Home / Warta / Mancanegara / Akademisi di China Usul Penerapan “Pajak” bagi Pasangan Tak Punya Anak
Foto: ilustrasi bayi berenang (shuttershock)

Akademisi di China Usul Penerapan “Pajak” bagi Pasangan Tak Punya Anak

BEIJING,Waspada.co.id – Menghadapi populasi yang menua di negaranya, dua akademisi di China mengusulkan ide kontroversial untuk mendorong tingkat kelahiran.

Dua profesor ekonomi Universitas Nanjing, Liu Zhibiao dan Zhang Ye menilai, negara harus menerapkan pajak yang disebut “dana bersalin” bagi keluarga yang tidak punya anak sama sekali atau memiliki kurang dari dua anak.

Dana itu akan menutupi biaya persalinan bagi orang lain yang berusia di bawah 40 tahun dan melahirkan anak kedua atau lebih. AFP mengabarkan, saran itu memicu perdebatan media sosial, di sebuah negara yang mewajibkan penduduk untuk memiliki satu anak.

Kebijakan tersebut mengendur pada 2016, sehingga memungkinkan pasangan mempunyai dua anak. Namun, negara dengan penduduk paling padat di dunia itu masih khawatir dengan populasi yang semakin tua.

Tenaga kerja yang menyusut dapat memperlambat perekonomian. Kendati aturan keluarga berencana sudah melunak, belum ada peningkatan jumlah kelahiran secara signifikan.

“Ketika keluarga memiliki dua anak atau lebih, mereka dapat mengajukan permohonan bantuan sebagai kompensasi atas hilangnya pendapatan dan untuk menopang keluarga selama masa bersalin,” tulis dua akademisi tersebut di surat kabar Xinhua.

Selain itu, mereka juga mengusulkan agar keluarga yang memilliki kurang dari dua anak dapat menarik uang mereka pada saat masa pensiun. Saran tersebut memicu kemarahan dan ejekan dari warganet di media sosial Weibo.

“Jika pemerintah ingin mendorong kelahiran, mengapa tidak membuat inseminasi buatan agar kita bisa punya kembar lima, atau mengesahkan poligami,” tulis seseorang pengguna Weibo.

Seperti diketahui, China menerapkan kebijakan satu anak pada akhir 1970-an untuk membatasi pertumbuhan jumlah penduduk. Mereka yang punya banyak anak harus membayar denda tak sedikit, dan beberapa perempuan bahkan dipaksa menjalani aborsi.

Sejak kebijakan dilonggarkan, pasangan di China tidak ingin buru-buru memiliki banyak anak. Pada 2016, jumlah kelahiran bayi tercatat 17,9 juta dengan jumlah peningkatan 1,3 juta dibanding tahun sebelumnya. Sementara, jumlah kelahiran pada 2017 merosot menjadi 17,23 juta, jauh di bawah perkiraan resmi yaitu lebih dari 20 juta. (wol, kcm/data1)

Check Also

China Jadi Penyebab AS Tarik Diri dari Perjanjian Nuklir

WASHINGTON,Waspada.co.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut bahwa penarikan diri dari perjanjian nuklir ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: