Home / Warta / Mancanegara / Amerika & Inggris Kutuk Vonis Penjara Dua Wartawan Reuters
Wartawan Reuters Wa Lone, tengah, berbicara kepada wartawan saat dia dikawal oleh polisi untuk meninggalkan pengadilan di Yangon, Myanmar (Reuters)

Amerika & Inggris Kutuk Vonis Penjara Dua Wartawan Reuters

NAYPYIDAW, Waspada.co.id – Amerika Serikat (AS) mengutuk vonis terhadap dua wartawan Reuters di Myanmar dengan hukuman tujuh tahun penjara karena melanggar undang-undang kerahasiaan negara. AS menyebut vonis tersebut sangat mengganggu dan kemunduran besar dalam upaya negara-negara Asia Tenggara untuk mempromosikan reformasi demokrasi.

Wartawan Wa Lone dan Kyaw Soe Oo ditangkap Desember lalu setelah bertemu dengan dua petugas polisi di sebuah restoran di Yangon dan diberi setumpuk dokumen. Mereka dituduh melanggar Undang-Undang Rahasia Negara, yang diberlakukan pada tahun 1923, ketika Myanmar disebut Burma dan berada di bawah kekuasaan kolonial Inggris. Kedua pria membantah telah meminta dokumen tersebut.

“Kecacatan yang jelas dalam kasus terhadap wartawan menimbulkan kekhawatiran serius tentang aturan hukum dan independensi peradilan di Myanmar,” kata Kedutaan Besar AS di Myanmar seperti dikutip dari VOA, Selasa (4/9).

baca: Dua Wartawan Peliput Rohingya Divonis Tujuh Tahun Penjara

Duta Besar AS Scot Marciel mengatakan kepada VOA putusan itu menyedihkan bagi para wartawan dan keluarga mereka.

“Sungguh menyedihkan bagi orang-orang yang bekerja keras di sini untuk mempromosikan kebebasan media. Saya pikir seseorang harus bertanya apakah proses ini akan menambah atau mengurangi kepercayaan masyarakat Myanmar terhadap sistem peradilan yang mereka miliki,” ujarnya.

“Bagaimanapun, vonis ini ditujukan kepada masyarakat Myanmar untuk benar-benar menilainya,” imbuhnya.

Sementara, Inggris mendesak pembebasan segera dua jurnalis Reuters yang dipenjara di Myanmar karena melaporkan krisis Rohingnya. Menurut Pemerintah Inggris, vonis pengadilan pada dua jurnalis Reuters itu merusak kebebasan pers di Myanmar.

baca: TPF PBB: Militer Myanmar Bantai Rohingya

“Seperti duta besar kami untuk Burma (Myanmar) yang menghadiri proses pengadilan telah mengatakan, kami sangat kecewa dengan keputusan dan vonis hukuman itu,” tegas Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May, dikutip Reuters. May menambahkan, “Dan, kami menyerukan untuk para jurnalis itu dibebaskan segera.

Di demokrasi mana pun, para jurnalis harus bebas melakukan pekerjaan mereka tanpa takut atau intimidasi. Vonis ini merusak kebebasan media di Myanmar. ”Hakim Ye Lwin di pengadilan distrik utara Yangon menyatakan, Wa Lone, 32, dan Kyaw Soe Oo, 28, melanggar Undang-Undang Rahasia Negara saat mereka mengumpulkan dan memperoleh berbagai dokumen rahasia.

“Para terdakwa telah melanggar Undang-Undang Rahasia Negara Pasal 3.1.c dan dihukum tujuh tahun,” kata hakim yang menyatakan masa tahanan keduanya sejak 12 Desember akan dihitung sebagai bagian dari hukuman itu. Pengacara dua jurnalis itu dapat mengajukan banding di pengadilan regional dan ke Mahkamah Agung (MA).

baca: Kekerasan Terhadap Rohingya Dikhawatirkan Terus Berlanjut di Myanmar

Vonis itu dibacakan di tengah meningkatnya tekanan pada pemerintahan Myanmar yang dipimpin peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi terkait kekerasan yang dialami muslim Rohingnya oleh aparat keamanan di Rakhine. Lebih dari 700.000 Rohingnya lari ke Bangladesh sejak ope rasi militer Myanmar dilancarkan.

Dua jurnalis Reuters itu sedang melakukan investigasi atas kasus pembunuhan warga desa Rohingnya oleh aparat keamanan Myanmar. Keduanya ditahan dan menjalani proses pengadilan. Para aktivis kebebasan pers, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa (UE), dan negara-negara seperti Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Australia mendesak pembebasan dua jurnalis itu.

“Hari ini adalah hari sedih bagi Myanmar, jurnalis Reuters, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, dan pers di mana pun,” papar pemimpin redaksi Reuters Stephen J Adler dalam pernyataannya.

“Kami tidak akan menunggu saat Wa Lone dan Kyaw Soe Oo mengalami ketidakadilan ini dan akan mengevaluasi bagaimana menghadapi ini dalam beberapa hari mendatang, termasuk apakah meminta dukungan di forum internasional,” ungkap Adler. (wol/voa/sindo)

Check Also

Akankah Perang Dagang China-AS Segera Berakhir?

BEIJING,Waspada.co.id – China juga menyatakan keinginannya untuk segera mengakhiri ketegangan perang dagang dengan Amerika Serikat. Menteri ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: