Breaking News
Home / Warta / Indonesia Hari Ini / Cerita Tito, Pusingnya Jadi Kapolri
Kapolri Jenderal Tito Karnavian (Foto: Antara)
Kapolri Jenderal Tito Karnavian (Foto: Antara)

Cerita Tito, Pusingnya Jadi Kapolri

JAKARTA, WOL – Kapolri Jendral Tito Karnavian mengungkapkan China menjadi negara terbesar pertama dalam sebuah lembaga kepolisian. Selain China, ada beberapa negara lainnya yang dianggap jumlah populasi kepolisiannya juga cukup banyak daripada Polri.

“Polri adalah lembaga kepolisian nomor dua terbesar di dunia setelah China, Amerika dan India yang memang memiliki jumlah polisi total lebih besar daripada Polri. Tapi mereka fragmented, bukan centerlize, mereka discentrallize, tidak ada Kepala Polisi Amerika dan tidak ada Kepala Polisi India. Apalagi Inggris, tidak ada Kepala Polisi Inggris, karena fragmented,” kata Tito di gedung Auditorium LIPI, Jakarta Selatan, Selasa (21/11).

“London metropolitan police, komisionernya dia sebagai koordinator, maka di Amerika juga ada asosiasi Kepala Polisi, karena tidak ada Kepala Polisi. Direktur FBI bukan kepala polisi, dia hanya menangani major crime, kejahatan konvensional,” tambahnya.

Karena, ketika FBI disuruh untuk menangani narkotika tak boleh, karena yang menangani yaitu DEA. Ketika ingin menangani soal senjata juga tak boleh karena yang menangani Alcohol Tobacco and Firearms and Explosives, dan itu sudah dibentuk.

Mantan Kapolda Metro Jaya ini mengaku, jika Polri menjadi lembaga kepolisian terbesar nomor dua, karena yang mendominasi menjadi yang pertama itu adalah China. Dan oleh karena itu, dirinya mengaku kalau dirinya sangat pusing ketika menjabat sebagai Kapolri.

“Polri adalah lembaga kepolisian nomor dua terbesar di dunia. Pekerjaan menjadi Kapolri adalah pekerjaan salah satu yang paling kompleks dan paling memusingkan, ya kenapa? China enak, kepolisiannya memang nomor satu terbesar, tapi sistem mereka satu partai, sistem sosialis, yang bisa menggunakan iron hand, first hand, tangkap dan di kita tidak,” ujarnya.

“Kita sangat open demokrasi. Di tengah-tengah masyarakat yang masih low class, problematika konflik dan segala macam sangat banyak sekali,” sambungnya.

Mantan Kepala BNPT ini membandingkan pekerjaan dirinya sebagai Kapolri dengan Kepala Kepolisian Singapura. Karena jika di Singapura Kepala Polisinya bisa sambil santai dalam menjalankan tugasnya. Dan hal itu justru sangat berbeda dengan dirinya yang menjabat sebagai Kepala Kepolisian di Indonesia.

“Kita (saya) begitu datang, begitu bangun tidur langsung sudah ratusan laporan dari seluruh Polda-polda, Polres-polres masalah kebakaran ini, masalah Polres diserang ini, masalah penyanderaan, dan banyak sekali. Belum lagi komplain-komplain pribadi, banyak sekali,” ucapnya.

“Ini jadi salah satu pekerjaan yang berat untuk jadi kepala polisi, mustahil seorang Kapolri akan mampu merubah polisi yang jumlahnya 440 ribu personel, 33 Polda, 491 polres, hampir 5000 Polsek, 440 ribu manusia lebih besar dari satu negara Brunei. Mustahil saya akan bekerja sendiri, saya baik belum tentu, jadi saya merubah itu,” sambungnya. (merdeka/ags)

Check Also

(Foto: Ant)

Kapolri: Suksesnya Pilkada Ditentukan Delapan Stakeholder

  JAKARTA – Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan pilkada merupakan momentum penting dalam demokrasi, namun ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.