Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Anggapan Petani Miskin, Ganjalan Swasembada Pangan
Istimewa

Anggapan Petani Miskin, Ganjalan Swasembada Pangan

JAKARTA, WOL – Indonesia sedang menggalakkan swasembada pangan. Namun, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah untuk mewujudkan impian tersebut.

Wakil Ketua Komisi IV Herman Khaeron men‎ilai, salah satu tugas besar yang harus diselesaikan pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan yaitu regenerasi petani.

Sebab, anak muda masa kini cenderung enggan menjadi petani. Sementara, usia rata-rata petani saat ini 50-an tahun.

Politikus Demokrat itu menilai, pada masyarakat khususnya kalangan anak muda timbul persepsi bahwa menjadi petani tidak akan sejahtera.

“Muncul anggapan, sampai kapan pun petani miskin. Kalau petani miskin, tidak ada minat (menjadi petani), (regenerasi) terhenti,” kata Herman, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (26/5/2016).

‎Jika pemerintah tak dapat mengatasi persoalan regenerasi petani, maka harapan mencapai swasembada pangan akan sulit terwujud.

Herman memberikan saran, hal pertama yang harus dilakukan oleh pemerintah yaitu membuat pemetaan permasalahan yang dihadapi dan penanganannya.

Pemetaan tersebut akan sangat membantu pemerintah, sehingga rencana yang telah disusun akan berjalan sesuai harapan.

‎”Kita rumuskan kembali, bagaimana roadmap (pemetaan) strategi Kementan (Kementerian Pertanian) dalam menyusun tahapan-tahapan sehingga apa yang menjadi harapan pertanian, yang menjadi tujuan negara, bisa sinkron,” kata Herman.

Data yang dikutip Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan, jumlah petani terus menurun dalam 10 tahun terakhir. Data statistik menunjukkan, dalam kurun 2003-2013 terjadi penurunan jumlah rumah tangga petani sekitar 5,10 juta  (16 persen).

Rumah tangga petani di Indonesia pada 2003 berjumlah 31,23 juta dan menurun menjadi 26,14 juta pada 2013. Jumlah rumah tangga petani menurun karena yang keluar dari sektor pertanian, meninggal, dan berpindah kerja ke sektor lain lebih besar dibandingkan tenaga kerja baru yang menjadi petani.

Tiga provinsi yang memberikan sumbangan terbesar terhadap penurunan rumah tangga petani adalah Jawa Tengah (1,31 juta), Jawa Timur (1,14 juta), dan Jawa Barat (1,12 juta).

Pesatnya urbanisasi di ketiga provinsi itu diduga sebagai penyebab utama penurunan jumlah rumah tangga petani. Urbanisasi berakibat pada beralihnya sebagian lahan pertanian menjadi daerah permukiman dan fasilitas umum.

Angkatan kerja baru juga lebih memilih bekerja di sektor nir-pertanian karena merasa lebih menjanjikan dari sisi upah dan kelayakan kerja.(mtn/data1)

Check Also

Erry Minta KTNA Terus Berjuang Perkuat Sistem Ketahanan Pangan

MEDAN, WOL – Dalam tiga tahun terakhir ini pembangunan pertanian guna mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: