Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Jurus Tiga Otoritas Ekonomi Hadapi Pelemahan Rupiah
ilustrasi WOL

Jurus Tiga Otoritas Ekonomi Hadapi Pelemahan Rupiah

Waspada.co.id – Bank Indonesia (BI) akan terus menerapkan kebijakan moneter ketat hingga 2019. Langkah ini diperlukan untuk menjaga nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang masih akan berlanjut hingga tahun depan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan, bank sentral Amerika Serikat (AS) the Federal Reserve (the Fed) masih akan menaikkan suku bunganya pada 2019. Sehingga, negara-negara lain perlu ikut menyesuaikan suku bunga.

“The Fed akan kembali menaikkan suku bunga di rentang 0,75 persen-1,25 persen pada 2019. Jika itu terjadi, Indonesia perlu menyesuaikan suku bunga demi menjaga daya tarik pasar keuangan sehingga dana asing tetap masuk ke dalam negeri,” jelas Mirza saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, di Jakarta, Kamis (13/9).

Walau tahun depan suku bunga the Fed akan naik lagi, Mirza meyakini tekanan global dapat lebih terkontrol. Atas alasan itu pula, BI dan pemerintah berani memasang asumsi kurs dalam RAPBN 2019 sebesar Rp 14.300-Rp 14.700 per dolar AS.

BI menduga kenaikan suku bunga the Fed akan terjadi dari level 2 persen menjadi 3,25 persen. Rentang kenaikan itu tidak akan menimbulkan gejolak global ketika suku bunga the Fed naik dari 0,25 persen menjadi 2 persen.

Selain itu, rencana Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB), yang akan menaikkan suku bunga acuannya pada 2019 mendatang, juga tidak akan banyak berpengaruh terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kementerian Keuangan menyebutkan sejumlah masaa krusial yang harus diperhatikan atas nilai tukar rupiah saat ini. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, ada dua faktor utama yang diperhatikan pemerintah dalam menentukan asumsi kurs 2019. Kedua faktor tersebut adalah perang dagang dan kenaikan suku bunga bank sentral AS.

Sri menjelaskan, dampak perang dagang yang terjadi di dunia sebenarnya tidak memiliki efek besar terhadap perekonomian Indonesia. Akan tetapi, perang dagang dapat berefek pada sisi psikologis para manajer investasi terhadap negara berkembang. Sehingga, arus modal masuk dapat terganggu.

Menurut dia, arus modal masuk untuk portofolio merupakan komponen yang cukup penting. Apalagi, kepemilikan surat utang negara (SUN) oleh asing nonresiden mencapai 39 persen.

Intinya, kata Sri, pemerintah tidak hanya akan mengantisipasi faktor permintaan dan penawaran dolar AS terhadap rupiah, tetapi juga aspek psikologis. “Kami bersama BI dan OJK akan terus melakukan optimalisasi bauran kebijakan,” kata Sri.

Sementara, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menegaskan, perbankan dalam negeri siap menghadapi gejolak perekonomian dunia. Pasalnya, hampir seluruh bank di Tanah Air sangat berhati-hati dalam menyalurkan kredit valuta asing (valas).

Setelah krisis 1998, perbankan Indonesia berada dalam kondisi sehat. Dia mengatakan, perbankan Indonesia cenderung bermain di dalam negeri. “Mereka lebih banyak salurkan kredit dalam mata uang rupiah,” ujar Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah.

Ia menyebutkan, rata-rata bank hanya menyalurkan kredit valas sekitar 14 persen dari total kreditnya. Dengan begitu, perbankan sangat konservatif dalam memberikan kredit valas. Maka, dirinya menegaskan, kondisi perekonomian dunia tidak banyak memengaruhi kondisi perbankan Indonesia.

Berikut Langkah Taktis BI, Menkeu, dan LPS

Bank Indonesia
– Terus menerapkan kebijakan moneter ketat.
– Berpotensi kembali menyesuaikan suku bunga.
– Suku bunga harus jadi daya tarik pasar keuangan.

Kementerian Keuangan
– Pemerintah mencermati perang dagang AS dan suku bunga AS.
– Perang dagang berdampak psikologis ke pasar finansial Indonesia.
– Kepemilikan surat utang Indonesia oleh asing mencapai 39 persen.

Lembaga Penjamin Simpanan
– Perbankan nasional siap menghadapi gejolak ekonomi.
– Setelah 1998, perbankan nasional dalam kondisi sehat.
– Perbankan nasional konservatif menyalurkan kredit valas.
– Kemungkinan menaikkan suku bunga kredit valas.

Sudah hampir dua pekan tekanan dolar AS ke rupiah masih terus terjadi. Meski beberapa hari terakhir rupiah bisa menguat tipis, secara keseluruhan, tekanan dolar AS terus menarik rupiah menjauh dari level yang diinginkan pemerintah dalam APBN 2018.

Kemarin, rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (13) bergerak ke posisi Rp 14.792 per dolar AS atau terapresiasi dibandingkan posisi sebelumnya Rp 14.803 per dolar AS.

Adapun berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, mata uang rupiah menguat menjadi Rp 14.794 per dolar AS dibandingkan pada Rabu (12/9) yang berada di level Rp 14.863 per dolar AS. (republika)

Check Also

BI Sumut Kembangkan Klaster Padi Organik di Binjai

BINJAI, Waspada.co.id – Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara kembangkan Klaster Padi Organik di Kelurahan Tanah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: