Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Imbas Krisis Turki Bagi Indonesia, Ini Kata Gus Irawan
foto: istimewa

Imbas Krisis Turki Bagi Indonesia, Ini Kata Gus Irawan

MEDAN, Waspada.co.id – Ketua DPD Gerindra Sumut, Gus Irawan Pasaribu, mengatakan postur APBN yang terus defisit dari tahun ke tahun masih tak bisa diterjemahkan menjadi kesejahteraan bagi rakyat banyak. Ekonomi nasional pun tidak dinikmati rakyat banyak.

Bahkan, angka di kuartal II sebesar 5,27 persen itupun hanya bersifat sementara, belum mampu merembes sampai ke kelas masyarakat menengah ke bawah yang proporsinya sebesar 80 persen.

Selain itu, jelasnya, fundamental ekonomi di dalam negeri yang kurang bagus membuat daya tahan ekonomi Indonesia selalu terpengaruh oleh gejolak global. “Saat ini Turki sedang mengalami krisis ekonomi yang berimbas pada penurunan nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG).”

Rupiah sempat turun pada level terendah tahun ini, sebesar Rp14.583 per dolar AS. Sedangkan IHSG juga turun 3,55 persen dari 6 ribuan menjadi 5.861,246. Rupiah dan IHSG adalah dua hal yang saling berpengaruh. IHSG hanya bisa stabil jika rupiah berhasil dijaga. Tapi begitu rupiah melemah, IHSG juga akan ikut terkoreksi.

Menurutnya, pelemahan rupiah dan IHSG bukan melulu faktor eksternal. Untuk diketahui, current account deficit (CAD) Indonesia di kuartal II 2018 melebar menjadi 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Belum lagi cadangan devisa turun ke angka 118,3 miliar dolar AS pada akhir Juli 2018.

“Ini jelas memengaruhi respon global terhadap pasar dan nilai tukar kita. Menyusul kemudian IHSG. Krisis mata uang lira di Turki, memang sedikit-banyak turut berpengaruh terhadap penurunan IHSG, walaupun sifatnya hanya sementara,” katanya.

Tapi, kita tak perlu khawatir jika fundamental kita bagus. Masalahnya, fundamental kita juga tidak bagus-bagus amat, sehingga muncul sentimen negatif pasar terhadap kemungkinan munculnya efek domino di negara-negara emerging market, termasuk Indonesia,” ujar Anggota Fraksi Gerindra ini.

Saat ini depresiasi mata uang Turki menembus angka 40 persen. Ada kekhawatiran krisis Turki akan merambah ke Eropa dan bahkan global termasuk Indonesia. Menurut Gus Irawan Pasaribu, sebetulnya masalah besar ekonomi Indonesia ada pada pengelolaan internal yang keliru yang dikenal dengan account defisit, primary balance defisit, dan service payment defisit. (wol/ags/min)

Editor: Agus Utama

Check Also

Ketua Komisi VII: Perlu Terobosan Tingkatkan Produksi Migas

JAKARTA, Waspada.co.id – Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu mengatakan bahwa tidak tercapainya ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: