Breaking News
Home / Warta / Indonesia Hari Ini / Koalisi Indonesia Desak Pemerintah Selamatkan Orangutan Tapanuli
istimewa

Koalisi Indonesia Desak Pemerintah Selamatkan Orangutan Tapanuli

JAKARTA, Waspada.co.id – Sudah dipastikan akan terjadi pertikaian panjang demi menyelamatkan spesies orangutan langka yang baru saja ditemukan dari kepunahan di tangan proyek waduk seharga 1.6 juta dolar AS.

Selasa (5/3) kemarin, Pengadilan Negeri di Medan memutuskan situasi ini tidak menghentikan pembangunan waduk. Melihat hal tersebut, koalisi internasional organisasi dan pemimpin Indonesia memohon pada pemerintah membatalkan proyek tersebut dan menjaga ekosistem di sana untuk jangka panjang.

Waduk yang akan dibangun di Sungai Batang Toru Sumatera Utara bersama perusahaan hydroelectric raksasa dari Tiongkok, Sinohydro dengan dana dari Bank of China ini mengancam spesies orangutan terbaru dan mata pencaharian penduduk. Dengan bahaya kepunahan dan populasi hanya sekitar 800 ekor, diperkirakan jumlahnya sudah hampir setengahnya sejak 1985.

Proyek PLTA seharga 1.6 juta dolar AS ini merupakan yang terbesar di Sumatera, pertama kali diumumkan di 2011 dan dijadwalkan selesai pada tahun 2022. Tapi waduk sudah direncanakan sebelum ditemukannya Orangutan Tapanuli. Hal ini menunjukkan bahwa proses perencanaan lingkungannya tidak memperhatikan bahaya punahnya spesies ini.

Kepemilikan proyek ini diduga sebagai bagian dari Belt and Road Initiative milik Tiongkok, juga tumpah tindih antara Indonesia dan Tiongkok, pendanaan dari Tiongkok, dan perusahaan synohydro milik negara Tiongkok.

“Investasi Tiongkok ini dapat berpotensi membawa manfaat, tapi berisiko mengotori reputasi Belt and Road Initiative. Kami harap pemerintah Tiongkok serius mempertimbangkan kembali proyek ini, mengingat penemuan Orangutan Tapanuli,” kata Panut Hadisiswoyo, Founding Director Pusat Informasi Orangutan dalam rilis yang diterima Waspada Online, Rabu (6/3).

Salah satu penerima manfaat dari waduk ini adalah tambang emas Martabe, yang saat ini digadang untuk mengembangkan habitat Orangutan Tapanuli. Tambang tersebut dimiliki oleh anak perusahaan konglomerat Inggris, Jardine Matheson yang pernah dikritik soal anak perusahaan sawitnya yang mengambil lahan habitat orangutan seluas 10 ribu are.

“Jardine sudah memdapatkan keuntungan dari perusahaan hutan seluas 10.000 are dan sekarang akan menambang emas yang tentunya memengaruhi kelangsungan hidup orangutan Tapanuli”, ujar Glenn Hurowitz, CEO Mighty Earth.

Pengkajian lingkungan juga menemukan bahwa konstruksi dan operasi dari waduk dan PLTA ini akan mengancam kehidupan ribuan penduduk di hilir yang bergantung pada ekosistem sungai untuk bertahan hidup seperti memancing, pertanian, transportasi dan kebutuhan air sehari-hari.

“Pemerintah Indonesia menghabiskan jutaan dolar untuk mempromosikan harta kekayaan alam kita melalui kampanye Wonderful Indonesia,” kata Hardi Baktiantoro dari Pusat Perlindungan Orangutan.

Ditambah lagi, area yang akan dibangun NSHE untuk waduk tersebut sarat aktivitas geologis yang intensif dan berisiko tinggi dengan potensi bencana berkelanjutan. Beberapa laporan menyebutkan tidak ada kebutuhan mendesak dari energi NSHE.

“Indonesia dapat memenuhi kebutuhan infrastruktur dan energi yang dibutuhkan tanpa membahayakan orangutan. Banyak pilihan lain seperti panas bumi, energi matahari yang bahkan lebih kecil, lebih murah, dan tidak merusak,” kata Arrum dari Program Konservasi Orangutan Sumatera. (wol/aa/rls/data1)

Editor AUSTIN TUMENGKOL

Check Also

Warga Aceh Tenggara Temukan Bayi Orangutan Tak Berdaya

KUTACANE, WOL – Seekor bayi orangutan Sumatera atau mawas ditemukan lemas tak berdaya oleh Budi, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: