonesia tercinta ini.

Para veteran, kata dia hanya diingat setahun sekali jelang perayaan HUT kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. Bentuk perhatian pun hanya sekadarnya. Veteran hanya diharapkan hadir mengikuti seremoni peringatan HUT RI itu. Tak ada yang lain.

“Semuanya hanya sekadar seremonial agar terkesan ada perhatian bagi veteran dari pemerintah. Sangat tak adil,” tuturnya dengan suara yang agak gemetar seolah menahan kesedihannya terhadap nasib yang dialaminya bersama ribuan veteran lainnya.

Tak sampai di situ, tentara yang menamatkan pendidikan terakhirnya di Sekolah Guru Bawah (SGB) itu menyebut, pengorbanan jiwa dan raga di masa-masa perjuangan yang dilalui oleh para veteran sudah terbukti dimana Indonesia merdeka dan berdaulat dan hingga di masa jayanya kini.

Banyak dari sesama pejuang yang harus cacat fisik dan bahkan harus gugur di medan pertempuran. “Lantas apakah yang dialami para veteran di masa tuanya ini sudah adil? Saya kira masih jauh dari adil,” katanya lagi dengan nada lirih.

Namun begitu, penerima sejumlah sejumlah bintang jasa dan penghargaan, masing-masing, Satya Lencana Prajurit Tauladan 1959 (Dinilai cakap dan disiplin), Satya Lencana Penegak G 30 S PKI Tahun 1965, Satya Lencana Kesetiaan 8 Tahun di Mataram, Satya Lencana Kesetiaan 16 Tahun di Mataram serta Satya Lencana Kesetiaan 24 Tahun di Mataram itu hanya mengatakan jika hal itu sudah menjadi tugas yang harus diembannya sebagai seorang pejuang. Lebih dari itu semua, dia hanya bisa berharap ada kebijakan lebih bagi dia dan seluruh veteran lainnya.

Check Also

Aminullah: Pejuang Kemerdekaan Harus Dihargai

BANDA ACEH, Waspada.co.id – Dalam rangka memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-74 dan mengenang jasa para ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.