Breaking News
Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Gus: Kondisi Ekonomi Makro Indonesia Anomali
Istimewa
Istimewa

Gus: Kondisi Ekonomi Makro Indonesia Anomali

MEDAN, WOL – Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu menilai kondisi ekonomi makro Indonesia saat ini menghadapi anomali. “Anomali ini kan keanehan yang terjadi. Tidak seperti biasanya. Atau sering juga saya istilahkan paradox. Kondisi berbalikan antara satu sisi dengan sisi lain.”

Dia mengungkapkan hal itu kepada wartawan di Medan, Rabu (14/6), menyikapi kondisi ekonomi terkini yang disebutnya tidak lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, bahkan saat menyambut Idul Fitri ini. “Justru secara makro saya melihat ada kondisi penurunan dari sebelumnya,” kata dia.

Gus Irawan Pasaribu, yang juga wakil ketua Fraksi Gerindra di DPR-RI menyatakan anomali yang terjadi adalah ketika pemerintah dengan sampai hati mengurangi subsidi di sana sini. “Banyak komoditas strategis yang berhubungan dengan kebutuhan rakyat dipotong subsidinya. Dikurangi. Sebagian malah dihapuskan.”

“Harga bahan bakar, tarif listrik, gas tiga kilogram dan beberapa yang lain dicabut subsidinya. Tentu ini membebani rakyat. Tapi memang pemerintah penuh keberanian melakukan itu dengan janji pengalihan dana subsidi akan dialokasikan kepada hal-hal produktif. Padahal secara tidak langsung pemerintah makin memiskinkan rakyat,” tuturnya.

“Begitu harga bahan bakar dicabut, subsidi listrik dipotong dan gas tiga kilogram nanti akan naik saat itu jumlah penduduk miskin kian bertambah. Nah janji bahwa pemotongan subsidi akan dialihkan ke sektor produktif tidak bisa kita lihat. Artinya masyarakat sudah tambah miskin tapi sektor produktif yang dijanjikan tak terealisasi,” ujarnya.

Menurutnya, janji mendorong sektor produktif tidak tercermin dalam capaian angka makroekonomi pemerintah. “Pertumbuhan ekonomi kita saja stagnan. Angka pengangguran pun tidak turun. Demikian juga dengan kemiskinan,” tuturnya.

Padahal pemerintah dengan berani dan sebenarnya tega mencabut subsidi. “Sekarang harusnya pemerintah memikirkan besarnya belanja yang bisa digunakan untuk membangun infrastruktur jika semua alokasi subsidi masuk ke sektor produktif. Belum lagi tambahan pinjaman luar negeri yang jumlahnya luar biasa besar,” ungkapnya.

Pinjaman luar negeri Indonesia semakin meningkat dengan janji peningkatan kualitas dan pembangunan infrastruktur baru, kata dia. “Tapi paradox. Atau berlawanan,” jelasnya. Ternyata apa yang dilakukan tak mampu mendorong bangkitnya ekonomi Indonesia, ungkap Gus.

Check Also

istimewa

Komisi VII DPR Minta Menteri ESDM Evaluasi Permen Penghambat Investasi

JAKARTA, WOL – Komisi VII DPR RI meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.