Home / Warta / Indonesia Hari Ini / Buronan korupsi Rp1,3 Triliun Ditangkap Kejari Pekanbaru, 6 masih Buron
ilustrasi korupsi (merdeka.com)

Buronan korupsi Rp1,3 Triliun Ditangkap Kejari Pekanbaru, 6 masih Buron

Waspada.co.id– – Kejaksaan Negeri Pekanbaru menangkap 12 buronan pelaku tindak pidana korupsi dalam kurun waktu awal Januari hingga Agustus 2018. Tersisa, 6 orang buronan yang melarikan uang negara masih diburu.

 

“Awalnya buronan kita 18 orang kasus korupsi, tapi sudah 12 yang kita tangkap, jadi masih ada 6 orang lagi. Ada yang masih berstatus sebagai tersangka dan ada juga yang sudah vonis (terpidana),” kata Kasi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Pekanbaru, Sri Odit Megonondo, Minggu (5/8).

 

Narapidana yang telah divonis, kata Odit, kabur saat akan dieksekusi jaksa. Begitu juga yang masih berstatus tersangka, mereka sedang diburu untuk melengkapi berkasnya dan akan dilanjutkan ke persidangan.

 

“Para tersangka dan narapidana ini melakukan berbagai kasus korupsi di Pekanbaru, Riau. Kerugian yang dialami negara mencapai miliaran rupiah,” tegas Odit.

 

Odit menyebutkan, Kejari Pekanbaru akan menyelesaikan seluruh tunggakan pekerjaan rumah tersebut selesai tahun ini. Tak sendirian, pihaknya berkordinasi dengan sejumlah pihak, seperti kepolisian, Kejati Riau, hingga ke Kejaksana Agung dan pihak Imigrasi.

 

“Mudah-mudahan sebelum akhir tahun semua buronan kasus korupsi ini akan ditangkap. Selama ini kita dibantu sejumlah pihak menangkap beberapa buronan, kerja sama yang sangat baik,” jelas Odit.

 

Salah satu buronan korupsi yang berhasil ditangkap baru-baru ini adalah Deki Bermana (40). Deki merupakan terpidana korupsi tindak pidana pencucian uang (TPPU) penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) senilai Rp 1,3 triliun antara Riau-Singapura.

 

Tim Intelijen Kejagung dan Kejari Pekanbaru menangkap Deki saat berada di Pelabuhan Benoa, Bali, Sabtu (4/8). Deki merupakan terpidana 7 tahun dalam perkara TPPU penyelundupan BBM di Riau

Beberapa hari sebelumnya, jaksa juga menangkap tersangka korupsi kredit fiktif di BRI Agro Cabang Pekanbaru. Dia adalah Syahroni Hidayat, yang merupakan mantan pimpinan cabang di bank itu.

Syahroni Hidayat sendiri, ditangkap di Medan, Sumatera Utara, Rabu (1/8) di rumah pribadinya. Saat ini, Syahroni Hidayat ditahan di Rumah Tahanan Klas II B Sialang Bungkuk. “Kita akan selesaikan berkasnya, untuk segera disidangkan,” katanya.

 

Sebelumnya, Kejari Pekanbaru juga menangkap terpidana korupsi pemungutan biaya pemberian vaksin meningitis kepada calon jemaah umrah pada Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Pekanbaru tahun 2011-2012. Dia adalah drg Mariane Donse Br Tobing.

 

Dia ditangkap di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jumat (27/7). Sekarang, dia sudah dijebloskan ke penjara dengan hukuman empat tahun penjara.

 

Buronan lainnya yang telah ditangkap, juga sudah menjalani hukuman. Mereka adalah Eka Trisila, mantan lurah Tebing Tingg Okura, Rumbai Pesisir. Dia merupakan terdakwa atas kasus dugaan korupsi honor pegawai kebersihan kelurahan. Diciduk pada Kamis (25/1) lalu di Jalan Cempaka, Pekanbaru.

 

Kemudian, Maiyulis Yahya, mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Pekanbaru. Dia berstatus sebagai terpidana kasus korupsi dalam kegiatan pengembangan teknologi pengelolaan persampahan di Kota Pekanbaru. Ditangkap di rumahnya Jalan Melur, Kelurahan Sidomulyo Barat, Kecamatan Tampan pada Senin (29/1).

 

Selanjutnya, Abdul Qohar, mantan PPTK pada kasus pengembangan teknologi persampahan Pekanbaru pada Dinas Kebersihan Pertamanan Kota Pekanbaru. Ditangkap di warung kopi kawasan Rumbai, Pekanbaru pada Selasa (30/1).

 

Kemudian, Donny Gatot Trengggono, merupakan terpidana korupsi pengadaan keramba di Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Riau tahun 2008.

 

Setelah itu, Khairil Rusli, mantan Pemimpin PT Bank Riau Cabang Pembantu (Capem) Rumbai terpidana 7 tahun dalam kredit fiktif di Bank Riau. Ditangkap di Batam pada Senin (6/2) lalu.

Selanjutnya, Zainal Arifin, terpidana korupsi proyek Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Muara Fajar. Zainal adalah Direktur CV Bina Mitra Mandiri, selaku kontraktor dalam proyek ini. Dia divonis penjara 1 tahun dan denda Rp 50 juta.

 

Kemudian, Kaldri Alam, merupakan terpidana korupsi proyek kerambah Dinas Perikanan dan Kelautan Riau. Pada tahun 2012, Direktur PT Prima Bos Mobilindo ini, dijatuhkan hukuman empat tahun penjara serta denda Rp 200 juta.

 

Ada juga Edy Yanto terpidana korupsi proyek TPA Muara Fajar. Dia yang saat itu selaku kuasa direksi, telah divonis hakim bersalah, dengan hukuman 1,5 tahun penjara dan denda Rp 50 juta serta membayar uang pengganti Rp 8 juta.

 

Lalu T Ismail Yusuf terpidana tipikor kegiatan pengembangan peremajaan kebun karet rakyat Dinas Perkebunan Provinsi Riau tahun 2006. Menjabat sebagai Kuasa Direktur PT Kencana Raya. Divonis empat tahun dan ditangkap di kediamannya Jalan Nuri, Pekanbaru pada Selasa (6/3). (wol, mer)

Check Also

Jadwal Besuk Tahanan KPK Ditiadakan saat Libur Tahun Baru Islam

  JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meniadakan jadwal besuk atau kunjungan tahanan perkara korupsi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: