Home / Warta / Mancanegara / ‘Deep State’, Antara Ilusi Donald Trump dan Kekuatan Nyata
Foto: REUTERS/Jonathan Ernst

‘Deep State’, Antara Ilusi Donald Trump dan Kekuatan Nyata

WASHINGTON, Waspada.co.id – Istilah “Deep State” seringkali disebut oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, tidak ada yang tahu apa yang dimaksud dengan istilah ini. Serangan paling akhir Trump terhadap kekuatan bayangan yang dianggapnya menentang dia dikeluarkan setelah harian New York Times menerbitkan artikel opini oleh seseorang yang diidentifikasikan sebagai “pejabat senior pemerintah AS.”

Penulis anonimus itu mengklaim sebagai anggota “Perlawanan” di dalam pemerintahan Trump, “yang bekerja keras dari dalam untuk menghalangi sebagian agendanya dan kecenderungan buruknya”.

“Itu kemungkinan seorang anggota “Deep State” yang sudah lama ada di sana,” ujar Trump di televisi Fox ketika berspekulasi mengenai identitas orang tersebut.

“Deep State dan kubu Kiri serta mesin mereka, Media Berita Palsu, semakin menggila -& dan mereka tidak tahu harus berbuat apa,” ujarnya di akun Twitter yang merujuk pada musuh-musuh favoritnya.

“Saya sedang mengeringkan Rawa dan Rawa mencoba melawan. Jangan khawatir, kita akan menang,” cuitnya lagi.

Kritik Trump ini muncul setelah penerbitan buku karya Bob Woodward yang menggambarkan Gedung Putih sebagai institusi kacau. Disebutkan bahwa sejumlah pejabat tinggi yang ditunjukkan meemiliki pandangan suram terhadap presiden dan berusaha keras untuk mengekangnya.

Seperti definis “Deep State”, asal usul istilah ini juga penuh misteri.

Sebagian pengamat politik memandang “Deep State” adalah penerus “kompleks militer-industri” yang pernah dikhawatirkan oleh mantan presiden Dwight D. Eisenhower.

Sejumlah pihak mempergunakan istilah itu untuk merujuk pada struktur kekuasaan militer di balik rezim yang berpura-pura demokratis seperti di Mesir, Pakistan dan Turki.

Bagi sebagian lainnya, “Deep State” adalah ribuan pegawai pemerintah federal yang terus melaksanakan tugasnya meski ada pergantian pemerintah.

“Sebenarnya Deep State adalah nyata,” ujar pengamat geopolitik George Friedman dalam artikel di Huffington Post.

“Itu bukan rahasia atau glamor seperti yang diisyaratkan konsepnya.

“Entitas itu dikenal sebagai pegawai negeri dan dibuat untuk membatasi kekuasaan presiden.”

Penulis artikel kontroversial di Washington Post mendukung penjelasan ini dengan meyakinkan pembaca bahwa ada banyak “orang dewasa di sana.”

“Ini bukan hasil pekerjaan pihak yang disebut Deep State,” tulis opini itu. “Ini adalah hasil kerja pemerintah yang stabil.”

Jack Goldsmith, guru besar hukum Universitas Harvard, menulis di harian Guardian April lalu bahwa “Deep State” adalah “birokrat keamanan nasional yang secara rahasia mengumpulkan informasi untuk membentuk atau menahan perilaku pejabat-pejabat terpilih.”

Jika “Deep State” benar-benar ada, Trump sebagai “musuh rakyat” adalah kekuatannya.

Itu adalah senjata yang digunakan oleh anggota-anggotanya untuk merusak atau menghentikan kebijakan yang mereka tentang.

“Sejak Trump terpilih, sangat banyak informasi intelijen yang bertujuan menjelekkannya dan juga pejabat senior timnya yang dibocorkan dari para pejabat dan mantan pejabat intelijen di Deep State,” tulis Goldsmith.

Trump sendiri mengatakan bahwa “pegawai Deep State yang tidak dipilih rakyat tetapi menentang keinginan rakyat demi agenda mereka adalah ancaman sebenarnya bagi demokrasi.”

Kubu ekstrim kanan memperingatakan bahaya “Deep State” sejak Trump menjabat sebagai presiden dan menuduh kelompok ini mencoba menghalangi agenda konservatif presiden.

“The Deep State: How an Army of Bureaucrats Protected Barack Obama and is Working to Destro the Trump Agenda,” adalah judul buku karya Jason Chaffetz, seorang mantan anggota Kongres Partai Republik dari negara bagian Utah, yang merupakan satu dari sejumlah buku soal Deep State yang baru-baru ini diterbitkan. (cnn/data2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: