_
Home / Warta / Indonesia Hari Ini / BMKG Sebut Kabut Asap di Palembang Hari Ini ‘Terekstrem’ Sepanjang Kemarau 2019
Kabut Asap di Palembang, Senin (14/10/2019). (foto: Istimewa)

BMKG Sebut Kabut Asap di Palembang Hari Ini ‘Terekstrem’ Sepanjang Kemarau 2019

agregasi

 

PALEMBANG – Kabut asap kian pekat di kota Palembang dan sekitarnya, beberapa bulan belakangan ini tak kunjung hilang. Bahkan, pada Senin 14 Oktober 2019 BMKG mengatakan kondisi asap di Palembang ‘Terekstrem’ sepanjang kemarau 2019.

Kegiatan belajar di sekolah juga mendadak diliburkan oleh pemerintah lantaran kabut asap ini. Ekstremnya kabut asap ini puncaknya sudah dirasakan oleh warga pada Minggu 13 Oktober sore kemarin.

Kondisi ini menjadikan kondisi terekstrem selama berlangsungnya Karhutla dengan indikasi kwantitas dan jarak pandang yang terjadi. Intensitas Asap (Smoke) umumnya meningkat pada pagi hari (04.00-08.00 WIB) dan sore hari (16.00-20.00) dikarenakan labilitas udara yang stabil, tidak ada massa udara naik pada waktu-waktu tersebut.

“Angin permukaan yang tercatat di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang umumnya dari arah Timur–Tenggara dengan kecepatan 5-20 Knot (9-37 Km/Jam) mengakibatkan potensi masuknya asap akibat Karhutbunla ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya,” kata Kasi Observasi dan Informasi BMKG stasiun SMB II Palembang, Bambang Beni melalui keterangan resmi yang diterima Okezone, Senin (14/10/2019).

Dia menjelaskan, informasi dari LAPAN sendiri tercatat ada beberapa titik panas di wilayah sebelah Tenggara Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen yang berkontribusi asap ke wilayah Kota Palembang yakni pada wilayah Banyuasin 1, Pampangan, Tulung Selapan, Pedamaran, Pemulutan, Cengal, Pematang Panggang dan Mesuji.

“Total titik panas dengan tingkat kepercayaan di atas 80% untuk wilayah Sumsel sebanyak 260 titik, titik panas terbanyak pada wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir 139 titik panas dan Kabupaten Banyuasin 67 titik panas,” sambung dia.

Fenomena asap sendiri diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara, mengurangi jarak pandang, beraroma khas, perih di mata, mengganggu pernafasan dan matahari terlihat berwarna orange, merah pada pagi atau sore hari.

“Hal ini berpotensi memburuk jika adanya campuran kelembapan yang tinggi (partikel basah/uap air) sehingga membentuk fenomena Kabut Asap (Smog) yang umumnya terjadi pada pagi hari,” ungkap BMKG Sumsel.

Jarak Pandang Terendah pada pagi hari tanggal 14 Oktober 2019 berkisar hanya 50-150 m dari jam 06.30-08.30 WIB dengan Kelembapan pada saat itu 95-96 persen dengan keadaan cuaca Asap yang berdampak 7 penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badarudin II Palembang mengalami delay.

适适

Check Also

Dikira Kabut Asap, Kali Ini Pekanbaru Diselimuti Embun

PEKANBARU, Waspada.co.id – Jarak pandang di Pekanbaru, Riau, sempat memburuk dan hanya 100 meter saja ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.