Home / Warta / Mancanegara / Korea Selatan dan AS Mulai Pecah Kongsi soal Korea Utara
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-Un (Korea Summit Press Pool/Pool via Reuters)

Korea Selatan dan AS Mulai Pecah Kongsi soal Korea Utara

Waspada.co.id – Aliansi Korea Selatan dan AS semakin merenggang, bahkan kedua negara ini bergerak menuju arah yang berbeda, dalam menghadapi Korea Utara yang menurut pengamat bisa mengancam proses diplomatik di semenanjung Korea.

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in akan berkunjung ke Pyongyang bulan ini untuk mengikuti pertemuan puncak yang ketiga tahun ini dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Seoul mengatakan agenda pertemuan itu adalah proses denuklirisasi Korea Utara.

Pyongyang juga menegaskan kembali komitmen untuk menghentikan program nuklirnya, namun pernyataan-pernyataan diplomatis kedua kubu bisa berubah di masa mendatang.

Sementara itu, para pejabat senior AS selama beberapa minggu terakhir merujuk pada istilah yang lebih langsung, yaitu “denuklirisasi Korea Utara terakhir dan terverifikasi”. Amerika mengatakan Kim Jong Un menjanjikan hal itu dalam pertemuan puncak dengan Presiden Donald Trump di Singapura.

Janji yang tidak pernah diungkap oleh Pyongyang secara terbuka.

Amerika Serikat sendiri terkadang mengirim pesan berbeda terkait kebijakannya di Korea Utara.

Pada Kamis (6/9), Menlu Mike Pompeo mengatakan Korea Utara masih memiliki “banyak pekerjaan yang harus dilakukan”, sementara Presiden Trump mengucapkan terima kasih kepada Kim Jong Un dan mengunggah cuitan: “Kita akan menyelesaikannya bersama-sama.”

“Sudah jelas Seoul dan Washington bergerak dalam kecepatan berbeda dalam berhubungan dengan Pyongyang,” kata Evans Revere dari Institut Brookings di Washington.

“Semakin jelas terlihat bahwa kedua sekutu ini tidak lagi memiliki pandangan sama dalam isu Korea Utara.”

Revere mengatakan sementara Washington memprioritaskan perlucutan senjata nuklir Pyongyang, Seoul lebih menekankan pada upaya mengurangi ketegangan.

Langkah-langkah positif besar baru oleh Korea Selatan ini “akan memicu protes dari Washington, sehingga muncul kecurigaan mengenai agenda (Seoul) yang mengancam koordinasi aliansi (AS-Korea),” tambahnya.

‘Tidak Tulus, Tak Jujur, Dangkal’

Andrei Lankov dari Korea Risk Group mengatakan Korea Selatan dan Amerika Serikat saat ini “saling bertentangan” dalam masalah Korea Utara karena kepentingan mendasar mereka berbeda.

“Bagi Amerika Serikat satu-satunya isu, alasan khawatir dengan Korea Utara, adalah senjata nuklir. Mereka tidak akan berhenti hingga isu nuklir ini diselesaikan,” kata Lankov.

Di sisi lain, Korea Selatan “bisa menerima Korea Utara yang memiliki nuklir,” tambahnya. “Bagi mereka jauh lebih penting mempertahankan status quo stabilitas.” Tetapi Lankov memperingatkan Pyongyang tidak akan pernah menyerahkan senjata nuklir mereka karena para pemimpin korea menganggap langkah itu sebagai “bunuh diri bersama”.

Jika proses diplomatik yang kini ada gagal, Washington bisa kembali mengancam Pyongyang dan kemungkinan aksi militer yang bisa meningkat dan merambat ke Korea Selatan. Untuk mencegah hal itu, Presiden Moon Jae-in menciptakan “satu gelombang optimisme tidak tulus, tak jujur dan dangkal,” kata Lankov.

“Pesannya adalah denuklirisasi sedang dalam proses padahal sebenarnya tidak, dan bahwa semua dalam keadaan baik.”

Dia mengatakan kedua sekutu, Amerika Serikat dan Korea Selatan, akan terlibat dalam “perselisihan yang belum pernah terjadi sejak lama”. Dengan kata lain Korea Selatan dan AS mulai pecah kongsi soal Korea Utara.

Duri utama antara Pyongyang dan Washington adalah deklarasi resmi akhir dari Perang Korea yang berakhir dengan gencatan senjata bukan dengan traktat perdamaian.

Kedua negara Korea berupaya mendapatkannya, namun Amerika Serikat menolak dengan alasan harus ada kemajuan dalam upaya melucuti senjata nuklir Pyongyang terlebih dahulu.

“Dalam daftar perundingan Korea Utara, (deklarasi) akan menjadi topik yang akan dibicarakan terlebih dahulu,” ujar John Delury dari Universitas Yonsei di Seoul.

“Mereka merasa kesal karena Amerika tidak memberi itu.”

Dan sementara Seoul dan Pyongyang bergerak berdasarkan “pendekatan yang sama”, proses AS-Korea Utara terhenti di saat kedua pihak seharusnya berkompromi.

“Ini satu masalah. Washington harus bergerak cepat,” kata Delury.

AS, yang mendukung Seoul dalam perang saudara Korea 1950-1953 menempatkan 28,5 ribu tentara di sana untuk menjaga Korea Selatan. Namun, Evans Revere dari Brookings Institute mengatakan menyatakan Perang Korea berakhir bisa membuat Korea Utara bersikeras bahwa tentara AS tidak lagi dibutuhkan di Korea Selatan.

Menurutnya, tujuan utama Pyongyang adalah “menciptakan situasi dimana Korea Utara yang memiliki senjata nuklir berhadapan dengan Korea Selatan yang tidak punya senjata nuklir dan tidak lagi diperkuat oleh tentara AS”. (cnn/data2)

Check Also

Terima Surat Kim Jong Un, Trump Siap Bertemu Lagi

WASHINGTON, Waspada.co.id – Presiden Donald Trump menyebut bahwa pihaknya mendapat surat bernada positif dari pimpinan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: