Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Ketua Komisi VII Sebut Harga Minyak Jauh Dari Target APBN
WOL Photo/Ist

Ketua Komisi VII Sebut Harga Minyak Jauh Dari Target APBN

MEDAN, Waspada.co.id – Ketua Komisi VII DPR RI, Gus Irawan Pasaribu, menilai harga minyak yang berlaku di pasar internasional sekarang jauh dari target di APBN 2018 yang bergerak di angka 70-72 dolar AS per barel.

“Sementara di APBN kita masih 48 dolar AS per barel. Ini jauh sekali. Dan saya kira tidak akan turun lagi. Kalaupun turun hanya akan berada di kisaran 70-an dolar AS saja. Jadi ICP (Indonesian crude price) jauh dari target APBN,” katanya kepada wartawan melalui sambungan telepon, Selasa (11/9) kemarin.

Bahkan kenaikan harga minyak itu kian memberatkan pemerintah karena nilai tukar kurs juga sangat tinggi. “Sekarang lihat detilnya. Berapa nilai tukar rupiah dalam pergerakan riil? Dan berapa harga minyak acuan di pasar internasional.”

“Menurut saya dua hal ini menjadi deviasi terbesar yang terjadi dalam asumsi APBN. Dengan kondisi sekarang, pemerintah mengakui APBN sangat kredibel. Namun di sisi lain mereka juga minta penambahan subsidi,” jelasnya.

“Untuk penambahan subsidi, pemerintah menganggap tidak perlu membahasnya dengan DPR. Sehingga tidak ada APBN perubahan. Inilah keanehan tersebut. Untuk menyepakati satu hal prinsip dalam anggaran negara kemudian banyak aturan dilanggar. Bahkan nilai tukar rupiah yang terjadi hari ini dan ke depan sebenarnya menyimpang jauh dari target APBN pemerintah,” kata Gus Irawan yang juga ketua DPD Gerindra Sumut.

“Saya herannya Menteri Keuangan kita baru dinobatkan sebagai salah satu menteri keuangan terbaik sedunia. Tapi sejujurnya saya tidak tahu apa prestasi yang membanggakan. Dengan penyimpangan nilai rupiah dan terjadinya pergerakan harga minyak yang di luar proyeksi harusnya APBN mengalami perubahan, apalagi ditambah keinginan pemerintah menambah subsidi sektor energy,” kata Gus Irawan Pasaribu.

“Dengan kondisi sekarang harusnya APBN diubah. Memang perubahan APBN akan membutuhkan waktu untuk penyesuaian. Tapi tentu kita tidak bisa membiarkan asumsi makro yang terus berubah. Begini, simpulan dalam asumsi pemerintah nilai tukar rupiah di semester dua menjadi Rp13.900-an. Apakah masih ideal dengan proyeksi di Rp13.400. Sudah sangat jauh simpangannya,” ungkap dia.

Bahkan, jelasnya, hal ini akan berimbas pada pembayaran utang luar negeri. Beberapa hari lalu, muncul berita dari statement Menteri Keuangan sudah pusing memikirkan cicilan utang yang jatuh tempo.

“Saya lebih yakin sebenarnya APBN tanpa perubahan ini tidak kredibel. Perlu banyak penyesuaian. Baru kali ini sejarahnya APBN kita tidak dibawa ke DPR-RI untuk perubahan. Jadi wajar kalau gerakan ketidakpuasan kepada pemerintah makin tinggi,” jelasnya.

“Tanpa dikomando pun masyarakat akan menyuarakan ketidaksenangannya dengan kondisi saat ini. Harga-harga menjadi lebih mahal, tapi masyarakat dan kelompok pendukungnya seolah-olah menyatakan ekonomi kita tenang-tenang saja. Ini bahaya sebenarnya,” tutur dia. (wol/min)

Editor: Agus Utama

Check Also

Gerindra Sumut: Kita Harus Merdeka dan Berdaulat

MEDAN, Waspada.co.id – Jajaran pimpinan dan kader DPD Partai Gerindra Sumut mengadakan upacara bendera dalam ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: