Home / Warta / Indonesia Hari Ini / Kepergian Gus Yahya ke Israel Dinilai Dorong Perdamaian Israel-Palestina
Istimewa

Kepergian Gus Yahya ke Israel Dinilai Dorong Perdamaian Israel-Palestina

JAKARTA, Waspada.co.id – Pendiri Pusat Kajian Pengembangan (PKP) Berdikari Osmar Tanjung menilai, kehadiran Kiai Yahya Staquf dalam American-Jewish Committee di Israel bukan atas nama PB NU dan Wantimpres. Yahya kala itu berangkat sebagai seorang yang memperjuangkan ide-ide keadilan dan perdamaian yang digagas oleh guru beliau, Gus Dur.

Osman mengatakan, sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat harus ‘adil dalam pikiran’. Publik tidak boleh dibiarkan terus-terusan mengonsumsi informasi yang menghasut yang didasari pada upaya penyebaran kebencian dan syahwat kekuasaan.

“Misi Kiai Yahya jelas membawa misi mendorong upaya dialog perdamaian antar warga. Strategi yang diupayakan beliau adalah mempengaruhi masyarakat sipil di dunia agar terbangun suatu ‘dialog perdamaian’, khususnya yang berhubungan dengan perjuangan bangsa Palestina,” katanya di Jakarta, Kamis (14/6) kemarin.

Sementara itu, Juru Bicara PKP Berdikari Abi Rekso mengungkapkan, niatan Kiai Yahya Cholil Stafuq patut didukung oleh semua pihak. Pendekatan kekerasan, apalagi menggunakan militer, tidak pernah menghasilkan perdamaian yang langgeng.

PKP Berdikari mencatat pernyataan Presiden Joko Widodo, bahwa kehadiran Kiai Yahya Cholil Staquf tidak merepresentasikan pemerintah. Begitu juga pendapat Kiai Said Aqil Siroj selaku Ketua Umum PBNU, bahwa kehadiran Kiai Yahya Cholil Staquf bukan atas nama PB NU.

“Jelas bahwa politik luar negeri kita adalah politik ‘bebas aktif’ dalam mendorong terwujudnya perdamaian dunia. Oleh karena itu, kehadiran Kiai Yahya Staqufalah harus diapresiasi sebagai wujud praktik diplomasi Internasional sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi,” ujar Abi Rekso.

Untuk diketahui, dalam isi ceramah Kiai Yahya Cholil Staquf tidak ada satu kalimat pun membenarkan invasi atau tidak kekerasan oleh negara Israel. Dia memaparkan bahwa dunia sedang dilanda krisis beragama. Artinya agama hanya dijadikan alat untuk berkuasa dan mencari keuntungan. Tidak terkecuali di Indonesia yang majemuk masyarakatnya yang hidup dalam kebhinekaan. (merdeka/ags/data1)

Check Also

Raja Salman dan Putra Mahkota Mulai Berseberangan?

RIYADH,WOL – Raja Salman dari Arab Saudi menegaskan kembali dukungan untuk Palestina. Hal tersebut disampaikannya ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: