Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Digital Payment Dorong Penjualan Ritel Naik 10% Sepanjang 2018
Ilustrasi: Foto Shutterstock

Digital Payment Dorong Penjualan Ritel Naik 10% Sepanjang 2018

JAKARTA – Era teknologi digital telah memberikan alternatif baru di dalam transaksi pembayaran. Dulu masyarakat hanya mengenal transaksi pembayaran menggunakan kartu debit, kartu kredit, dan pembayaran melalui mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Kini transaksi pembayaran bisa dilakukan melalui uang elektronik, mobile phone, dan QR code.

Sejalan dengan visi Indonesia untuk menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar se-Asia Tenggara pada 2020, transformasi menuju ekonomi digital telah menjadi perhatian para pelaku bisnis di industri ini.

Amelia Masniari, penulis buku Miss Jinjing: Belanja Sampai Mati, mengungkapkan, sebagai seorang shopaholic, dirinya sangat terbantu dengan sistem pembayaran digital yang saat ini sudah menjadi tren di Tanah Air. “Aku punya tiga, Ovo, Gopay, dan TCASH. Semuanya dipakai sesuai dengan kebutuhan masing-masing,” ujarnya.

Menurut Amelia, menggunakan sistem pembayaran digital lebih praktis dan aman. “Kan tidak perlu bawa uang di tas kalau mau belanja saat sedang diskon besar-besaran di mal,” tuturnya.

Meskipun saat ini belanja online sedang booming , minat belanja masyarakat di toko offline , terutama di ritel modern dan mal, masih tinggi. “Ibu-ibu seperti saya kalau belanja pakaian pasti di mal karena harus dicoba dulu. Apalagi jika ada sale, pasti deh kalangan wanita menyerbu mal,” ungkapnya.

Amelia berharap, penyedia layanan pembayaran digital semakin memperluas jaringan merchant-nya. Tak hanya pada merchant food and beverage saja, tapi juga hadir di merchant-merchant fashion , aksesori, dan produk kecantikan.

“Pasar fashion itu besar, juga aksesori. Karena yang doyan belanja kan perempuan. Misalnya TCASH kalau bisa buat belanja di gerai fashion . Kan asyik tuh, bayar cuman tinggal tempelin smartphone,” tuturnya.

Alasan yang disampaikan Amelia cukup masuk akal. Dari catatan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), penjualan ritel modern tahun ini lebih baik dari 2017. Hingga akhir tahun ini penjualan ritel mencapai Rp240 triliun. Nilai itu naik 10% bila dibandingkan dengan pencapaian tahun lalu yang sebesar Rp215 triliun.

Menurut Managing Director PT Panen Lestari Internusa Handaka Santosa, pertumbuhan pasar ritel di Tanah Air menunjukkan tren membaik. Hal ini ditunjukkan oleh pertumbuhan salah satu unit usahanya, yakni SOGO, yang mencapai pertumbuhan dua digit.

“SOGO berhasil tumbuh dua digit. Ini berkat inovasi kami yang melakukan kolaborasi sistem offline dan online ,” tegas Handaka yang juga CEO SOGO Indonesia itu.

Gaya hidup digital masyarakat juga mendorong bertumbuhnya sektor ritel offline. Misalnya konsumen melakukan pembelian secara online, tetapi mengambil barang yang dibeli di toko fisik di mal dan menggunakan pembayaran nontunai. “Ini sekarang menjadi tren,” ungkapnya.

Ketua Umum Aprindo Roy N. Mande mengatakan, daya beli konsumen yang membaik dan perekonomian yang stabil juga menjadi faktor pendorong pasar ritel tumbuh. Alasannya, masa Lebaran beberapa bulan lalu telah mendorong penjualan ritel sebesar 30%, sementara momentum Natal dan Tahun Baru masih berlangsung dan menunjukkan tren positif.

Berdasarkan tren tahun sebelumnya, momentum Natal bisa mendorong penjualan ritel sebesar 20%. Tahun ini penjualan ritel modern cukup positif dan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya.

Check Also

Desa Wisata Bisa Jadi Target Potensi

MEDAN, Waspada.co.id – Berdasarkan Hasil Pendataan Potensi Desa (Podes) 2018 di Sumatera Utara, terdapat 6.132 ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: