_
Home / Warta / Indonesia Hari Ini / Apakah Sebaiknya Istilah ‘Kafir’ Tak Lagi Dipakai Oleh Komunitas Muslim?
Ilustrasi (Okezone)

Apakah Sebaiknya Istilah ‘Kafir’ Tak Lagi Dipakai Oleh Komunitas Muslim?


ANJURAN ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) agar komunitas Muslim menghindari istilah kafir dalam hubungan antarumat beragama memicu pro dan kontra.

Imbauan itu dianggap tak sesuai teologi Islam bahkan cenderung politis oleh Front Pembela Islam (FPI) hingga Forum Umat Islam (FUI).

Namun seluruh tudingan itu dibantah oleh NU.

Bagaimanapun, merujuk pemantauan organisasi nirlaba di sektor hak asasi manusia, istilah kafir selama ini dianggap kerap memicu persekusi oleh kelompok agama mayoritas terhadap minoritas.

Istilah kafir, menurut NU, belakangan ditujukan kepada kelompok umat lain “dalam nuansa kebencian”. Agar tak memicu perpecahan masyarakat, NU mengimbau terminologi ini hanya digunakan dalam lingkup internal sesama Muslim.

Pernyataan itu diutarakan Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM NU, Rumadi Ahmad.

“Dalam peraturan undang-undang, tidak ada kata-kata kafir. Meski begitu, dalam hubungan sosial masih tersimpan persoalan antara Muslim dan non-Muslim,” ujar Rumadi saat dihubungi, Ahad (3/3/2019).

“Maka dalam negara yang plural, istilah yang cenderung merendahkan atau menistakan perlu dihindari,” katanya.

Menghindari istilah kafir dalam pergaulan antara Muslim dan non-Muslim itu adalah salah satu hasil Musyarawah Nasional Alim Ulama NU di Banjar, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Walau NU tidak menyebutnya sebagai fatwa, ajakan itu tak disetujui sejumlah kalangan. Dasar argumentasi mereka: menjaga persatuan masyarakat tidak boleh melanggar teologi.

Pendapat itu salah satunya dikatakan Novel Bamukmin, pentolan FPI yang juga aktif di Persaudaraan Alumni (PA) 212.

“Dalam istilah kafir tidak ada kekerasan teologi seperti yang mereka sampaikan. Kafir itu perkataan yang lembut.”

“Kita sudah diikat Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Itu sudah cukup untuk mengikat toleransi,” klaim Novel.

Namun NU menilai pernyataan tersebut tak tepat. Menurut Rumadi, imbauan soal istilah kafir muncul setelah para ulama NU mendalami kitab fiqih.

“Dalam konteks teologi, ini tidak bisa diapa-apakan karena Alquran juga menyebut kafir.”

“Tapi Indonesia bukan negara Islam, penyebutan kafir perlu dihindari. Ini strategi dakwah: melihat non-Muslim tanpa kebencian dan setara,” ujar Rumadi.

Politis?

Di luar perdebatan itu, Novel juga menuduh imbauan terkait terminologi kafir sebagai siasat NU menjaring simpati pemegang hak pilih dalam pemilu 2019.

Pimpinan NU belakangan dekat Joko Widodo, presiden sekaligus petahana dalam ajang pilpres April mendatang. Sebaliknya, FPI merupakan penyokong Prabowo Subianto, kompetitor Jokowi.

“Ini politik menjual ayat untuk meraih simpati orang-orang minoritas,” tuding Novel.

Check Also

Ketum PPP Sebut Puisi Neno Warisman Bentuk Intoleran

JAKARTA, Waspada.co.id – Acara Munajat 212 di Monas mendapat sorotan lantaran dinilai disusupi agenda politik ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.