Home / Warta / Mancanegara / Abbas Ancam Tinjau Kesepakatan Damai dengan Israel
Presiden Palestina Mahmoud Abbas. (AFP Photo/Abbas Momani)

Abbas Ancam Tinjau Kesepakatan Damai dengan Israel

RAMALLAH, Waspada.co.id – Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengancam akan meninjau kembali seluruh perjanjian damai yang pernah disepakati dengan Israel jika Tel Aviv terus melanggar aturan internasional.

Peringatan itu Abbas lontarkan dalam pidatonya menutup tiga hari pertemuan Dewan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Ramallah, Sabtu (18/8).

“Israel telah melanggar seluruh perjanjian yang telah ditandatangani, mulai dari Perjanjian Oslo yang diteken oleh PLO pada 1993 hingga Traktat Ekonomi Paris pada 1994,” kata Abbas.

Perjanjian Oslo diteken Presiden Palestina Yasser Arafat dan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin pada 1993 di Washington DC dan pada 1995 di Mesir.

Poin penting dalam perjanjian itu salah satunya adalah pengakuan PLO terhadap negara Israel dan sebaliknya, pengakuan pemerintah Israel terhadap PLO sebagai perwakilan rakyat Palestina dan mitra negosiasi.

Selain itu, perjanjian Oslo juga membahas peta jalan menuju perdamaian Israel-Palestina.

Namun, selama ini Palestina merasa Israel tak pernah mengindahkan kesepakatan tersebut dengan berbagai kebijakannya termasuk perluasan pendudukan ilegal di tanah Palestina.

Dalam pidatonya, Abbas menuding pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu “terus memperluas pendudukan dan mengancam akan memotong tunjangan bagi keluarga Palestina yang tewas atau ditahan di Israel.”

Dia juga mengecam keputusan parlemen Israel mengesahkan Undang-Undang Negara Yahudi yang dianggap mendiskriminasi warga Palestina dan keturunan Arab di wilayah itu.

Presiden berusia 84 tahun itu juga menolak perjanjian damai yang diusulkan Amerika Serikat yang selama ini disebut Presiden Donald Trump sebagai “Kesepakatan Abad Ini” dalam penyelesaian Israel dan Palestina.

“Palestina tidak akan bernegosiasi dengan Washington dan tidak akan menerima Amerika sebagai sponsor perdamaian sebelum mereka menyesali keputusannya terkait dengan Yerusalem, pengungsi, dan pendudukan (Israel),” ucap Abbas seperti dikutip Xinhua.

Pernyataan Abbas itu merujuk pada keputusan kontroversial Trump pada Desember 2017 yang memutuskan mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Padahal, kota suci bagi umat tiga agama itu telah lama menjadi sumber konflik Israel-Palestina, di mana kedua pihak sama-sama mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota masa depan mereka.

Sejak itu, relasi Palestina-AS berangsur memburuk. Palestina bahkan memboikot hubungan dengan Amerika terutama setelah Trump berkeras membuka kedutaan besarnya untuk Israel di Yerusalem pada 14 Mei lalu. (wol/cnn/data2)

Check Also

AS Potong Lagi Bantuan Bagi Palestina di Gaza dan Tepi Barat

WASHINGTON, Waspada.co.id – AS kembali memotong bantuan bagi Palestina yang digunakan untuk program-program mendukung upaya mengakhiri ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: