Breaking News
_
Home / Warta / Politik / Dari Lima Ketum Parpol Ini, Siapa Berpeluang Dampingi Jokowi di 2019?
Presiden Joko Widodo (kanan) berjalan bersama Ketum Golkar Airlangga Hartarto di Kebun Raya Bogor (Biro Pers Setpres/Antara)

Dari Lima Ketum Parpol Ini, Siapa Berpeluang Dampingi Jokowi di 2019?

agregasi
agregasi

 

TEKA-teki siapa yang akan jadi calon wakil presiden (cawapres) pendamping Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019 hingga kini belum terjawab. Jokowi masih merahasiakan pilihannya. Tapi, ia sudah mendekati lima pemimpin partai politik yang mendukung pemerintahannya saat ini.

Pagi tadi, Jokowi melakukan pertemuan nonformal dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto. Keduanya berolahraga bareng di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat.

Airlangga tiba lebih dulu dan menunggu Jokowi. Sesaat kemudian, Jokowi tiba dengan sepeda motor modifikasi Royal Enfield Bullet 350 cc bergaya chopper. Keduanya yang sama-sama mengenakan kaus lalu berolahraga.

Berbeda dengan Airlangga yang memakai kaus putih, Jokowi malah mengenakan kaus kuning, warna kebesaran Golkar. Apa alasannya?

“Ya Pak Airlangga kan Ketua Umum Partai Golkar,” kata Jokowi saat ditanya wartawan seperti dikutip dari Antara, Sabtu (24/3/2018).

Sebelum dengan Airlangga, Jokowi sudah pernah melakukan pertemuan khusus dengan ketua umum parpol lainnya yang tergabung dalam koalisi pendukung pemerintah.

Presiden Jokowi bersama Muhaimin Iskandar (Fakhrizal/Okezone)

Pada 2 Februari 2018, saat meresmikan kereta Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Jokowi mengundang langsung Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhamin Iskandar alias Cak Imin untuk hadir.

Jokowi yang mengenakan kaus saat itu bahkan menjajal kereta bandara dengan duduk berdampingan bersama Cak Imin. Jokowi mengaku lama tak bertemu Cak Imin sehingga kangen dan mengundangnya ke acara itu. Tapi, keduanya mengaku tak membahas cawapres.

Dua pekan berselang, Jokowi mengadakan pertemuan dengan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan. Keduanya mengklaim bahwa pertemuan itu hanya membahas permasalahan bangsa, tak menyinggung cawapres.

Presiden Jokowi saat meninjau MRT bersama Surya Paloh (Antara)

Jokowi juga pernah mengundang khusus Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh saat meninjau proyek MRT di Senayan, Jakarta Pusat, pada Rabu, 7 Maret 2018.

Jokowi mengaku mengajak Surya Paloh meninjau proyek MRT karena “sudah lama tak bertemu.”

Surya Paloh pun meresponnya. “Ini suatu kehormatan bagi saya, sebagai warga negara Indonesia kebetulan ketua umum partai politik, diajak Pak Presiden.”

Empat hari kemudian, giliran Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy alias Romi diajak Jokowi naik pesawat. Keduanya duduk berdampingan dalam pesawat TNI AU dari Cirebon usai menghadiri pernikahan cucu sesepuh PPP, KH Maimoen Zubair alias Mbah Moen.

PPP, Nasdem, PKB, PAN, dan Golkar merupakan parpol-parpol pendukung pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Bahkan, tiga di antaranya; PPP, Nasdem, dan Golkar sudah mendeklarasikan mencalonkan kembali Jokowi sebagai capres di Pemilu 2019.

Tapi, berbeda dengan saat bertemu empat ketum parpol sebelumnya, dalam pertemuan nonformal dengan Airlangga Hartarto di Kebun Raya Bogor, Presiden Jokowi terang-terangan mengaku ikut membahas soal kriteria cawapres.

“Ya ngobrol yang ringan-ringan, ngobrol mengenai Golkar, mengenai cawapres, bicara masalah negara, ya macam macam wong namanya sambil jogging kan enggak apa apa. Yang ringan ringan saja,” kata Jokowi.

Presiden Jokowi dan Romahurmuziy (Istimewa)

Menurut dia, obrolannya hanya mengenai kriteria cawapres diinginkan Golkar, belum ke orangnya karena di internalnya saja belum selesai dibahas. “Ya tetap saya sampaikan mengenai kriteria-kriteria yang mungkin di Golkar, kriteria apa sih yang diinginkan di Golkar,” katanya.

Ketika ditanya apakah Airlangga memenuhi kriteria sebagai cawapresnya, Jokowi tidak menjawab tegas. Ia mempersilakan wartawan melihat apakah pasangan itu cocok atau tidak.

“Ya coba dilihat sendiri ini, cocok enggak,” katanya sambil mendekat ke Airlangga dan tertawa.

Jokowi mengatakan pengumuman cawapres masih panjang dan saat ini pembahasan masih terus dilakukan. “Kita masih bicara dengan ketua-ketua partai dan di internal sendiri kita juga masih bahas,” katanya.

Sedangkan Airlangga mengatakan, soal cawapres, Golkar menyerahkan sepenuhnya ke Jokowi. “Itu tergantung Bapak Presiden,” ujarnya saat ditanya wartawan.

Airlangga kini digadang-gadang bakal jadi cawapres Jokowi. Bahkan, Wakil Presiden yang juga senior Golkar, Jusuf Kalla saat membuka Rakernas Golkar di Jakarta, Kamis, 22 Maret lalu mengatakan, Airlangga cocok berpasangan dengan Jokowi.

“Tentu banyak hal yang cocok, nanti tinggal usaha saja,” ujar JK.

Sementara Airlangga menyebutkan, Jokowi nyaman berpasangan dengan kader Golkar.

“Hari ini Pak Presiden berpasangan dengan kader dari Partai Golkar dan tentunya Bapak Presiden cukup nyaman berpasangan dengan kader Partai Golkar,” kata Airlangga.

Lalu, di antara lima ketum parpol; Airlangga, Cak Imin, Romi, Surya Paloh, dan Zulkifli, siapa paling berpeluang jadi pendamping Jokowi di 2019?

“Semuanya kansnya sama,” kata Direktur Indonesia Political Review, Ujang Komarudin.

Menurutnya Jokowi harus selektif memilih cawapres jika ingin memenangkan Pilpres 2019. Selama ini, elektabilitas dan popularitas Jokowi memang belum terkalahkan dalam berbagai hasil survei. Tapi, itu belum menjamin karena angkanya masih di bawah 50 persen.

Karena itu, kata Ujang, Jokowi butuh sosok pendamping yang bisa menaikkan elektoralnya. Salah satu kriteria yang harus dipenuhi adalah sosok cawapres harus bebas dari kasus masa lalu. “Ini akan sangat menentukan,” ujarnya.

Presiden Jokowi dengan Zulkifli Hasan (Okezone)

Lima pimpinan parpol tadi, menurut Ujang, belum sepenuhnya terjamin bebas dari kasus masa lalu. Sehingga hal ini bisa menjadi celah bagi lawan politik untuk mengungkitnya lalu menyerang elektabilitas Jokowi.

Terkait dengan sosok Cak Imin dan Romi yang dianggap memiliki basis massa santri, Ujang menilai, itu juga tak ada jaminan. Karena pada pemilu-pemilu sebelumnya, ada juga tokoh Nahdlatul Ulama yang maju dalam pilpres, tapi kalah suara.

“Yang menentukan (kemenangan) adalah integritas dan ketokohan, artinya tidak ada kasus. Karena kalau ada kasus akan membuka celah bagi lawan politiknya untuk menyerang,” pungkas Ujang.

Sementara Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago menilai, Jokowi bisa berpasangan dengan siapa saja. Tapi, ia bisa saja mendapat ganjalan dari PDI Perjuangan.

Menurut Pangi, pemimpin partai tempat Jokowi bernaung tersebut tak akan merestui mantan gubernur DKI Jakarta itu berpasangan dengan ketum parpol koalisi.

“Karena kepentingan PDIP  bisa terganggu di 2024. Kalau Jokowi santai saja, yang penting jangka pendek, sementara PDIP berpikir jangka panjang, kalau kursi cawapres diambil ketua umum parpol koalisi pendukung Jokowi selain PDIP, bisa bumerang bagi PDIP,” ujarnya.

“Sama saja mengasih panggung emas ke partai  lain,” lanjut dia.

Pangi menilai cawapres pendamping Jokowi penentunya ada di tangan Megawati Soekarnoputri dan parpol koalisi pengusung.

PDIP, menurut dia, akan mendorong kadernya yang mendampingi Jokowi.

“Kalau deadlock, maka pendamping Pak Jokowi diperkirakan dari kalangan profesional yang karir politiknya juga habis setelah Jokowi habis masa jabatan, persis cawapres seperti JK dan Budiono,” pungkasnya.

Check Also

Pendukung Jokowi Siap Bantu TNI-Polri Saat Pelantikan

JAKARTA, Waspada.co.id – Aksi Kawal Pelantikan Jokowi-Ma’ruf Amin yang digelar oleh Gerakan Peduli Bangsa di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.