_
Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Januari-Juni 2019, Investasi Dalam Negeri Tumbuh 9,4 Persen
WOL Ilustrasi

Januari-Juni 2019, Investasi Dalam Negeri Tumbuh 9,4 Persen

JAKARTA, Waspada.co.id – Total investasi di dalam negeri sepanjang Januari—Juni 2019 tumbuh sebesar 9,4 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang hanya 7,4 persen.

Secara nilai, penanaman modal pada semester I/2019 mencapai Rp395,6 triliun, atau naik 9,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp361,6 triliun. Pertumbuhan investasi pada paruh pertama tahun ini lebih besar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 7,4 persen secara tahunan.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) pada semester I/2019 Rp182,8 triliun naik 16,4 persen secara tahunan, sedangkan penanaman modal asing (PMA) Rp212,8 triliun naik 4,0 persen secara tahunan.

Realisasi investasi tersebut mampu menyerap 490.715 tenaga kerja.

Kepala BKPM ,Thomas Trikasih Lembong menuturkan realisasi investasi pada Januari-Juni 2019 didominasi sektor infrastruktur, seperti transportasi, telekomunikasi, pembangkit listrik, dan konstruksi.

“Sementara itu, realisasi investasi pada kuartal II/2019 sebesar Rp200,5 triliun, naik 13,7 persen secara tahunan.

Menurutnya, pertumbuhan realisasi investasi tersebut menjadi sinyal penanaman modal pada semester II/2019 akan kembali meningkat,” tuturnya, Sabtu (3/8).

Tentunya tidak lepas dari kondisi politik dalam negeri yang makin stabil setelah penetapan presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019 – 2024.

“Khusus penanaman modal asing, kinerja investasi pada kuartal II/2019 belum bergerak ke arah positif. Realisasi PMA pada kuartal II/2019 hanya sebesar US$6,90 miliar, atau turun 3,36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$7,14 miliar,” katanya.

Kendati terjadi penurunan, realisasi tersebut masih tumbuh jika dikonversi ke dalam rupiah, yaitu mencapai Rp104,9 triliun, atau naik 9,6 persen (y-o-y). Hal itu disebabkan adanya perbedaan asumsi kurs yang digunakan sebagai acuan untuk menghitung kinerja investasi tersebut.

Salah satu contoh, selama kuartal II/2018, menggunakan asumsi kurs Rp13.400 per US$, sedangkan pada periode yang sama tahun ini menggunakan acuan Rp15.000 per US$.

Plt. Deputi Bidang Pengendalian, Pelaksanaan, Penanaman Modal, BKPM Farah Ratnadewi Indriani menambahkan dalam menghitung realisasi investasi asing, pihaknya selalu menggunakan acuan dalam APBN.

“Kurs saat ini kami memakai Rp15.000, sesuai dengan APBN 2019,” tandasnya.(wol/rls/data2)

Check Also

APBN Terbatas, Pembiayaan Infrastruktur Digeber Pakai KPBU

  JAKARTA – Pemerintah terus mendorong inovasi pembiayaan infrastruktur melalui program Kerja sama Pemerintah Badan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.