Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Gus Irawan Mintan Penentang Energi Terbarukan Berfikir Komprehensif
Ketua Komisi VII DPR RI, Gus Irawan Pasaribu. (WOL Photo)

Gus Irawan Mintan Penentang Energi Terbarukan Berfikir Komprehensif

MEDAN, Waspada.co.id – Kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menentang pengembangan pembangkit listrik EBT (energi Terbarukan) diminta berfikir komprehensif, tidak hanya pada aspek konservasi lokal semata.

Hal ini mengemuka dalam Lokakarya Nasional Lansekap Batangtoru yang diikuti Ketua Komisi VII DPR RI, Gus Irawan Pasaribu, Kamis (27/9) kemarin.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sonny Keraf menyatakan, Indonesia harus mengembangkan pembangkit listrik EBT karena energi berbasis fosil selain boros devisa juga mengeluarkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang berdampak buruk pada perubahan iklim global.

Sonny, yang duduk di DEN dari unsur pemerhati lingkungan hidup, menyayangkan, pengembangan pembangkit listrik EBT masih saja dihambat oleh sebagian lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Dia menyatakan, seharusnya aktivis LSM yang menentang bisa berfikir lebih komprehensif, bukan hanya pada satu aspek saja.

“Kalau tidak EBT, kita akan terus mengandalkan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan minyak bumi yang bisa membuat perubahan iklim. Ini berbahaya karena boros devisa untuk impor bahan bakar fosil dan berdampak yang lebih besar seperti terganggunya musim tanam,” kata Sonny yang merupakan Menteri Lingkungan Hidup periode 1999-2001.

Sonny menyebut, pembangkit listrik EBT yang paling potensial dikembangkan di Indonesia adalah tenaga air dan panas bumi. Pembangkit lisrik tenaga surya dinilai sulit diandalkan dalam skala besar sementara pembangkit listrik tenaga bayu menghadapi kendala tekanan angin yang tidak stabil.

Salah satu pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang kini sedang dibangun adalah PLTA Batangtoru di Tapanuli Selatan. PLTA Batangtoru dirancang memiliki kapasitas 510 Mega Watt (MW) dan akan menjadi penyedia listrik bagi Sumatera Utara, yang saat ini masih mengandalkan pasokan dari kapal pembangkit diesel yang disewa dari Turki.

PLTA Batangtoru merupakan proyek strategis nasional bidang ketenagalistrikan sebagai bagian integral dari target 35.000 MW Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Proyek untuk mengatasi defisit energi di Sumatera Utara ini ditentang oleh LSM asing yang berkampanye pembangunannya akan merusak habitat orangutan tapanuli.

Gus Irawan Pasaribu, Ketua Komisi VII DPR yang membidangi energi dan lingkungan, menyayangkan jika masih ada pihak yang menentang pengembangan PLTA Batangtoru dengan alasan untuk perlindungan orangutan dan dimotori LSM asing. Menurut dia, konservasi orangutan memang penting, namun jangan sampai pemerintah melupakan kebutuhan rakyat terhadap energi.

“Orangutan penting, tapi orang beneran yang bermartabat jangan dilupakan. Pengembangan proyek energi terbarukan ini sudah pasti harus ramah lingkungan supaya pembangkit bisa beroperasi berkesinambungan,” katanya.

Upaya pemantauan melekat untuk menjaga kelestarian juga terus dilakukan pemerintah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus memonitor praksis merawat kelestarian lingkungan dalam kegiatan pembangunan proyek strategis nasional. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah menjaga kelestarian lingkungan dalam memenuhi kebutuhan energi rakyat, katanya. (wol/min)

Editor: Agus Utama

Check Also

Komisi VII: EBT Sudah Masuk Prolegnas 2019

JAKARTA, Waspada.co.id – Ketua Komisi VII DPR RI, Gus Irawan Pasaribu, mengungkapkan hasil pertemuan internal ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: