Home / Warta / Indonesia Hari Ini / Jangan Mudah Sematkan Masjid Terpapar Paham Radikalisme
Seorang membaca Alquran di Masjid Istiqlal. Foto: OkezoneArif Julianto

Jangan Mudah Sematkan Masjid Terpapar Paham Radikalisme

agregasi
agregasi

 

JAKARTA – Muhammadiyah mengimbau kepada semua pihak untuk tidak mudah menyematkan masjid terpapar paham radikalisme.

Hal ini menyikapi cendekiawan Muslim Azyumardi Azra yang mengutip pernyataan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid soal adanya temuan 40 masjid di DKI Jakarta terpapar paham radikalisme.

Ketua PP Muhammadiyah, Profesor Dadang Kahmad mengingatkan semua pihak untuk berhati-hati memberikan label radikal kepada kelompok tertentu.

“Mungkin sangat memprihatinkan bila itu terjadi bahwa masjid dipakai sebagai persemaian radikalisme. Tapi kita harus hati-hati mengecap atau memberi stempel radikal kepada kelompok,” kata Dadang di Jakarta, Jumat (8/6/2018).

Ilustrasi Foto/Antara

Menurut Dadang, indikator radikal yang dialamatkan pada masjid ataupun kelompok tertentu harus jelas dan kuat. Selain itu, harus pula mengacu pada hasil penelitian yang ilmiah dan faktual.

“Tidak didasarkan pada kebencian pada satu kelompok,”jelasnya.

Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati ini menerangkan, radikal dalam konteks filsafat yakni berpikir secara mendalam dan mengakar.

Pun demikian dalam tradisi di perguruan tinggi, radikal sejurus dengan sikap skeptis dan mendobrak kejumudan.

“Tapi sekarang radikal itu diartikan (sebagai) sesuatu yang intoleran,”imbuh Dadang.

Masjid Istiqlal. Foto/Okezone

Meski demikian, Dadang enggan berspekulasi mengenai validitas data 40 masjid di Ibu Kota terpapar paham radikal. Pasalnya, dirinya belum mengonfirmasi hal tersebut.

“Muhammadiyah belum menurunkan timnya untuk mengonfirmasi, jadi kita belum bisa mengiyakan atau menolak terhadap pernyataan itu,”jelasnya.

Muhammadiyah, kata Dadang, sejak berdiri pada 1912 silam sudah memberikan pengajaran ke-Islaman yang moderat, tengahan dan berorientasi pada kemajuan duniawi.

Persoalan ibadah ibadah mahdhah seperti salt, zakat, haji, puasa harus sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunnah.

“Tapi kalau dalam muamalah duniawiyah kita harus modern, harus menampilkan seorang yang maju memproduksi barang-barang baru,” ucapnya.

“Muhammadiyah sebagai organisasi bina ummah, membina masyarakat. Bukan bina daulah yang mendirikan negara Islam. Tidak pernah terpikir oleh Muhammadiyah ingin mendrikan negara Islam, tidak pernah,”pungkas Dadang.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia (DMI) Imam Addaruqutni meragukan data 40 masjid di DKI Jakarta terindikasi menyebarkan paham radikal.

Imam berujar, hingga kini DMI belum pernah menemukan masjid di Ibu Kota yang melahirkan kelompok teror. Dalam waktu dekat, pihaknya akan melakukan dialog dengan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di DKI untuk menyampaikan informasi yang benar terkait isu radikalisme.

Check Also

Ini Kata Menristekdikti Soal Sulitnya Kampus Tangkal Paham Radikal

JAKARTA, Waspada.co.id – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir tak menampik sampai ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: