Breaking News
Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Gus Irawan: Stop Impor Sayur ke Sumut
foto: Istimewa
foto: Istimewa

Gus Irawan: Stop Impor Sayur ke Sumut

MEDAN, WOL – Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) wilayah Sumut mendesak pemerintah menghentikan impor sayur ke Sumatera Utara yang sebenarnya bisa dipenuhi dari pasokan lokal.

Ketua HKTI Sumut, Gus Irawan Pasaribu, mengungkapkan hal itu di pusat kebun hidroponik hidro tani sejahtera Sei Mencirim, Selasa (18/7) kemarin. Dia membandingkan selama ini volume impor sayur yang masuk Sumut lumayan tinggi.

Walaupun sebenarnya Sumatera Utara merupakan sentra penghasil sayur namun kapasitas impornya juga tinggi, kata Gus Irawan yang juga Ketua Komisi VII DPR-RI ini. Kalau disbanding-bandingkan sejak lima tahun lalu, volume impor sayur ke Sumut itu cenderung naik.

“Malah kalau saya tidak salah di tahun 2012 jumlahnya meningkat hingga 35 persen. Padahal kita tahu sendiri sentra sayur kita cukup banyak dari Simalungun, Karo dan wilayah tapanuli. Tapi kita harus impor lo,” jelasnya.

Gus mengatakan nilai impor sayur yang masuk Sumut itu nilainya ada di kisaran 30 juta dolar AS per tahun. Secara nasional jumlah impor sayur mencapai 500 juta dolar AS per tahun. Permintaan paling banyak itu memang dari hotel terutama standar internasional yang tak anggapannya tak bisa dipenuhi dari produksi lokal.

Dia menebaskan sayuran impor yang paling banyak masuk Sumut itu seperti bawang merah, bawang putih, wortel, jamur, cabai, bayam, sayuran segar lainnya, kentang dan kacang kapri. Sedangkan negara asalnya yakni China, Myanmar (Burma), Australia, India, Thailand, Ethiopia, Malaysia, Vietnam, United Kingdom (UK), Kenya dan Amerika Serikat.

Begitupun, sayuran impor ini juga sudah mulai beredar di sejumlah pasar maupun supermarket di Sumut diantaranya cabai, kentang, kubis, bawang putih dan bawang merah. Sejumlah komoditas ini sudah bebas dibeli oleh masyarakat (konsumen). Hal ini sangat dikhawatirkan akan meningkatkan konsumsi sayuran impor.

Selain impor sayuran, Sumut juga masih tetap mendatangkan berbagai jenis buah-buahan diantaranya jagung manis dari Amerika Serikat, alpukat dari Malaysia, Israel dan Afrika Selatan, komoditas jambu dari Thailand, mangga dari Taiwan, Thailand dan Afrika Selatan.

Gus menambahkan ada juga jeruk hibrida dalam bentuk segar dan kering yang berasal dari Taiwan, China, Singapura, Pakistan, Australia, Argentina dan Brasil. “Kemudian ada juga buah lemon impor, anggur, apel, pir, aprikot, cherri, strawberri, kiwi, durian, longan, jeruk, leci dan nangka,” jelasnya.

Dia mengaku sangat khawatir dengan kondisi ini. “Bayangkan sebenarnya di Sumut semua ada tapi masih harus didatangkan dari luar negeri. Itu sebabnya tekad saya untuk mengembangkan tanaman hidroponik dengan basis produksi sayur ini akan bisa menjangkau seluruh wilayah Sumatera Utara,” tuturnya.

Hingga saat ini hidro tani sejahtera yang ada di Sei Mencirim sudah berproduksi tapi baru dimanfaatkan untuk konsumsi masyarakat setempat. “Jiran tetangga yang ada di sini menjadi salah satu orang yang pertama menikmati panennya. Tentu selain sayur kami juga merancang peternakan ikan,” ungkapnya.

Gus mengaku makin memahami kenapa masyarakat Sumut masih tertinggal dengan daerah lain. “Faktanya adalah karena berbagai potensi yang ada tidak dimanfaatkan secara maksimal,” jelasnya.

Dengan membuat hidro tani sejahtera dengan nama produksi nabati, dia berharap produk segar produksinya akan menembus semua level pasar. Bukan hanya supermarket tapi juga restoran dan hotel, tuturnya.

Gus Irawan mengaku miris melihat kondisi impor sayur. “Lucunya malah ada sayur yang kita impor dari Singapura. Ini gila dan tidak masuk akal. Singapura itu tidak ada tanahnya. Kalaupun mereka punya tambahan tanah itu karena diambil dari Indonesia. Pasirnya diambil dari Indonesia untuk menimbun laut menjadi daratan. Tapi mereka bisa ekspor sayur ke sini. Itu bagaimana, kenapa kok ya buat miris. Wajar kalau kemudian produksi sayur kita tidak kompetitif,” ungkapnya.

Wajar kalau petani sayur mengeluh sebab produk impor terlalu banyak, mereka tak mampu meningkatkan margin dari hasil produksi karena diserbu sayur impor, kata Gus. “Sektor pertanian ini sebenarnya sangat kuat terhadap krisis ekonomi. Jadi kita harus menjadikan Sumatera Utara ini sebagai sentra penghasil sayur. Mengembalikan kejayaan daerah sebagai pengekspor sayur. Bukan importir sayur,” ujarnya. (wol/ags/min/data1)

Editor: Agus Utama

Check Also

istimewa

Komisi VII DPR Minta Menteri ESDM Evaluasi Permen Penghambat Investasi

JAKARTA, WOL – Komisi VII DPR RI meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.