Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Gus Irawan Sebut Pemerintah Gagal Capai Target Pertumbuhan Sesuai RPJM
Istimewa

Gus Irawan Sebut Pemerintah Gagal Capai Target Pertumbuhan Sesuai RPJM

MEDAN, WOL – Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu menilai pemerintah sesungguhnya gagal mendorong pertumbuhan ekonomi disesuaikan dengan RPJM (rencana pembangunan jangka menengah nasional).

Hal itu diungkapkannya melalui sambungan telepon dari Jakarta, baru-baru ini, usai mengikuti rapat kordinasi nasional Gerindra. Dia mengatakan sebenarnya target pertumbuhan pemerintah yang akan tercapai 7 persen bukan pada 2019. “Tapi tahun ini sudah harus terealisasi.”

Faktanya pertumbuhan ekonomi Indonesia malah melambat dan hanya ada di kisaran 5 persen. “Bahkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5,5 persen saja pun sangat sulit. Ini tentu berbeda dengan RPJM nasional,” tuturnya.

Dalam RPJM, katanya, dengan berbagai kebijakan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat tajam sejak tahun 2016, menjadi 7,1 persen pada tahun  2017, dan terus meningkat pada tahun 2018 dan 2019 masing – masing sebesar 7,5 persen dan 8,0 persen. Dengan tingkat pertumbuhan ini, pendapatan perkapita naik dari Rp47,8 juta (USD3.918,3) pada tahun 2015 hingga mencapai Rp. 72,2 Juta (USD6.018, 1) pada tahun 2019.

Dari sisi pengeluaran, investasi didorong dan mencapai sekitar 10,4 persen pada tahun 2017, dan 12,1 persen pada tahun 2019. Dorongan kuat dari investasi akan meningkatkan kontribusi ekspor barang dan jasa, serta konsumsi. Ekspor diperkirakan tumbuh 8,8 persen pada tahun 2017, dan mencapai 12,2 persen pada tahun 2019.  Konsumsi masyarakat dan konsumsi pemerintah tumbuh secara bertahap dan masing-masing mencapai 6,1 persen dan 2,5 persen pada tahun 2019.

“Kalau kita membuka dokumen negara dalam RPJM itu kita ingin pesan buat pemimpin negara ini agar konsisten denga rencana-rencana yang disusun. Ini kelihatannya seperti terpisah saja, antara anggaran yang disusun tiap tahun karena ada target dalam APBN, berbeda dengan yang tertulis dalam RPJM yang berjangka lima tahun. Seolah-olah antara APBN dengan RPJM terpisah,” ungkapnya.

Harusnya, kata wakil ketua Fraksi Gerindra itu, anggaran pendapatan belanja negara yang disusun setiap tahun merupakan breakdown (turunan) dari RPJM. “Saya melihat apa yang disajikan dalam APBN tidak nyambung dengan RPJM. Terpenggal,” jelasnya.

Atas kondisi tersebut, Gus Irawan Pasaribu mengaku tidak begitu menaruh perhatian besar dari terobosan pemerintah pusat. “Maka ketika saya ke daerah dan sering bertemu dengan kepala daerah meminta mereka untuk melihat konektivitas antara RPJMD masing-masing daerah dengan APBD mereka.”

Jangan seperti pemerintah pusat karena menyusun anggaran lain dengan RPJM, ungkapnya. “Sekarang kita harus berubah terutama di daerah. Kepala daerah menurut saya harus punya terobosan jangan tunggu pusat berubah. Karena kalau dari pusat saya lihat banyak sekali program pencitraan yang tidak mendidik. Program bagi-bagi yang sesungguhnya tidak mengajari masyarakat mandiri,” tuturnya.

Periode pemerintahan saat ini, kata dia, tinggal setahun lagi. “Nanti kita lihat di 2019 saya yakin ekonomi kita juga tidak lebih baik dari hari ini. Skala ekonomi kita relative kecil dan sumbangan terbesar untuk pertumbuhan datang dari sektor konsumsi,” kata ketua DPD Gerindra Sumut itu.

“Jika melihat potensi pertumbuhan dengan kondisi yang terjadi saat ini untuk mendorong ke angka 5,5 persen saja pun sulit. Apalagi enam persen. Karena sampai sekarang tidak ada terobosan maksimal,” tuturnya. “Wajar kalau kemudian rakyat menunjukkan ketidakpuasannya menjelang akhir pemerintahan yang saat ini berkuasa,” kata dia. (wol/ags/min/data1)
Editor: Agus Utama

Check Also

Gus Irawan: Kejatuhan Rupiah Kacaukan Asumsi APBN Pemerintah

MEDAN, Waspada.co.id – Kejatuhan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ke angka 14.400 mengacaukan asumsi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: