Breaking News
Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Gus Irawan: Utang Luar Negeri Ancam APBN
Istimewa
Istimewa

Gus Irawan: Utang Luar Negeri Ancam APBN

JAKARTA, WOL – Wakil Ketua Fraksi Gerindra DPR-RI Gus Irawan Pasaribu menyatakan posisi utang luar negeri Indonesia saat ini mengancam APBN karena berpotensi melebihi batas defisit yang ditetapkan Undang-undang.

Ketua DPD Gerindra Sumut itu kepada wartawan di Jakarta, Kamis (3/8), mengungkapkan dalam pengesahan APBN perubahan 2017 yang sudah diparipurnakan muncul beberapa masalah. “Saya sudah sampaikan masalah itu karena Banggar berjalan sendiri menentukan acuan. Bukan hanya itu defisit dalam APBN perubahan pun melebar,” tuturnya.

Gus mengatakan dalam pengesahan tersebut defisit anggaran Rp397,2 triliun atau 2,92 persen dari PDB (outlook Rp362,9 triliun atau 2,92 persen dari PDB. Pelebaran defisit ini kian  besar, kata dia.

“Angka semula defisit anggaran dalam APBN 2017 adalah 2,41 persen, kemudian menjadi 2,67 persen sebelum pengesahan APBN-P 2017. Lalu meningkat lagi jadi 2,92 persen saat APBN-P diketok,” ungkap Gus. Pengakuan pemerintah, menurut Gus, pertambahan defisit mencapai Rp67 triliun. “Dari angka Rp330 triliun menjadi Rp397,2 triliun,” kata dia.

Artinya ada kekurangan pembiayaan di APBN antara penerimaan dengan belanja mendekati Rp400 triliun. “Munculnya pelebaran defisit karena pemerintah tidak akan mampu menggali target pajak yang dipatok yang meleset Rp50 triliun. Jadi dari target Rp1.489 triliun akan meleset. Lalu diturunkan menjadi Rp1.450 triliun,” tuturnya.

Gus mengatakan pelebaran defisit memang dimunculkan dalam APBN-P 2017 tapi pada akhirnya nanti pemerintah punya kalkulasi bahwa yang tercapai di akhir tahun anggaran adalah 2,67 persen. Sebab bisa saja ada anggaran yang tak terserap, kata Gus Irawan Pasaribu.

“Artinya pemerintah akan gagal lagi mencapai target penerimaan pajak.  Lucunya, sudahlah penerimaan pajak diturunkan, pemerintah malah menaikkan belanja negara sebesar Rp30,9 triliun,” ungkapnya.

Tentu hal tersebut menyebabkan defisit makin melebar, ujar dia. “Dengan begitu pemerintah pun akan menambah utang baru. Proyeksi utang baru itu sekira Rp67 triliun sehingga penambahan ini membuat total pembiayaan utang meningkat menjadi Rp330 triliun atau naik 20 persen di APBN-P 2017.”

Gus mengaku penambahan utang luar negeri semakin meningkat walaupun pada prinsipnya pemerintah menyatakan untuk menambah belanja infrastruktur. “Biasanya setiap government expenditure naik akan meningkatkan perekonomian. Baik itu investasi, penyerapan tenaga kerja serta pengurangan angka pengangguran.”

“Beban pemerintah pun kita berat karena semua bersumber dari utang selain pajak yang dibayarkan masyarakat,” ujarnya. Gus Irawan mengungkapkan jika tata kelola negara dilakukan hanya dengan menambah utang, keuangan pemerintah bisa bangkrut. “Defisit akan melewati angka tiga persen. Kalau sudah tiga persen berarti terjadi pelanggaran terhadap undang-undang. Kalau UU dilanggar pemerintah bisa diimpeach  oleh dewan,” tuturnya.

Dia menegaskan kebijakan pemerintah sekarang yang terus menambah utang dan menggali pajak secara ekspansif hingga menyasar masyarakat bawah tidak akan efektif jika kondisi ekonomi masyarakat secara riil tidak sejahtera.

“Coba sekarang tanya ke lapisan bawah. Rata-rata masyarakat mengeluh kok. Hidup makin sulit. Walaupun ada kenaikan penghasilan tapi kan mereka juga tertekan oleh biaya hidup yang kian berat. Itu merupakan efek kebijakan pemerintah yang banyak memangkas subsidi,” kata Gus Irawan. (wol/ags/min/data1)
Editor: Agus Utama

Check Also

WOL Photo/Eko Kurniawan

Effendi Simbolon: Pemuda Harus Siap Jadi Agen Perubahan

MEDAN, WOL – Peran pemuda sangat berpengaruh terhadap pembangunan Indonesia, termasuk Provinsi Sumatera Utara. Pemuda ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.